Dongkrak Popularitas Desa Wisata, Spot Foto Ikonik Diperbanyak

0
652
Desa Wisata di Sleman diminati turis Belanda (Foto: http://www.amrantrans.com)

SLEMAN, bisniswisata.co.id: Berfoto di lokasi wisata kini seolah menjadi kewajiban. Bahkan tak jarang para pelancong sengaja mendatangi lokasi wisata untuk berswa foto. Tren ini akan dimanfaatkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman untuk mendongkrak popularitas desa wisata, yakni dengan memperbanyak spot foto yang ikonik.

Sebagai tahap awal, spot ikonik sedang dibuat di Desa Wisata Gamplong (Moyudan), Pentingsari (Cangkringan), dan Kelor (Turi). “Fasilitas photo booth untuk penggemar swafoto ini dibuat dengan menonjolkan karakter desa wisata setempat. Sehingga bisa mewakili potensi wisata yang ditawarkan,” tutur Sekretaris Disbudpar Sleman, Endah Sri Widiastuti, dalam keterangan tertulis, Rabu (23/11/206).

Ia berharap, nantinya semua desa wisata bisa mengikuti langkah serupa. Sehingga dapat menyajikan daya tarik yang lebih banyak untuk wisatawan. Ia menyampaikan, langkah ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan angka kunjungan ke desa wisata. Pasalnya selama ini kunjungan ke desa wisata masih rendah dibanding objek wisata lain.

Pada 2015 lalu, total kunjungan wisatawan ke 30 desa wisata di Sleman mencapai 214 ribu pengunjung. Angka tersebut terdiri atas wisatawan Nusantara sebanyak 213.237 orang dan wisatawan mancanegara 1.613 orang. Namun demikian, kunjungan ke desa wisata selalu mengalami peningkatan setiap tahun.

Pada 2011, pengunjung desa wisata hanya 145 ribu orang. Lalu meningkat jadi 149 ribu pada 2013. Sedangkan pada 2014, jumlahnya menjadi 177 ribu orang. Adapun desa wisata paling ramai dikunjungi selama 2015 adalah Pulesari, Blue Lagoon, Pentingsari, Rumah Dome, dan Srowulan.

Selain membuat spot ikonik, Disbudpar juga berupaya mendorong pengelola desa wisata untuk membuat paket-paket wisata dan atraksi yang menarik sesuai minat wisatawan. Termasuk memotivasi desa untuk melakukan promosi online dan bersinergi dengan berbagai pihak.

Saat ini di Sleman sendiri ada 39 desa wisata. Sebanyak 14 desa masuk dalam kategori tumbuh, delapan desa berkembang, dan sembilan desa mandiri. Sementara delapan desa wisata lainnya tercatat mati suri tanpa aktivitas apapun.

Kepala Bidang Peninggalan Budaya, Nilai dan Tradisi (PBNT) Disbudpar Sleman, Siswanto berharap, ke depannya desa wisata bisa mengelola nilai-nilai budaya tradisional secara mandiri. Misalnya, menjaga dan menggelar upacara adat yang dilakukan secara aktif oleh masyarakat.

Menurut Siswanto, pihaknya akan mendukung hal tersebut. Karena Disbudpar memiliki dana pemeliharaan tradisi budaya sekitar Rp 3,5 juta per kegiatan. Namun terbatas hanya untuk 20 agenda tradisi budaya. “Besarannya tidak seberapa jika dibanding dana total yang dibutuhkan untuk satu event. Ini memang hanya sebagai stimulan saja,” tuturnya. (*/REO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.