Dog….Dog, Batik Gedog pun masih Lestari

0
508
Batik gedog

TUBAN, Bisniswisata.co.id: Dari kejauhan terdengar bunyi dog-dog berulang kali yang nyaring dan berirama. Begitu didekati, ternyata bunyi itu dari benturan peralatan kayu dan bambu yang digunakan seorang nenek untuk menenun kain.

Nenek itu ialah Mbok Rimpi, 70-an. Ia duduk berselonjor dengan kaki sedikit membentang guna menekan alat kayu tenun yang digunakannya agar posisinya tetap seimbang. Dua tangannya yang keriput lincah bergerak melontarkan bilah bambu seukuran pensil yang diselipi benang, menembus jajaran benang.

Sebilah bambu seukuran pikulan ditarik ke bawah dan terdengar dog-dog berkali-kali. Kemudian, bambu penyanggah ditarik menyamping dan terdengar bunyi luncuran serta dog. “Biar jadinya (susunan benang pada kain tenun) rapat,” ucap Mbok Rimpi yang mengaku menenun sejak gadis di Dusun Kajoran, Kecamatan Kerek, Tuban, Jawa Timur, seperti diunduh laman MediaIndonesia.com, Sabtu (29/04/2017)

Mengasyikkan dan betah menunggui Mbok Rimpi menyusun benang hingga menjadi kain tenun. Dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran tinggi hingga menghasilkan kain tenun sepanjang 3 meter dan lebar kurang dari 1 meter.

Untuk menenun kain berukuran sekitar 80 hingga 90 sentimeter (cm) dengan panjang 3 meter, dibutuhkan waktu 15 hingga 20 hari. “Paling cepat sehari hanya dapat segini (sekitar 20 cm),” ungkap Mbok Rimpi.

Itulah gambaran proses pembuatan batik gedog khas Tuban. “Disebut batik gedog karena bunyi dog-dog dari bilah bambu yang membentur kemplungan (dasar alat tenun). Kain hasil tenun tangan tradisional ini selanjutnya baru dibatik,” kata koordinator Kelompok UKM Melati Mekar Mandiri Batik Gedog Nanik Nandiana Ningsih di Dusun Kajoran.

Dalam pembuatan batik gedog, Nanik memegang kuat budaya masyarakat setempat. Seluruh proses dilakukan secara tradisional.

Bahan baku kapas hasil penanaman warga. Upaya Nanik dan lebih dari 50 anggotanya menjaga budaya leluhur itu membuat PT Semen Gresik (SG) Tuban bersimpati.

Bantuan yang diberikan mulai pemasaran melalui pameran-pameran, pelatihan, sertifikat hak atas kekayaan intelektual (Haki), hingga modal. Berkat bantuan PT SG Tuban itu, omzet penjualan Nanik dan seluruh kelompoknya rata-rata setiap bulan minimal Rp80 juta.

Bahkan jika ada pameran dan promosi, penjualan bisa mencapai Rp200 juta. “Saya dan para anggota bersyukur dan berterima kasih kepada PT SG Tuban,” ujar Nanik berbinar.

Nanik berharap bantuan PT SG Tuban tidak berhenti, terutama dalam pemberdayaan masyarakat lebih luas, misalnya mewujudkan lingkungannya sebagai dusun wisata. (*/MIO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.