Gaet Wisatawan, Bantul Andalkan Desa Wisata

0
1768
wisatawan saksikan orang-orangan sawah di Desa Wisata Kebon Arum Bantul (Foto: gpswisataindonesia.blogspot.com)

BANTUL, test.test.bisniswisata.co.id: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengandalkan sejumlah desa wisata di wilayah setempat untuk menarik serta menggaet minat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

“Kalau kita mau menarik wisatawan mancanegara itu hanya di desa wisata, karena selama ini tamunya rata-rata dari luar negeri, sehingga pengembangan desa wisata juga menjadi prioritas,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul, Bambang Legowo di Bantul, Sabtu (26/3/2016).

Bantul terdapat 75 desa. Sampai kini sudah ada 36 desa wisata yang terbentuk sesuai potensi dan keunggulan daya tarik masing-masing. Desa wisata itu dibagi menjadi tiga kategori: desa wisata embrio, desa wisata berkembang, dan desa wisata mandiri.

Dari semua desa wisata itu, hanya beberapa desa wisata yang sudah mandiri dan sering menerima tamu asing atau wisman, di antaranya Desa Kebonagung dan Desa Wisata Wukirsari, Imogiri, Desa Wisata Tembi Sewon, serta Desa Wisata Krebet, Pajangan yang terkenal dengan sentra batik kayu.

“Kami juga membantu promosi desa wisata, sehingga harapannya dalam hal tujuan wisata tidak hanya pilihan kedua, tetapi pilihan pertama, karena mereka bisa menikmati hidup lebih nyaman di desa, ini cocok bagi wisatawan yang ingin mencari ketenangan,” paparnya seperti diunduh laman Antara.

Bambang berharap para pengelola desa wisata atau kelompok sadar wisata (pokdarwis) dapat meningkatkan kualitas pelayanan terhadap wisman dengan menyediakan homestay atau tempat menginap yang representatif serta fasilitas dan sarana penunjang pariwisata yang memadai.

“Sedangkan untuk meningkatkan kapasitas pokdarwis, kita menggandeng perguruan tinggi untuk mengadakan pelatihan-pelatihan serta menyelaraskan pemahaman pengembangan desa wisata. Kita juga mengajak tokoh-tokoh masyarakat wisata untuk diskusi,” katanya.

Seluruh desa wisata tersebut tidak terdapat tempat pemungutan retribusi untuk mengetahui data valid tingkat kunjungan. Namun, hal itu bisa dilihat dari catatan pengurus desa wisata, mengingat tamu mayoritas berkunjung secara rombongan.

“Kita akan coba data kunjungan wisatawan ke desa-desa wisata, termasuk daya tampung homestay dan jumlah pengurus. Karena itu nanti berhubungan dengan program pengembangan maupun publikasi. Ini sudah kita mulai tahun kemarin,” katanya. (*/a)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.