DPR Pertanyakan Maskapai Lain Untung, Garuda malah Buntung

0
508
Garuda Indonesia teken MOU dengan Rolls-Royce (FOto; Kompas)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Ketua Komisi VI DPR Teguh Juwarno mengapresiasi langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan eks Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar sebagai tersangka korupsi. Penetapan lembaga antirasuah itu membuktikan selama ini Emirsyah melakukan tindakan yang membuat Garuda terus-menerus merugi.

“Kita mengapresiasi kinerja KPK membongkar skandal korupsi di semua sektor BUMN, termasuk Garuda. Ini sekaligus menguak tabir tanda tanya yang selama ini ada. Kenapa perusahaan penerbangan lain bisa untung, sementara Garuda buntung? Karena ternyata pada perusahaan pelat merah ini yang untung alias kenyang, eksekutifnya. Sementara BUMN-nya merana,” lontar Teguh di Jakarta, Senin (23/01/2017).

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) menambahkan komisinya mendorong agar KPK terus bergerak menyisir dugaan kasus korupsi yang terjadi di tiap perusahaan pelat merah. Sebab selama ini, BUMN sebagai perusahaan dilindungi dan disokong dana dari negara, justru kinerjanya kalah dari perusahaan swasta.

“Kami sangat mendorong KPK agar terus bergerak menelisik dugaan korupsi di BUMN-BUMN yang merugi, khususnya di BUMN yang di industrinya perusahaan swasta bisa untung. Jadi, ada benchmark yang jelas,” pungkasnya.

Dia pun berharap kasus yang dialami oleh mantan orang nomor satu di perusahaan industri penerbangan terbesar di Indonesia itu tidak mempengaruhi manajemen PT GI.

“Saya berharap tidak akan berimbas kepada kinerja korporasi. Manajeman PT GI yang ada sekarang harus bisa bekerja profesional dan membuktikan bahwa kinerjanya tidak terganggu dengan kasus korupsi yang menjadi sorotan dalam dan luar negeri, apalagi melebatkan perusahaan besar Rolls-Royce PLC,” paparnya.

Bahkan, sambung dia, mampu membuktikan bahwa Garuda Indonesia sebagai flight carrier kebanggaan Indonesia harus mampu terbang tinggi dengan efisien dan menguntungkan.

KPK menetapkan bekas Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Emirsyah Satar menjadi tersangka kasus dugaan korupsi terkait pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce PLC pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, saat dipimpinnya.

Terbongkarnya suap era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) setelah perusahaan raksasa Rolls-Royce oleh lembaga antikorupsi Inggris, Serious Fraud Office karena adanya dugaan konspirasi untuk tindak korupsi dan suap oleh Rolls Royce di Indonesia, Thailand, Tiongkok, India dan negara lain.

Pada perkara ini, terungkap staf senior Rolls Royce sepakat memberikan US$2,2 juta atau sekitar Rp26 miliar dan sebuah mobil Rolls Royce kepada pejabat di Indonesia sehubungan kontrak untuk mesin Trent 700 yang digunakan dalam pesawat terbang. April 2012, PT Garuda Indonesia telah memesan 11 unit pesawat berbadan lebar (widebody) jenis Airbus A330-300. Semua pesawat pesanan Garuda bermesin Rolls-Royce Trent 700.

Pejabat Rolls-Royce mengakui menyuap USD2,25 juta serta satu unit mobil mewah Rolls-Royce Silver Spirit kepada oknum tertentu untuk memuluskan kontrak penyediaan mesin Trent 700 untuk Garuda Indonesia. Perusahaan penyedia mesin itu menyatakan permintaan maaf dalam sidang di pengadilan London, Selasa 17 Januari waktu setempat.

“Kami Meminta maaf tanpa syarat untuk pelaksanaan yang telah ditemukan,” ujar perwakilan Rolls-Royce seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (19/1/2017).

Rolls-Royce juga kedapatan menyuap perusahaan saingannya untuk mengamankan kontrak tersebut. Fakta itu terkuak dari temuan Serious Fraud Office (SFO), Lembaga Antirasuah Inggris. Tak hanya di Indonesia, Rolls-Royce juga menyuap pejabat Thailand lebih dari USD36 juta untuk mengamankan kontrak dengan Thai Airways. Tindakan curang ini dilakukan antara 1991-2005.

Perusahaan besar ini juga menyuap dengan kasus nyaris mirip kepada pihak Tiongkok. Penyuapan dilakukan sekitar tahun 2003. Suap diberikan untuk memberi fasilitas mewah untuk karyawan China Eastern Airlines. Pengakuan Rolls-Royce terklarifikasi melalui penetapan mantan Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Emirsyah diduga terlibat kasus suap pengadaan 11 pesawat Airbus A330-300 oleh PT Garuda pada 2012.

Kontrak pembelian pesawat itu ditandatangani Emirsyah bersama Executive Vice President Programes Airbus, Tom Wiliam di Istana Negara RI. Penandatanganan disaksikan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Inggris David Cameron.

Sesuai program Quantum Leap Garuda, pembelian pesawat Airbus A330-300 ini sebetulnya tidak masuk dalam rencana pelengkapan armada Garuda. Airbus A330-300 memiliki tiga pilihan tenaga mesin, yaitu Rolls Royce 700, Pratt & Whitney PW 400, atau GE CF6-80E. Garuda membeli pesawat bermesin Rolls Royce Trent 700.

Anehnya, mesin Trent 700 ini ternyata masuk ‘daftar hitam’ lembaga regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat, Federal Aviation Administration Safety Alert. Namun, mesin itu tetap digunakan untuk menerbangkan Airbus A330-300. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.