El Nino Bahayakan Terumbu Karang, Wisata Diving Terancam

0
1162
Terumbu karang rusak (foto: widyalarastkj.blogspot.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: KOLONI terumbu karang di tiga samudra dunia tengah terancam bahaya. Mengingat, suhu permukaan laut terus meningkat, El Nino pun mengancam, membuat warna-warni karang hidup ini memudar, sebelum akhirnya menjadi putih. Fenomena yang dikenal sebagai pemutihan karang ini sudah melanda koloni koral seluas hampir 12 ribu kilometer persegi di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia.

“Temperatur laut sudah demikian panasnya hingga karang-karang tak bisa lagi bertahan,” kata Richard Vevers, Direktur Eksekutif XL Catlin Seaview Survey, lembaga yang melakukan ekspedisi ilmiah dasar laut ini, seperti dilansir dari Live Science, 8 Oktober 2015.

Akhirnya, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pun mengumumkan kondisi ini sebagai darurat pemutihan terumbu karang. Ini merupakan kejadian global ketiga setelah 1998 dan 2010.

Mark Eakin, koordinator dari NOAA, memperkirakan fenomena ini terus bertambah parah ke depannya. Peningkatan suhu dasar laut bermula sejak 2014, terus meningkat hingga 2015. Dengan kondisi El Nino seperti ini, 2016 pun tak akan menjadi baik bagi terumbu karang. “Terutama di kawasan Samudra Hindia, tingkat stress thermal-nya jauh memburuk,” ucapnya.

Indonesia tak luput dari fenomena ini. Pemutihan karang memang pernah beberapa kali terjadi. Rizya Ardiwijaya, spesialis konservasi dari The Nature Conservacy (TNC), mengatakan fenomena ini memang biasa terjadi saat suhu permukaan laut melonjak melebihi rata-rata selama berminggu-minggu.

“Tekanan akibat suhu yang melonjak ini membuat karang melepaskan larva karang (zooxanthellae) yang bersimbiosis dengan mereka, untuk menghemat energi. Warna-warni koral itu berasal dari organisme ini,” katanya seperti diunduh laman Tempo, Kamis (15/10/2015).

Tak hanya memberi warna, zooxanthellae berfungsi untuk fotosintesis, dan menambah lapisan kapur cangkang karang. Tanpa organisme ini, karang tak lagi mendapat makanan yang dibutuhkan, hingga akhirnya mati.

Sejarah mencatat, pemutihan karang massal pertama terjadi saat El Nino dahsyat pada 1997–1998. Kejadian pertama ini sekaligus yang terparah. Saat itu, suhu permukaan laut sudah melebihi rata-rata suhu tertinggi selama enam minggu berturut-turut atau setara 6 Degree Heating Weeks (DHW). Padahal, daya tahan koral maksimal adalah 5 DHW. Akibatnya, sebanyak 16 persen gugusan terumbu karang dunia pun musnah.

“Di Karimun Jawa, ada spesies seriatopora (koral bercabang) yang benar-benar tak terlihat lagi setelah peristiwa itu,” kata dia. Saat itu, pemutihan karang terjadi di bagian timur Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok. Di Kepulauan Seribu, sekitar 90–95 persen terumbu karang hingga kedalaman 25 meter mengalami kematian.

Kerusakan terumbu karang ini, juga mengancam wisata diving mengingat penyelam enggan datang jika melihat kondisi terumbu karang yang kian tak enang dipandang. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.