Diusulkan Rutan Salemba Jadi Museum

0
571
Rutan Salemba Jakarta

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Rumah Tahanan (Rutan) Salemba Jakarta Pusat, memang sudah tua juga tidak memenuhi syarat. Selain berada di tengah kota, juga over kapasitas antara ruang tahanan dengan jumlah tahanan yang ada. Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengusulkan agar Rutan kelas IIA ini dijadikan museum karena salah satu bangunannya peninggalan Belanda.

Usulan itu dilontarkan Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat. “Saya minta Sekretaris Direktorat Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) untuk mengalihfungsikan Rutan Salemba. Karena Salemba dibangun pada masa Belanda, sebagian dari Salemba itu bisa masuk cagar budaya, bisa kita jadikan museum. Jadi secara bertahap (akan dikosongkan) karena sudah tidak tepat di tengah kota,” saran Gubenur Djarot di Balai Kota Jakarta, Jumat (21/7/2017).

Sebagai solusi, tahanan di Lapas Salemba bisa dipindah ke lapas terbuka yang akan dibangun Ciangir, Tangerang. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah memberikan izin pinjam pakai lahan miliknya di Ciangir itu untuk lokasi lapas terbuka kepada Kemenkumham.

Di Ciangir, ada lahan seluas 30 hektare (ha) dari sekitar 100 ha lahan milik Pemprov DKI Jakarta yang akan dipinjam pakai oleh Kemenkumham. Dengan lapas seluas itu, Djarot memprediksi lapas di Ciangir bisa menampung sekitar 5.000 tahanan.

Sekretaris Direktorat Pemasyarakatan Kemenkumham, Sri Puguh Budi Utami, membenarkan kondisi Rutan Salemba tidak ideal lagi karena jumlah tahanan terlalu banyak. Bahkan seluruh lapas dan rumah tahanan (rutan) di Jakarta sudah penuh sesak. Saat ini, Lapas Salemba dihuni sekitar 5.000 tahanan, padahal kapasitas lapas hanya 2.000 orang.

Lapas yang akan dibangun di Ciangir berkonsep open camp. Nantinya warga binaan akan dididik dan bekerja di lahan pertanian. “Kita tempatkan mereka (narapidana) di sana untuk bekerja pertanian, peternakan,” ujarnya.

Rutan Salemba ini dibangun pada sebidang tanah seluas 42.132 m2 pada Tahun 1918 (Saat itu namanya Lembaga Pemasyarakatan Salemba). Sebelum tahun 1945, Lembaga Pemasyarakatan Salemba dipergunakan Kolonial Belanda untuk menahan orang-orang yang melakukan pelanggaran hukum Kolonial Belanda.

Tahun 1945, setelah Indonesia merayakan kemerdekaan, Lembaga Pemasyarakatan Salemba dipergunakan untuk menampung atau menahan tahanan politik, tahanan sipil, tahanan kejaksaan, dan pelaku kejahatan ekonomi (penimbun kekayaan yang ramai pada saat itu).

Saat terjadi pemberontakan G.30 S/PKI, sebagian tahanan/narapidana dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Lembaga Pemasyarakatan Glodok (sekarang pusat elektronik glodok) dan sebagian lagi ke kampus AKIP (Akademi Ilmu Pemasyarakatan) di Percetakan Negara, sekarang kampus Akademi Letigasi Republik Indonesia (ALTRI).

Tahun 1960 sampai dengan 1980 Lembaga Pemasyarakatan Salemba dijadikan Rumah Tahanan Militer (RTM) yang khusus menahan tahanan militer dibawah pimpinan Inrehab Laksusda Jaya. (*/NDIK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.