Fajar “Ngembak Geni, Nyakan di Rurunge”

0
837

SINGARAJA, test.test.bisniswisata.co.id,– TEPAT pukul 00.00 waktu Singaraja, Bali Utara, senyap Nyepi di Desa Munduk terkoyak suara kul-kul (kentongan) bertalu- talu. Sejumlah wisatawan yang baru pertama kali menikmati penyepian di Bali, terkejut dan bertanya- tanya. Sementara yang telah beberapa kali menikmati penyepian di desa Munduk segera mencari tempat mendekati tungku perapian. Ternyata, ada tradisi khusus di Munduk dalam mengakhiri brata penyepian dengan memasak di pinggir jalan seusai puasa 24 jam (pukul 00.00 usai pengerupukan, sampai pukul 00.00 tanggal 2 sasih Kedasa Tahun Saka 1938.

Wisatawan menikmati Nyepi dan ikut merasakan ''nyakan dirurunge''
Wisatawan menikmati Nyepi dan ikut merasakan ”nyakan dirurunge”

‘’Itu menjadi pertanda bahwa pe”Nyepi”an sudah berakhir. Lampu-lampu sudah boleh dinyalakan dan kegiatan memasak dipinggir jalan pun dimulai. Tradisi nyakan di rurunge (masak di pinggir jalan), menjadi refleksi berbagi kepedulian, kasih antar sesama di desa kami dan beberapa desa sekitarnya,’’ jelas Bendesa Adat Munduk Jro Putu Ardana.
Jalanan pun menjadi ramai oleh hilir mudik warga, dengan berjalan kaki dari rumah ke rumah, mengucap salam, saling memaafkan. Mereka  mampir dimana pun mereka suka sembari mencicipi makanan dan minuman yang tersedia. Makanan dan minuman disiapkan dengan mengolah langsung diatas perapian sederhana. Jika dimasa lampau menggunakan tungku dari bata merah, sekarang mengguna anglo atau kompor modern.

Bendesa pun turun tangan mengolah kudapan di pinggir jalan
Bendesa pun turun tangan mengolah kudapan di pinggir jalan

Yang pasti kudapannya fresh dari atas tungku/kompor. Bisa sekedar kopi dan kudapan, bisa juga makan besar. Tentu saja diiringi canda dan gurau khas kampung. Pagi dingin dan mentari pun belum muncul dari peraduannya. Meski dalam suasana gelap, jalanan desa Munduk ramai oleh kerumunan warga, semarak canda tawa dan lalu lalang anak-anak yang sibuk saling goda sembari bermain mercon.
Dalam situasi dunia yang bergerak begitu cepat, tutur Jro Bendesa Munduk, selayaknya kita sepakat untuk berhenti total selama sehari pada saat tahun baru (Nyepi) dan setelah itu kita kuatkan lagi “penyama brayan” atau tali silaturahmi dengan saudara-saudara sekampung melalui tradisi memasak dipinggir jalan, saling kunjung, saling icip dan saling canda. Selamat tahun baru Caka 1938. Salam dari desa Munduk. (dwi/pta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.