Frans Budi Pranata: Tekhnologi Mobile Apps Makin Dibutuhkan Untuk Jaring Kunjungan Wisatawan

0
1023
Wisatawan Indonesia berpose di Nami Island yang menjadi lokasi drama film seri Winter Soneta yang digemari di Indonesia saat berwisata ke Korea Selatan. ( foto; Hilda Sabri Sulistyo)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Promosi wisata melalui tekhnologi smartphone dengan mobile Apps makin  dibutuhkan sehingga masyarakat Indonesia maupun wisatawan mancanegara bisa memperoleh informasi mengenai destinasi wisata di tanah air secara langsung dalam genggaman tangan.

“Promosi melalui mobile Apps itu bisa memenuhi kebutuhan seorang wisatawan yang datang ke suatu daerah karena kalau ada informasi sejumlah destinasi dari 34 provinsi di tanah air yang aplikasinya bisa di download dalam smartphone maka cara berpromosi seperti ini yang saya harapkan bisa segera terwujud pula dari pemerintah ( Kementrian Pariwisata),” kata Frans Budi Pranata, CFO Zalora Indonesia.

Sebagai penggemar traveling dan kerap melakukan perjalanan baik di dalam maupun luar negri, Frans mengatakan bahwa promosi melalui TV lokal yang dilakukan badan promosi pariwisata luar negri sangat ampuh dalam menjaring wisatawan Indonesia berwisata ke negara-negara tetangga mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, Australia dan Korea. Bukan hanya TV mereka juga memanfaatkan tekhnologi digital untuk menjaring wisman.

“Saya pergi ke Korea dengan harga paket tour seharga Rp 7,5 juta tapi 20 orang dalam grup saya itu belanja rata-rata mengeluarkan Rp 25-30 juta per orang. Turis Indonesia terkenal untuk pengeluaran belanjanya. Di saat krisis yang sudah mulai terasa dengan PHK dimana-mana, saya rasa wisata dalam negri memang yang harus digalakkan supaya uang dibelanjakan di dalam negri dulu,” ujarnya pekan lalu dalam suatu diskusi wisata.

Dua tahun terakhir semakin banyak wisatawan menggunakan aplikasi mobile (piranti bergerak) dalam merencanakan perjalanan wisata mereka. Wisatawan menggunakan aplikasi mobile untuk mencari tips dan saran selama perjalanan, petunjuk arah, pemesanan tiket dan penterjemah bahasa. Oleh karena itu Kementrian Pariwisata juga perlu memanfaatkan tekhnologi ini untuk promosi wisata karena selama ini ada gap informasi mengenai pariwisata Indonesia.

Frand Budi Pranata ( kiri), Nico Siahaan, Anggota Komisi X DPR-RI dan Michael Yo, coach remaja usai diskusi wisata pekan lalu. ( foto HSS)
Frand Budi Pranata ( kiri), Nico Siahaan, Anggota Komisi X DPR-RI dan Michael Yo, coach remaja usai diskusi wisata pekan lalu. ( foto HSS)

Sementara dinegara-negara tetangga itu saat berwisata wisatawan bisa memanfaatkan mobile Apps bagi pecinta kuliner misalnya sehingga wisatawan tidak perlu pusing lagi cari jajanan khas setempat karena sudah ada info lengkap tentang menu, lokasi, serta penjelasan tentang menunya bahkan lengkap dengan GPS yang membantu untuk guide sampai ke lokasi termasuk info transportasi menuju ke sana.

Frans yakin dengan meningkatnya masyarakat kelas menengah dan tingginya minat masyarakat untuk berwisata dan bersantai maka pemerintah harus memanfaatkan tekhnologi digital yang telah membuat negara ini menjadi mesin dalam pertumbuhan industri mobile dan smartphone .
Menurut dia, dengan jumlah masyarakat kelas menengah yang tinggi, kegiatan wisata akhir pekan atau liburan golongan papan atas ini juga bisa dilakukan di dalam negri melalui gempuran promosi dan informasi di mobile Apps tersebut berikut detail harganya.Sekarang, ujarnya, masyarakat Indonesia sudah mahir mengelola perjalanan wisatanya sendiri karena tersedianya situs-situs dan aplikasi untuk pesan tiket pesawat, hotel, kendaraan dan semua kebutuhan wisatanya. Berwisata secara mandiri sudah menjadi bagian dari gaya hidup kaum muda di Indonesia.

“Selama ini dalam hal wisata ada gap informasi  yang besar jadi kalau kebutuhan ini sudah bisa di dapat dalam genggaman smartphone saya yakin pergerakan wisatawan nusantara ini akan besar seperti yang terjadi di Amerika Serikat yang mengandalkan pergerakan domestik,” ungkap Frans.

Pihaknya berharap Kementrian Pariwisata dan para stakesholder pariwisata selain berpromosi melalui tekhnologi digital ini juga memperhatikan potensi repeater guest. Tekhnologi Apps diyakininya akan mendorong banyaknya wisatawan yang kembali berkunjung ke Indonesia karena kemudahan akses yang diterimanya.

Belajar dari Zalora Indonesia dimana pihaknya punya data base yang besar dan dimanfaatkan untuk promosi melalui email maupun semua media sosial yang ada hasilnya konsumen yang sama akan kembali menjadi pembeli. “Kemampuan Zalora mengelola digital marketing membuat penjualan naik 300% dalam tiga tahun saja. Hal yang sama juga akan berlaku bagi wisatawan kalau tidak ada gap dan mereka terus mendapatkan informasi mengenai Indonesia akan menjadi repeater guest,” tambah Frans.

Menghadapi situasi saat ini dimana perekonomian melemah bahkan negara menambah hutang LN baru maka pihaknya sepakat pariwisata harus menjadi penyelamat perekonomian. Kekuatan riset dan data base harus ditingkatkan sehingga pariwisata yang tahan banting dan terbukti ampuh mengatasi berbagai kasus bom Bali, Flu Burung, Tsunami dan bencana alam lainnya bisa tetap menjadi leading dan penyelamat, tandasnya. ( hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.