Gempa Bumi di Selatan Banten, Kawasan Wisata Pantai dan Gua Yang Banyak Dikunjungi Wisatawan

0
1892
Pantai Bayah, Banten Selatan ( foto; gudangwisata.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Gempa bumi terjadi di Selatan Banten, Sabtu ( 28/11) pukul 21.47.19 WIB. Wilayah Banten dan sebagian besar Jawa Barat ini diguncang gempa bumi tektonik dengan kekuatan M 5,6 ungkap Dr. Daryono, S.Si.,M.Si. Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG.

Pusat gempa bumi ini terletak pada koordinat 7.32 LS – 105.81 BT, tepatnya di Samudera Hindia pada jarak 77 kilometer arah tenggara Pandeglang-Banten, pada kedalaman hiposenter 75 kilometer.

Guncangan gempa bumi ini dirasakan di Pelabuhan Ratu pada skala intensitas III MMI, Bandung II-III MMI dan Jakarta II MMI. Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa sebagai dampak gempa bumi.

Gempa bumi yang terjadi merupakan gempa bumi hiposenter menengah akibat aktivitas subduksi/penyusupan lempeng di Lajur Benioff bagian atas. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh patahan naik (thrust fault).

“Namun demikian, meskipun gempa bumi dipicu oleh patahan naik, tetapi karena kekuatannya relatif kecil dengan kedalaman menengah, maka gempabumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, sehingga masyarakat dihimbau untuk tetap tenang.” Kata Daryono.

Wilayah Selatan Banten selama in di kenal sebagai tujuan wisata karena memiliki pantai-pantai yang indah seperti Anyer dan Carita. Pantai lainnya di Banten Selatan yang masih sangat alami dan tentunya masih sangat indah karena belum terlalu banyak dikunjungi adalah Pantai Sawarna, Pantai Pulo Manuk, dan Pantai Karang Taraje di Bayah yang terkenal dengan keindahan dan kealamiannya.

Masih ada Pantai Bagedur, Pantai Pasir Putih (Pasput) di Malingping, atau Pantai Binuangeun dan pantai-pantai lain di sepanjang Jalan Bayah-Malingping. Obyek wisata lainnya adalah Goa, pasar ikan, dan gugusan karang besar menjadi daya tarik wisatawan.

Goa-goa seperti Lalay, Langir, dan Seribu Candi yang tersebar di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Lebak, membuat wisatawan terpikat. Di Sawarna pula, Karang Taraje yang menyerupai benteng penahan gelombang menarik wisatawan menuju tempat itu saat matahari terbenam.

Daya tarik wisata lainnya di Banten Selatan adalah pasar ikan di Kecamatan Sumur, Padenglang, serta sentra ikan asin dan Tempat Pelelangan Ikan Binuangeun di Desa Muara, Kecamatan Wanasalam, Lebak, marak didatangi wisatawan saat akhir pekan.

Potensi gempa bumi ini Oktober lalu juga sudah diprediksi oleh Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan pesisir pantai Selatan Provinsi Banten masuk dalam kategori wilayah berpotensi gempa dan tsunami.
“Gelombang tsunami itu mulai dari pesisir Aceh, Padang Sumatera Selatan, Selat Sunda hingga pesisir selatan Pulau Jawa,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Jakarta Muhammad Riyadi saat acara “Workshop UPT BMKG dan BPBD” dalam memahami rantai peringatan dini tsunami di Pandeglang, Oktober lalu seperti dikutip Antara.

Potensi gempa dan gelombang tsunami pantai Selatan Banten tersebut karena letaknya berada di wilayah pertemuan (tumbukan) lempengan Samudera Hindia Australia-Benua Asia. Wilayah lempengan itu di antaranya pesisir Aceh, Padang, Sumatera Selatan, Selat Sunda dan selatan Pulau Jawa.

Untuk itu, pesisir selatan Provinsi Banten berpotensi gempa dan tusnami mulai pesisir pantai Merak, Cigading, Anyer, Carita, Panimbang, Sumur, Binuangeun, Malingping, Bayah hingga perbatasan dengan Sukabumi.  “Kami minta warga pesisir selatan Banten tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa dan tsunami untuk meminimalisasi korban jiwa,” katanya menjelaskan.

Menurut dia, sejauh ini ilmu pengetahuan teknologi juga peralatan secanggih apapun belum mampu mendeteksi secara persis waktu terjadinya gempa dan tsunami. Karena itu, pihaknya berharap peringatan dini gempa dan tsunami harus secepatnya dilakukan sehingga masyarakat pesisir pantai selatan Banten bisa terselamatkan dari bencana tsunami tersebut.

Penyelamatan membutuhkan waktu selama 10 menit setelah terjadi gempa, sehingga korban tidak berjatuhan. “Kita prihatin gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004 lalu menewaskan ratusan ribu orang, perumahan, jalan dan jembatan serta kerugian Rp45 triliun akibat ketidaktahuan pemahaman masyarakat terhadap bencana tsunami itu,” katanya.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Kaprawi mengatakan saat ini di daerahnya yang masuk potensi gempa dan tsunami di enam kecamatan  antara lain adalah Kecamatan Malingping, Wanasalam, Cihara, Panggarangan, Bayah, dan Cilograng. ( [email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.