Enterpreuner Makin Diminati Jebolan Teknik Fisika

0
1272

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Dunia enterpreuner semakin diminati lulusan Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Mengingat peluang usaha di dunia enterpreuner sangat menjanjikan ketimbang menjadi pegawai maupun karyawan.

“Perubahan mindset ini terjadi dalam lima tahun terakhir. Ketika saya dan kawan-kawan masih kuliah pada masa angkatan 88 mindsetnya selalu setelah lulus kuliah jadi pegawai negeri, karyawan. Namun kini mahasiswa Teknik Fisika banyak jadi enterpreuner. Ini langkah yang bagus,” papar Oesep Ary Loekito, alumni Teknik Fisika ITS yang kini barkarier di Maskapai Garuda Indonesia.

Loekito mengakui perkembangan dunia enterpreuner di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat. Sehingga menjadi pilihan bagi lulusan teknik Fisika. Memang, jurusan studi ini kurang sangar populer dibandingkan dengan jurusan lainnya.

“Bukan berarti lulusan teknik fisika sangat jelek, banyak alumni yang kerja di perusahaan besar dengan jabatan top manager, dan banyak juga di sektor pemerintahan. Lulusan yang tertarik di dunia entreprenuer karena income yang didapat lebih bagus ketimbang menjadi karyawan,” tandasnya.

M. Tobii juga alumni Teknik Fisika ITS membenarkan tren banyak mahasiwa teknik fisika ITS yang terjun di enterpreuner atau wirausaha, apalagai setelah lulus kuliah. “Ada mahasiswa yang omsetnya mencapai Rp 300 juta sebulan setelah menggeluti usahanya. Coba bayangkan. Ini menandakan dunia enterpreuner itu sangat menjanjikan,” tukasnya.

Dilanjutkan enterprenuer yang banyak diminati bidang kulineri, juga usaha lainnya. “Kami belum mendata berapa persen ketertarikan terjun ke wirausaha. Namun ini perubahan yang bagus karena dengan usaha sendiri akan tercipta kemandirian bahkan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat,” sambungnya.

Selama ini, tambah dia, bidang kerja teknik fisika juga meluas sampai pada bidang-bidang khusus seperti perubahan iklim, industri perangkat lunak, media, riset teknologi dan lain-lain. “Para alumni teknik fisika ITS juga memiliki kemampuan memahami konsep fisika, perkembagan teknologi, dan beradaptasi terhadap tantangan jaman,” ucapnya.

Para alumni Teknik Fisika ITS Surabaya kini memasuki usia emas atau 50 tahun. Menyambut momen tersebut, para alumni menggelar temu kangen baik di kampusnya di Surabaya, maupun di Jakarta. Tak sekadar berkumpul, para alumni senior bagi bagi ilmu kepada yuniornya. Juga menggelar serangkaian acara, diskusi, seminar juga pameran teknologi yang akan berlangsung pada 12-13 Oktober 2016.

Ketua Panitia Reuni Emas Jurusan Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Akbarul Syah Alam mengungkapkan, lulusan teknik fisika dinilai memiliki kemampuan untuk beradaptasi yang tinggi terhadap dunia kerja. Mereka tak harus bekerja dibidang teknik atau jenis pekerjaan yang berhubungan dengan sains.

“Banyak alumni jurusan fisika yang bekerja di bidang ekonomi, bisnis, keuangan, teknologi informasi, gas and oil, riset teknologi bahkan menjadi wirausahawan,” ujar Akbar di Jakarta, belum lama ini.

Daya adaptasi yang tinggi tersebut menurut Akbar membuat alumni teknik fisika mampu menjawab kebutuhan nasional maupun internasional terhadap sumberdaya manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam bidang teknologi, sekaligus fleksibel dalam berbagai bidang pekerjaan.

Fleksibilitas tersebut dimiliki lulusan teknik fisika antara lain karena setiap mahasiswa di Tehnik fisika dari semua program studi diajarkan untuk terlebih dahulu memahami seluruh konsep fisika secara mendalam. Juga keterhubungan antar berbagai macam konsep tersebut dengan keteknikan maupun dunia nyata yang multidisplin.

“Pemahaman konsep fisika terbukti memberikan seorang mahasiswa teknik fisika wawasan dan pemahaman yang lebih pada berbagai macam interaksi antar teknologi dan penerapannya maupun keterkaitannya pada bidang non teknis,’” ujar dia.

Dijelaskan, mahasiswa teknik fisika ITS mmebuat mobil listrik Sapu Angin yang pernah pemenang enam kali Shell Eco-Marathon Asia. Sayangnya bulan lalu gagal juara lantaran terkena teror musibah kebakaran yang menggagalkan hasil uji coba lintasan pada saat menjelang pelaksanaan arena balap Driver`s World Championship di London.

Juga kini melakukan penelitian dan pengembangan bahan bakar Avtur Biofuel terbuat dari jagung hasil kerjasama dengan kalangan akademisi dan pihak pemerintahan. “Ini sudah dicoba oleh beberapa pesawat terbang, namun belum dikomersilkan dan belum berjadwal terbang secara reguler. Problemnya juga (maskapai penerbangan) Garuda Indonesia masih memakai ongkos produksi sendiri,” ungkapnya.

Dibandingkan penggunaan kelapa sawit untuk campuran bahan bakar Avtur Biofuel, pilihan atas jagung dikatakannya terbilang aman dari isu kerusakan lingkungan, akan tetapi pengadaannya masih berkendala oleh mayoritas jagung impor ketimbang produksi jagung nasional, tambahnya. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.