Fashion on The Street Ramaikan ASEAN Traditional Textile Symposium ke 7

0
46

JOGJAKARTA, bisniswisata.co.id: Fashion On the Street  menjadi salah satu kegiatan penunjang the-7th ASEAN Traditional Textile Symposium dan Expo ke 7 yang berlangsung selama lima hari, 4-8 November 2019, menyajikan 18 Kertas Kerja dalam tema besar “Embracing Change, Honoring Traditions”.

Desainer Lia Mustafa mengatakan sedikitnya 15 desainer yang menjadi mitra kerjanya menyajikan Fashion on The Street bertempat di halaman Pendopo Royal Ambarrukmo, pada 7 November 2019 sebelum seluruh peserta simposium mengikuti tur menuju beberapa destinasi utama wisata, diantaranya ke Candi Borobudur. 

“Urutan pendukung fashion yang kami tampilkan adalah Senandung Semilir oleh Alfira mengenakan sepatu dari Naray. Di segmen ini menghadirkan pakaian ecofashion ready-to-wear berkonsep ethical fashion,” kata Lia Mustafa.

Secara keseluruhan outfit yang ditampilkan menggunakan kain tenun  tradisional Indonesia berbahan katun yang dipadukan dengan seni kriya tekstil yg ramah lingkungan yakni ecoprint. Motif dan warna yang dihasilkan berasal dari daun dan bunga yang ada disekitar dan tentunya menggunakan pewarnaan alam indonesia.

Aggraini Hermana, dessiner menyampaikan pesan bahwa anak muda milenial pun sangat modis dan trendy mengenakan wastra Indonesia yang dikemas dalam busana outfit of the day yang dikolaborasikan dengan aksesoris dari Derastitch.

Desain dibuat dari referensi tenun baduy dan dipadukan dengan kerajinan sulam kristik sehingga menghasilkan inovasi produk aksesoris yang lebih modis untuk segala kalangan khususnya milenial.

Selanjutnya desainer Inin Shilviana NH dengan label The Kilisuci mempersembahkan design simple namun unik dan berkarakter.  Dari bahan batik & tenun Lurik. Sedangkan Amalia Suntoro bersama Symply Amelie dan Daffa Silver tampilkan pakaian ready to wear.

“Amalia  menggunakan bahan wastra nusantara lurik, batik dan tenun tangan yang didesain Unik, Simple dan ringan  dengan ciri khas detail ‘scrappy patchwork’ sehinggga bisa menjangkau kalanganMustafa. muda,” kata Lia Mustafa.

Keindagan kain tenun lurik dan Maunere juga dibawakan oleh Aruna Creative dari desainer Yuliana Fitri. Begitu pula dengan tenun troso, lurik & patchwork batik dengan semangat sustainable fashion dari Essy Masita.

Fashion ready to wear dengan bahan lurik juga jadi andalan desainer Dina Rosaria yang mengkombinasikan karakter asimetris, casual dan berkarakter muda. Desainer  Dhyna Erdiana juga berkreasi dengan lurik untuk milenial seperti model parka dipadu dengan celana pendek selutut lebih dengan hoodie di bagian kepala beserta kantung yg ada dimana-mana. 

Batik cap bercorak  tradisional mix modern dengan model trendy mengesankan muda  dan sporty ditampilkan Nining Siewarto dengan Goo Ninks batik. Sedangkan Javanic Batik dari Anastasia Rita tampilkan koleksi Batik dengan warna-warna cerah  bermotif Klasik yaitu Parang & Kawung, yang dilukis gambar Tokoh Wayang.

“Desain yang ditampilkan kali ini  simpel dan kekinian. Bahan Batik cerah dipadukan dengan lurik cantik dan desain baju ini cocok digunakan oleh remaja sampai ibu-ibu yang ingin tampil gaya & kekinian.

Batik juga menjadi kekuatan bagi desainer Tari Made yang berkreasi adengan material batik tuli katun dan silky serat curpo japan / kain bemberg Indonesia dipadu  dengan katun Baron ATBM yang telah difiksasi berulang ulang.

Tjiptowarno dari Tithut Nugroho juga tampilkan batik dalam balutan baju casual menonjolkan syal dan tas batik dikombinasi dengan bahan lurik sedikit dengan model yang bisa dipergunakan oleh anak muda. Sedangkan desainer Evi Rosalina tampilkan batik Namburan dengan tema Vuga in Men. 

Bahan unik juga ditampilkan desainer Heppy Kurniasari dengan kain Shibori,  teknik pembuatan motif pada tekstil dengan cara mengikat, melipat, melilit, dan menjepit kain lalu dicelupkan ke dalam pewarna tekstil.

Berlabel Kaja Shibori, Heppy  mengaplikasikan motif-motif tersebut pada baju-baju casual yang cocok digunakan untuk mereka yang berjiwa muda. Sementara rekannya, Ninik Swatini jugabmenampilkan lukis shibori, kombinasi antara lukisan pewarna alam yg diisi motif dengan teknik shibori. 

“Dengan Syal ecoprint dengan keindahan warna warni aneka dedaunan, kayu, dan bahan-bahan kain yg dibuat dengan tenun gedhog paduan,” jelas Lia Mustafa.

Event ini, ujarnya, sukses meramaikan kegiatan pertemuan Masyarakat pertekstilan dari 10 negara anggota ASEAN yang rutin setiap dua tahun menggelar event ASEAN TTS dimana pada 2018 diselenggarakan di Brunei Darussalam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.