Disayangkan, Festival Lembah Baliem 2017 Tak Didukung Kemenpar

0
731
Festival Lembah Baliem (Foto:kompas.com)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Bupati Jayawijaya Papua, prihatin. Keprihatinan itu bersumber tidak ada dukungan sama sekali dari Kementrian Pariwisata (Kemenpar) dalam event tahunan Festival Lembah Baliem 2017. Padahal, Festival budaya dan pariwisata ini sudah memasuki tahun ke 28. Dengan kata lain 28 kali digelar ternyata tak satu pun menteri pariwisata datang ke acara ini.

Jangankan menteri atau pejabat pemerintah pusat dari Kemenpar yang datang ke festival ini, juga dukungan dana, sponsor, publikasi apalagi saran atau usulan juga tak pernah ada. Festival ini terkesan di anak tirikan, dibiarkan jalan sendiri dan disepelekan.

“Presiden Jokowi sudah tiga kali ke Jayawijaya, lho ini anak buahnya Presiden yakni Menteri Pariwisata tak pernah datang. Saya sedih dan prihatin juga, nggak tahu kenapa bisa begini,” papar Bupati Jayawijaya John Wempi Wetipo saat memaparkan Event Festival Lembah Baliem kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Padahal, sambung Bupati, Festival Lembah Baliem 2017 digelar secara rutin setiap tahunnya. Bahkan ini festival yang tertua di Papua, bisa jadi di Indonesia. “Sayangnya, selama ini jalan sendiri. Promosi sendiri, datangkan wisatawan sendiri. Yang akhirnya malah dikenal didunia internasional, karena banyak turis asing yang datang,” ungkap Bupati Jayawijaya.

Meski tidak ada Menteri Pariwisata atau pejabat pusat yang datang, sambung Bupati, Festival Lembah Baliem 2017 tetap jalan, tidak ada pengaruhnya. Karena Festival Lembah Baliem 2017 ini dilakukan pemerintah daerah untuk rakyat, dipersembahkan oleh rakyat, juga untuk rakyat.

“Kita tidak tergantung dari anggaran pemerintah pusat apalagi Kementrian Pariwisata. Jika festival ini masih banyak kekurangan sempurnaan adalah hal yang wajar,” katanya.

Meski demikian, lanjut Bupati, Festival Lembah Baliem 2017 sudah memasuki tahun ke 28 kali. Kini festival budaya ini menuju kancah internasional. Tahun 2016, Festival ini dapat mendatangkan wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Tahun 2016, tercatat sebanyak 41.275 wisatawan nusantara dan 1.214 wisatawan mancanegara hadir menyaksikan festival ini. Ditargetkan tahun 2017 ada kenaikan 20 persen.

Festival Lembah Baliem 2017 dengan tema “Art of Dance & War” digelar di Distrik Welesi Kabupaten Jayawijaya Papua, pada 8-11 Agustus 2017. Festival ini, bertujuan untuk melestarikan sekaligus mempertahankan budaya peninggalan leluhur di daerah Jayawijaya Papua, yang mulai terkikis seiring perkembangan zaman, sehingga dengan festival ini dapat dinikmati masyarakat Jayawijaya & Papua juga Indonesia maupun mancanegara.

Tujuan lainnya, terus mengaktifkan sekaligus menggerakkan seni budaya kearifan lokal agar lebih menonjol sehingga menjadi hiburan masyarakat. Bahkan dengan kegiatan Festival Budaya Lembah Baliem 2017 ini, diharapkan dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat yang ada di Jayawijaya, baik itu sopir, pemilik mobil, pemilik hotel, pemilik toko, serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di sektor pariwisata.

Festival Budaya Lembah Baliem ke 28 ini, akan ada beberapa katagori baru yang akan ditampilkan, diantaranya pemecahan rekor MURI (ORI) & RHR untuk Kategori Lempar 1000 Sege (tombak tradisional suku Dani).

Salah satu kegiatan yang paling menonjol dam disukai wisatawan adalah perang-perangan yang diikuti sekitar 3000 peserta dari 40 distrik di Kabupaten Jayawisaya. Ini merupakan ajang adu kekuatan antarsuku dan telah berlangsung turun temurun namun tentunya aman untuk dinikmati.

Dalam festival ini juga dapat melihat langsung semua ragam suku di Dataran Tinggi Wamena dan Lembah Baliem berkumpul untuk merayakan festival tahunan bersama. Meski perang-perangan ini hanyalah skenario, namun tetap menghasilkan suasana yang menegangkan karena benar-benar terlihat adegan saling lempar tombak dan berteriak antar suku. Pengunjung akan tetap aman karena sudah disediakan tempat duduk khusus untuk menonton acara ini.

Juga lomba foto dengan total hadiah puluhan juta rupiah, atraksi Budaya Lembah Baliem, keterampilan memainkan alat musik PIKON (alat musik tradisional Jayawijaya), bakar batu, atraksi tari-tarian tradisional Lembah Baliem, karapan babi serta lomba membuat api ala Suku Dani. Bahkan pameran kerajinan tradisional.

Lembah Baliem merupakan lembah indah di bentangan Pegunungan Jayawijaya. Lembah Baliem berada di ketinggian 1700 meter dari permukaan laut yang dikelilingi pegunungan dengan pemandangannya yang indah dan masih alami. Suhu bisa mencapai 8-15 derajat celcius pada waktu malam.

Suku Dani, Suku Yali dan Suku Lani adalah beberapa suku yang tercatat tinggal di sini. Untuk dapat sampai ke Lembah Baliem, pengunjung harus melewati bandara utama Provinsi Papua, yakni Bandara Sentani, yang dapat diakses menggunakan maspakai penerbangan dari Jakarta, Surabaya, dan Manado. Setibanya di Bandara Sentani diteruskan pesawat jenis Hercules maupun Twin Otter menuju Wamena, Ibukota Kabupaten Jayawijaya.

Festival Lembah Baliem awalnya merupakan acara perang antar suku Dani, Lani dan Suku Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Sebuah festival yang menjadi ajang adu kekuatan antar suku dan telah berlangsung turun temurun namun tentunya aman untuk Anda nikmati.

Awalnya pertama kali digelar tahun 1989. Yang istimewa bahwa festival ini dimulai dengan skenario pemicu perang. Keunikan dan keotentikan budaya mereka tersebut menjadikan Festival ini selalu ramai dikunjungi oleh fotografer dan wisawatan dari penjuru dunia. (NDIK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.