Festival Wayang Mesir, Indonesia Tampilkan Wayang Ajen

0
1648

BEKASI, test.test.bisniswisata.co.id: Indonesia mendapat kesempatan emas untuk tampil pada ajang “The International Festival Alexandria for Puppets 2014” di Alexandria, di Mesir 19-25 Oktober 2014. Wajang Ajen, kesenian daerah asal Bekasi ditunjukan menjadi delegasi Indonesia.

“Ini kesempatan berharga untuk menampilkan kesenian daerah Bekasi agar lebih dikenal dunia,” papar Wawan Gunawan, pimpinan rombongan Wayang Ajen, melalui siaran pers yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa (21/10/2014).

Selain Indonesia, festival Wayang Mesir ini juga diramaikan perwakilan dari 10 negara lain. Sepuluh negara lain yang berpartisipasi di festival ini antara lain Teatro de Munecos & Titirom Colombia, Finger and Thumb Show Inggris, Bajkamela Theatre Serbia, Teatro Los Claveles Spanyol, Irak, Mesir, Libanon, Yordania, dan Arab Saudi.

Wawan juga dalang, sutradara, sekaligus penulis skenario Wayang Ajen melanjutkan tampil di Mesir bakal menyajikan cerita dengan lakon “The Dead of Rahwana: Membasmi Angkara Murka”, yang memantaskan cerita ini berdurasi 60 menit, yang digelar pada 21 dan 22 Oktober 2014.

Penampilan Wayang Ajen Sufi menampilkan kisah-kisah yang sanggup menembus ruang dan waktu menuju peradaban dunia dengan spiritualitas Islam yang universal. “Kami pilih mementaskan lakon ini sebagai penjabaran dari tema festival, yakni mewujudkan persahabatan dunia melalui seni pertunjukan wayang,” katanya.

Menurut dia, kehadiran sejumlah peserta dari negara lain menjadikan penampilan Wayang Ajen sebagai sarana tepat untuk mempromosikan Indonesia. “Sebab kami mementaskan wayang dengan cara yang sangat khas Indonesia,” katanya.

Ajen berasal dari kata ngajenan yang dalam bahasa Sunda berarti menghargai atau memberi penghormatan. Pertunjukan seni Wayang ajen dibuat Wawan S. Gunawan dan Arthur S Nalan, mereke adalah mantan Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Bandung, tahun 1998.

Wayang ajen merupakan bentuk pengembangan wayang golek sebagai tradisi Sunda yang digabungkan dengan ide kreatif kaum muda. Dalam wayang ajen, tradisi golek Sunda tetap menjadi peran utama. Bentuk dan bahan pembuatannya sama dengan wayang golek kayu. Naskah yang diambil pun berpatokan dari Wiracarita Ramayana dan Mahabarata, namun mengikuti mengikuti perkembangan zaman. Sekarang ini, penyampaiannya sering kali dimeriahkan dengan format teater.

Wawan mengaku pertunjukkan wayang ajen memang tidak lazimnya wayang yang selama ini dikenal. “Ini adalah wayang teater-vokal. Di dalamnya muncul unsur humor, dakwah, pesan, seni tradisi, juga hiburan,” paparnya.

Baginya, fungsi wayang sebagai media untuk mengikat penonton dan menyampaikan pesan adalah yang utama. Penonton di sini bukanlah penonton yang itu-itu saja, alias yang dari dulu memang menggemari wayang. “Pertanyannya sekarang, bagaimana caranya membangun penonton baru?” ucapnya.

Untuk bisa mengikat atau memesona audiens baru, ungkap Wawan, wayang harus bisa bertransformasi. Terobosan dalam wayang ajen menjadi hal sangat penting. Pertunjukkan dengan memadukan unsur tari, teater, musik digital, hingga animasi multimedia melalui alat infocus pun menjadi kreasi yang menghidupi wayang jenis kontemporer ini.

Tidak ada pakem dan larangan dalam wayang ini, kecuali mati dalam berkreasi! Tidak main-main, Wawan yang kerap berkolaborasi dengan Arthur F. Nalan (sutradara) dan Dodong Kodir (ilustrator musik) pun mengusung misi besar : memikat generasi muda melalui wayang jenis ini.

“Sering saya bertanya ke anak-anak muda, mengapa Anda tidak suka wayang? Kenapa lari ke dugem dan hiburan lain? Dari dialog harmonis dengan kaum muda, ternyata mereka ini menganggap wayang yang ada sekarang bahasanya tidak mudah dimengerti, bertele-tele dan tidak menarik. Inilah yang mestinya diubah,” sambungnya.

Pernah suatu ketika, saat mencoba mengenalkan wayang dengan Orang Indonesia (OI-kelompok fans Iwan Fals) di kota tempat tinggalnya, Bekasi, awalnya ia dicemooh. Anggapan ini berbalik 180 derajat usai suatu ketika adegan puncak pertunjukkan ketika Adipati Karna berpamitan dengan Dewi Surtikanti -dalam lakon Karna Tanding.

Adegan ini diiringi back sound lagu bernada sedih : Hadapi Saja ala Iwan Fals. Cocok dengan nuansa adegan sedih dan klimaks saat itu. ” Luar biasa saat itu apreasiasi OI. Lapangan penuh oleh mereka,” kenangnya.

Terlepas dari kontroversi pengakuan apakah wayang ajen betul-betul tergolong wayang atau tidak, ternyata dunia luar, menilai wayang Ajen sangat diapresiasi. (marcapada@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.