FKA ESQ 165 Deklarasikan “Moh Limo”

0
1063

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: “Lagu Indonesia Raya” dan hymne
“Tujuh Budi Utama” berkumandang mengiringi acara Deklarasi Program “Moh Limo” yang menjadi perhatian khusus Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ 165.

Deklarasi yang dikemukakan sejalan dengan milad ESQ yang ke-15 ini dihadiri Menkopolhukam, KH Hasyim Muzadi, Walikota Bandung Ridwan Kamil, Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, dan beberapa tokoh lainnya.
Hadir pula perwakilan dari 28 koordinator wilayah ESQ dari seluruh Indonesia termasuk juga dari luar negeri, seperti Malaysia.

Deklarasi ini merupakan komitmen FKA ESQ 165 untuk berkontribusi pada bangsa dan negara terutama dalam membangun karakter generasi emas bangsa untuk Indonesia masa depan.

“Diharapkan dengan deklarasi ini dapat mengembalikan kondisi masyarakat Indonesia untuk berpaling lagi ke nilai-nilai luhur Pancasila yang dimulai dari diri sendirim keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja, dan meluas hingga lingkungan kota, provinsi, dan negara,” ujar Pakar Pembangunan Karakter, Founder ESQ 165, dan Ketua FKA, Ary Ginanjar Agustian dalam sambutannya pada acara Deklarasi Moh Limo di Jakarta, Sabtu (16/5/15).

Ary mengatakan, “Deklarasi ini bukan hanya milik orang Jawa tetapi milik kita semua, dan dapat menjawab masalah yang terjadi hari ini. Bukan hanya sekedar deklarasi tetapi nantinya akan dilanjutkan ke kampus dan sekolah-sekolah”.

Target dari Moh Limo yang merupakan falsafah dari Sunan Ampel ini menurut Ary untuk lima tahun.

Moh Limo (M 5) artinya menolak lima hal yang tidak baik dimana perbutan tersebut dapat merusak generasi bangsa, seperti pertama; Moh Madat (tidak mau menghisap candu, ganja, narkoba, dan lain-lain).

Kedua; Moh Ngombe (tidak mau minum-minuman keras). Ketiga; Moh Maling (tidak mau korupsi serta mencuri). Keempat; Moh Main (tidak mau berjudi), dan kelima; Moh Madon (tidak mau terlibat pergaulan bebas/berzina).

“Moh Ngombe, belum lama ini kita pernah mendengar minuman oplosan di Garut. Kami melakukan training di Garut untuk membersihkan hati. Moh Maling, meski ditangkap pelakunya namun tidak pernah selesai karena hatinya belum dibersihkan. Korupsi itu karena keinginan, dan keinginannya itu yang harus di stop (no way),” jelas Ary.

Sementara pada kesempatan yang sama Menkopolhukam, Tedjo Edhy Purdijatno yang secara resmi membuka deklarasi, mengatakan, “Untuk poin ke emmpat Moh Main, berbahaya dan harus ditambahkan anti tawuran dan anti radikalisme”.

Menurutnya di era sekarang ini tantangan semakin berat namun dengan Moh Limo tantangan dapat dihadapi Indonesia.

“Penyebab dari semua ini karena korupsi yang saat ini mewabah di Indonesia dimulai dari titik terendah hingga tingkat tinggi. Walau sudah diberantas namun tidak bisa seluruhnya tetapi sudah mengurangi,” ujar Tedjo yang telah bergabung di ESQ pada 2005.

Ia mengatakan, “ESQ mengajarkan apa yang kita rasakan dari dalam untuk melaksanakan tugas. Bila ada hal-hal yang dianggap negatif, lulusan ESQ tidak terpengaruh, yang penting bekerja. Sebanyak 1.4 juta orang telah diajarkan di ESQ, semoga terus dapat berkembang”.

Selesai acara deklarasi kegiatan dilanjutkan dengan Diskusi Moh Limo dengan enam nara sumber, Rakernas FKA ESQ se-Indonesia, dilanjutkan dengan Syukuran Milad ke-15. (evi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here