Garuda Kaji Terbitkan Global Bond 500 Juta US$

0
801

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: PT GARUDA INDONESIA Tbk (GIAA) kembali mengkaji penerbitan obligasi global (global bond) minimal US$ 500 juta tahun 2016. Dana hasil emisi surat utang, rencananya digunakan kembali untuk melunasi utang dan mendanai ekspansi usaha.

Garuda Indonesia akan mendatangkan total 24 pesawat baru secara bertahap hingga 2017 dengan nilai investasi US$ 1,85 miliar. “Kami mengkaji kembali untuk menerbitkan global bond tahun depan. Sampai saat ini nilai pastinya masih belum ditetapkan. Namun, misalnya nanti terealisasi, minimal nilai penerbitannya US$ 500 juta,” ucap Direktur Keuangan Risiko dan Teknologi Informasi Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, kemarin.

Ashara mengaku optimistis perseroan dapat mencapai kinerja positif hingga tahun depan. “Setelah penerbitan sukuk global, ekuitas bertambah, loan juga bertambah. Tahun depan ada utang jatuh tempo. Ekspansi terus berjalan. Kami masih hitung kebutuhan dana eksternalnya berapa,” ujar Askhara.

Namun, ia meyakini kinerja perseroan pada semester II/2015 tidak akan tertekan lagi oleh beban utang valas. Pasalnya, perseroan sudah melakukan pelunasan bridging loan senilai US$ 500 juta dalam rangka penerbitan sukuk global.

Bridging loan tersebut berasal dari National Bank of Abu Dhabi dan Dubai Islamic Bank serta PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII). Dengan demikian, perseroan dapat lebih fokus melanjutkan program efisiensi untuk meningkatkan kinerja sepanjang 2015.

Selain itu, manajemen telah melakukan efisiensi US$ 62 juta sampai Juni 2015. Efisiensi tersebut berasal dari berbagai komponen operasional, termasuk bahan bakar avtur. Sampai akhir 2015, perseroan memprediksi efisiensi sepanjang tahun mampu mencapai US$ 212 juta.

Sejak awal tahun, Garuda Indonesia berencana menata ulang profil atau reprofiling utang perseroan senilai US$ 980 juta selama 2015-2016.

Terkait rencana ekspansi, Garuda akan membeli 24 pesawat baru hingga 2017 yang terdiri atas 11 Airbus A-330, sembilan pesawat ATR, tiga pesawat 777-300, dan satu 737-MAX. Dari jumlah tersebut, perseroan akan mendatangkan 15 pesawat baru yang telah dipesan sebelumnya pada 2015.

Pesawat baru tersebut akan didatangkan mulai Juni 2015 sampai Desember 2017. Sebanyak 80 persen sumber pendanaan pengadaan pesawat baru berasal dari operating lease, sedangkan 20 persen berasal dari financial lease.

“Porsi pendanaan tersebut bisa berubah dalam periode tiga tahun itu karena akan tergantung kondisi pasar dan internal perseroan,” tutur Askhara seperti dikutip laman sinarharapan.co.

Komitmen pengadaan pesawat baru ini di luar dari rencana pengadaan pesawat yang sebelumnya disepakati Garuda bersama Boeing Co dan Airbus Group SEA di perhelatan Paris Airshow, Le Bourguet, Paris pada Juni.

Garuda menandatangani kesepakatan awal untuk pengadaan 30 pesawat jenis 787-900 Dreamliners serta 30 pesawat jenis 737 MAX 8. Nilai kesepakatan pengadaan pesawat tersebut mencapai US$ 20 miliar.

Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo mengatakan, perseroan masih menghitung kebutuhan pengadaan pesawat dalam rentang waktu 10-12 tahun ke depan. Perseroan mempertimbangkan faktor teknologi yang diadopsi serta kemudahan dalam hal pendanaan. “Intinya, kami akan memilih best option,” ujarnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.