Ellen Rahmawati: Diperlukan Sinergi untuk Wujudkan Akses Air Bersih di Lombok Timur

0
862
Ellena Rahmawati

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Kerja sama seluruh pemangku kepentingan dalam hal ini pemerintah, masyarakat, LSM, dan sektor swasta merupakan kunci keberhasilan dalam pemenuhan target pemerintah untuk mencapai 100% akses air minum dan sanitasi pada 2019, atau universal access 2019.

“Sinergi para pihak dapat tercipta jika ada komitmen dan upaya bersama untuk mencapai universal access 2019,” ujar Ellena Rahmawati, aktivis lingkungan dan Direktur Eksekutif Yayasan Masyarakat Peduli Nusa Tenggara Barat (YMP-NTB) dalam acara Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2015 di Jakarta, Rabu (11/11/12).

KSAN merupakan ajang advokasi dua tahunan yang digagas Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) yang mendorong komitmen para pemangku kepentingan agar terus meningkatkan akses air minum dan sanitasi di Indonesia. Acara KSAN tahun ini bertema “Mencipta Masa Depan Sanitasi dan Air Minum” dan dirancang sebagai salah satu ujung tombak pencapaian universal access 2019.

Dalam acara KSAN 2015, Ellena yang menjadi pembicara pada sesi “Connecting The Dots, Upaya Menjembatani Para Pemangku Kepentingan” di “Knowledge Day” memaparkan mengenai kunci keberhasilan dalam menciptakan kemitraan multi pihak.

“Seluruh pihak harus memiliki memiliki tekad untuk melakukan perubahan agar menjadi lebih sejahtera,” ujar Ellena lebih lanjut.

Setelah itu, seluruh pihak menurutnya dapat melakukan mengumpulkan fakta dan membangun rencana aksi untuk diimplementasikan bersama. Seluruh pihak juga harus terus menerus menggaungkan isu ini untuk mendapatkan dukungan yang lebih luas.

“Pada saat ini, tengah dilakukan Program Peningkatan Akses Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan di dua desa, yaitu Desa Kembang Kerang Daya di Kecamatan Aikmel dan Desa Beriri Jarak di Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur,” jelasa Ellena yang saat itu bicara pada sesi “Connecting The Dots, Upaya Menjembatani Para Pemangku Kepentingan” di “Knowledge Day”.

Dalam paparannya mengenai kunci keberhasilan dalam menciptakan kemitraan multi pihak, Ellena mengatakan, “Program yang dimulai di bulan April 2015 ini merupakan wujud kerja sama antara AQUA Grup, YMP-NTB, Pemerintah Daerah dan didukung oleh Pokja AMPL Nasional”.

“AQUA Grup dan Pokja AMPL Nasional sejak awal menyasar Lombok Timur dan menggandeng kami untuk pengembangan program ini. Adapun lokasi dipilih karena kedua desa tersebut termasuk dalam peta rawan sanitasi dan air bersih, serta kondisi obyektif masyarakat yang memang membutuhkan sarana air bersih dan sanitasi”, ungkapnya.

Ellena menerangkan bahwa Pemerintah Daerah sebelumnya telah memprioritaskan kedua desa tersebut untuk mendapatkan pembangunan sarana air bersih dan sanitasi. “Namun karena cakupan wilayah yang membutuhkan sarana air bersih cukup luas, maka pembangunan belum dapat dilakukan. Oleh sebab itu, Pemerintah Daerah sangat mendukung program ini,” terangnya.

Selain dukungan pemerintah, partisipasi masyarakat mendorong keberhasilan program dan keberlanjutan manfaatnya. “Patut disyukuri, program ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat terutama warga Desa Kembang Kerang Daya dan Beriri Jarak. Mereka tidak hanya memberikan tenaga tapi juga dalam bentuk sumbangan warga untuk membangun sanitasi,” ujar Ellena.

Dalam kemitraan multi pihak ini, masyarakat juga berkomitmen untuk berswadaya membangun sarana air bersih, dengan mengeluarkan uang untuk membeli material dan bergotong royong memasang pipa lebih dari 35 km. Pemerintah Daerah pun tak mau ketinggalan, menyatakan kesanggupannya menyediakan sambungan rumah bagi lebih dari 3.500 keluarga.
AQUA Grup bersama-sama dengan YMP-NTB berperan memfasilitasi seluruh proses pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas serta penyediaan material non-lokal dan pipa air bersih.
Riset Kesehatan Dasar 2013 yang dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan menempatkan NTB dalam posisi sebagai 5 provinsi dengan cakupan rumah tangga terendah dalam mengelola air sebelum diminum (33%), rumah tangga tertinggi yang tidak memiliki fasilitas BAB (29,3%), rumah tangga dengan pembuangan akhir tinja yang tidak aman –SPAL, Kolam/sawah, langsung ke sungai/danau/laut, lubang tanah atau ke pantai/kebun– (49,7%) dan rumah tangga dengan akses sanitasi tertendah (41.1%).

Kondisi tersebut, mengharuskan semua pihak untuk saling bahu membahu dan bekerja sama secara terencana dengan pendekatan yang tepat menyelesaikan permasalahan-permasalahan kesehatan lingkungan tersebut. AQUA Grup pun berharap agar program yang akan berakhir dalam 12 bulan kedepan, pada akhirnya berhasil memberikan manfaat dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang disasar. (evi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.