Franchised Hotel di Indonesia Jarang Dilirik

0
878

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pasar industri hotel di Indonesia masih didominasi model jasa manajemen daripada waralaba (franchised). Mengingat, ekosistem perekonomian dan payung hukum untuk usaha waralaba hotel belum mendukung. Akibatnya jasa manajemen hotel, terutama jaringan internasional menjadi pilihan utama bagi pemilik hotel.

“Saat ini, pasar masih mengarah ke jasa manajemen hotel. Saya rasa pelaku usaha hotel Indonesia masih harus menunggu untuk melakukan ekspansi jaringan melalui franchised,” kata Senior Director Savills Hotels Asia Pasific Nathalia J. Wilson di Jakarta, seperti dilansir laman Bisnis.com, Sabtu (25/2/2017).

Nathalia mengungkapkan bisnis franchised di industri perhotelan sebenarnya sudah lama dikenal di dunia sebagai salah satu model bisnis selain jasa manajemen. Khusus di Indonesia, Nathalia mengakui bahwa model bisnis waralaba membutuhkan profesional yang memiliki keahlian spesifik di sektor perhotelan.

Tak hanya itu, model bisnis waralaba juga memiliki tantangan bagi pemilik hotel agar mampu menjaga kualitas dan pencitraan brand hotel yang dibelinya. Sejumlah negara tetangga, misalnya di Malaysia, model bisnis semacam ini sudah memiliki pasar sendiri yang didukung oleh kepastian hukum dari sisi pemerintah.

Bahkan, dirinya mengatakan beberapa negara sudah mengadopsi model bisnis manchise yang merupakan gabungan dari franchised dan jasa menajemen.

Tak jauh berbeda, Vice President Development & Executive Dorector Indonesia AccorHotels Rio Kondo mengemukakan pihaknya belum mempertimbangkan untuk menggunakan model bisnis waralaba di Indonesia.

Dilanjutkan, sistem hukum di Indonesia belum memiliki perbedaan yang jelas antara pengelolaan hotel melalui bisnis waralaba atau jasa manajemen. “AccorHotel baru melakukan penandatanganan kontrak dengan pemilik hotel di Malaysia dengan model bisnis waralaba. Tapi di Indonesia, permintaan memang lebih banyak ke jasa manajemen,” tambahnya.

Meski praktek waralaba di industri perhotelan mulai marak di Indonesia, Rio mengaku belum tertarik untuk mengimplementasikannya dalam jangka waktu yang dekat. Namun, dirinya tidak menampik kemungkinan bahwa pihaknya akan mengubah rencana bisnis jika memang bisnis waralaba memiliki pasar signifikan dan kepastian dari sisi legalitas.

Jika dilihat dari sisi profit, Rio menjelaskan pengelolaan hotel melalui jasa manajemen dan waralaba memiliki karaketristik berbeda. “Sejauh ini perbedaannya tidak terlalu besar. Jika kami memberikan jasa pengelolaan hotel maka harga yang dipatok juga lebih tinggi daripada hanya menjual brand ke pemilik hotel,” tekannya. (*/BIO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.