Dirut PT Pelni: Potensi Bahari Indonesia terbaik di dunia

0
3503
Salah satu kapal milik PT Pelni yang melayani 92 pelabuhan dengan total trayek 1186. Mulai akhir Desember tersedia paket wisata Let's Go Wakatobi dan Let's Go Raja Ampat (foto repro)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Direktur Utama PT Pelni, Sulistyo Wimbo Hardjito ternyata sudah menyambangi seluruh benua di dunia termasuk ke Kutub Utara. Penggemar travelling yang kerap melanglang buana bersama keluarga ini punya pengalaman berkesan ketika naik pesawat kecil melintasi Grand Canyon, Amerika Serikat.

Grand Canyon, taman nasional pertama yang ditetapkan pemerintah Amerika Serikat ini memiliki pemandangan indah terdiri dari kelompok jurang tebing-terjal dengan panjang sekitar 446 km, lebar mulai dari 6 km sampai 29 km serta kedalaman jurangnya lebih dari 1.600 m yang  pada tahun 1979, Grand Canyon ditetapkan sebagai  Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

“Kalau soal pemandangan indah, Amerika serikat gudangnya dan mereka bisa menjaga lingkungan dengan baik. Jalan-jalan ke Eropa memang menyenangkan dengan arsitektur bangunannya, tetapi jujur justru negara kita sendiri Indonesialah tempat terindah terutama potensi wisata baharinya,” ujar Wimbo, panggilan akrabnya usai Forum Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan PT Pelni dengan beragam komunitas, kemarin.

Menggali potensi wisata bahari, menghubungkan aksesibilitas dan menyediakan transportasi ke wilayah Indonesia Timur dengan beragam potensi alamnya yang demikian indah membuat Wimbo memutar otak bagaimana kerugian PT Pelni yang pada 2013 mencapai Rp 600 miliar bisa dikuranginya dengan terus memberikan nilai tambah pada rute-rute pelayaran penumpangnya.

Sebelum adanya konsep Poros Maritim dari Presiden Jokowi, timnya sudah putar otak untuk membuat trayek-trayeknya lebih menarik dan mampu menjaring penumpang dengan tujuan berwisata ke pulau-pulau yang indah terutama di kawasan Indonesia Timur.

Sejak awal 1980 an, PT Pelni fokus melayani pulau besar, terpencil dan terdepan, melayari 92 pelabuhan dengan total trayek 1.186 dan 46 kantor cabang di seluruh Indonesia. Perusahaan milik negara ini memiliki 25 kapal penumpang dan tiga kapal barang.

Potensi wisata bahari yang luar biasa itulah membuat Wimbo dan timnya gerak cepat mengemas Let’s Go Wakatobi sebuah paket untuk lima hari empat malam yang dijadwalkan berlangsung pada 26 -30 Desember 2014. Penumpang naik dari Bau-bau menuju Wangi-wangi, ibukota Kabupaten Wakatobi dan ke Tomia. Ada juga Let’s Go Raja Ampat mulai 24-27 Desember 2014.

Ada tiga pilihan harga yaitu kelas satu, dua dan kelas ekonomi dengan harga Rp 600 ribuan hingga Rp 2 juta/ orang. Untuk biaya menyelam (diving) tinggal tambah biaya lagi dan bagi yang sudah punya lisensi tentu lebih murah hanya Rp 650 ribu/orang. Lewat paket wisata ini, wisata minat khusus menyelam (diving) yang selama ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan masyarakat papan atas dan wisatawan mancanegara bisa dijangkau masyarakat bahkan oleh kalangan mahasiswa.

“Terus terang saya cemburu keindahan pulau-pulau Indonesia untuk aktivitas snorkeling, diving, selancar kok hanya bisa dinikmati bule, sekarang kita jembatani kesenjangan itu. Tentunya saya berjanji PT Pelni akan memperhatikan daya dukung dari suatu pulau sehingga kunjungan juga tidak bisa dilakukan secara massal sesuai arahan FGD,” tegasnya.

Sejak menjabat menjadi Direktur Utama PT Pelni, Wimbo menarik jajaran direksinya dari kalangan profesional, menata profesionalisme dan budaya kerja di lingkungan perusahaan hingga ke anak buah kapal  (ABK) lewat pelatihan terutama dalam hal hospitality. Dia juga menyulap kapal dengan fasilitas yang memadai mulai dari kabin bebas dari kecoa, toilet hingga melengkapi kapal dengan fasilitas ruang meeting setara hotel berbintang, ruang bermain anak, ruang berolahraga sampai ruang film dan hiburan lainnya.

Wimbo nampaknya ingin totalitas dan amanah dalam menjalankan tugasnya. Akhmad Sujadi, Wakil Ketua Bidang usaha dan Promosi Maska bercerita bahwa dua minggu sebelum dilantik sebagai Dirut PT Pelni, Wimbo sudah ‘blusukan’ naik turun kapal. Mantan Direktur Komersial KAI ini menjadi penumpang biasa pakai sandal jepit, pakai kaos dan berbaur mulai dari pembelian tiket kapal hingga menikmati pelayanan di atas laut. Dengan cara seperti itu, Wimbo langsung mengetahui permasalahan perusahaan untuk kemudian memperbaiki begitu menjadi Direktur Utama.

Wimbo mengaku blusukan kapal itu ide dari dirinya sendiri sama seperti yang dilakukannya saat menjadi Direksi PT KAI. “Benar selama dua minggu itu saya coba menggunakan layanan Pelni ke Batam, Natuna, Pontianak, Banjarmasin. Bahkan yang menarik saya beli tiket lamanya sejam, beli tiket ke Natuna itu 5 jam. Nah cara pembelian tiket itu yang langsung kami perbaiki,” kata Wimbo.

Dirut PT Pelni, Sulistyo Wimbo Hardjito
Dirut PT Pelni, Sulistyo Wimbo Hardjito

Sejak menduduki kursi Dirut, Mei lalu dia sudah menambah jam melautnya dengan berlayar dari Papua hingga ke Medan, Sumatra Utara. Kalau kebanyakan orang akan kelelahan dan menyerah bila harus menempuh perjalanan panjang,  maka dia tidak sekedar naik kapal, ia mengajak semua pimpinan dari Kantor Pusat, kordinator Cabang, Nahkoda dan perwakilan kapal memeriksa kamar mesin, anjungan, dapur, tempat tidur penumpang dan semua unsur pelayanan di atas kapal.

Rapim-rapim juga dilakukannya di atas laut sejalan dengan misinya untuk menjadikan kapal alternatif tempat kongres, seminar, rapat-rapat. Pemilik Rumah Makan Mbah Jingkrak di kawasan Setiabudi ini juga menawarkan pada pemerintah daerah untuk bekerjasama mengembangkan wisata bahari.

“Kalau Raja Ampat biaya sandar saja sudah Rp 15 juta, di daerah lain tidak berlaku seperti itu jadi kita kerjasama yang mau aja deh kan laut Indonesia sangat luas. Titik labuh wisatawan seperti Kupang, Benoa, Larantoka, Bima, Maumere, Ampenan, Komodo sudah disambangi karena PT Pelni serius ingin berperan dalam pengembangan wisata bahari bahkan juga mengajak media ibu kota ke Komodo setelah sebelumnya ke Raja Ampat di Papua dan Wakatobi Sulawesi Tenggara,” ungkapnya.

Hal ini tak lepas dari keinginannya untuk mengetahui secara mendalam obyek-obyek kunjungan wisata yang bakal ditawarakan kepada wisatawan domestik dan manca negara. Kini para nakhoda kapal juga dimintanya untuk memiliki lisensi selam dan mendalami olahraga laut sehingga dapat menjadikan dirinya sebagai obyek wisatawan.

“Bertahun-tahun melayari kawasan Indonesia Timur yang indah tapi mereka tidak tahu isi kedalaman lautnya sekarang capten kapal Pelni malah betah mengisi waktu luang di dalam air,” katanya berseloroh dan mengundang tawa sambil menunjuk capten kapal bertubuh tambun di sampingnya.

Sambil mendalami obyek-obyek Wisata Bahari, internal juga berbenah. Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai modal utama perubahan terus ditingkatkan ilmu pengetahuan, ketrampilan dan mental untuk menyongsong perubahan. Tahun depan paket wisata akan di tambah. Kalau di akhir tahun ini ada paket dari Sorong dengan KM Tatamailau dan Wakatobi dengan KM Kalimutu, maka pilihan lainnya adalah Labuan Bajo , Pulau Komodo dengan KM Sirimau.

Dari Tarakan, penumpang bisa berwisata ke Pulau Derawan dengan KM Bukit Siguntang, mencapai Pulau Anambas dari Tarempa dengan KM Bukit Raya, ke Miangas melongok Pulau Mane’e dengan KM Tilongkabila atau ke Pulau Togian dan Tomini  dengan KM Sengiang.

“Beri waktu satu hingga satu setengah tahun supaya semua kapal siap juga untuk menjaring wisatawan. Ada kapal sampai yang kami batik supaya punya keunikan,” jelas Wimbo yang juga pemilik Rumah Makan Mbah Jingkrak Setiabudi ini.

Sebagai birokrat dan entrepreneur (birokratpeneur), Sulistyo Wimbo Hardjito memang sudah teruji ketika Kementrian BUMN menyandingkannya dengan Ignatius Jonan yang kini menjadi Menteri Perhubungan Kabinet kerja,  memimpin PT Kereta Api Indonesia periode 2009-2014.

Sebagai Direktur operasional PT KAI yang memiliki pengalaman kerja 25 tahun di PT Indosat Tbk dengan jabatan terakhir Direktur Corporate Services ini terbukti dalam lima tahun mampu menyulap PT KAI sebagai salah satu BUMN paling untung dan inovatif.

“PT Pelni harus jadi perusahaan yang untung dan punya harapan untuk pegawainya nah kalau mau untung maka pendapatan (revenue) harus ditingkatkan, kebocoran di kurangi dan semuanya harus pakai Good Corporate Governance yang dijalankan di semua lini perusahaan termasuk di operasional laut, anak-anak perusahaan dan lainnya. Butuh waktu 2-3 tahun agar perusahaan ini punya Roh pelayanan,” ungkapnya.

Menurut dia Sumber Daya Manusia (SDM) adalah asset utama perusahaan dan karena PT Pelni utamanya adalah kapal penumpang jadi membawa orang dari satu titik labuh ke titik labuh lainnya bukan sekedar membawa orang, ada pelayanan, ada proses, ada rasa, ada pilihan dan ada kepercayaan (trust).

Untuk itulah mengelola 4000 karyawan dia minta mereka paham dengan tugas pokoknya jadi dibagian pelayanan jasa ya mengertanusia, bagian makan ya fokus pada pelayanan berapa orang yang harus diberi makan, kalau dia ABK ya sesuai dengan tugasnya dan jangan ada penyalahgunaan.

“Hidup adalah ibadah dan saya minta karyawan bekerja dengan baik karena itu bagian dari ibadah. Saya berdoa untuk seluruh pegawai dan memback-up sistem kerja dengan IT yang kuat sehingga semua lini bisa disatukan. Jadi nanti yang dilihat, di dengar semua melalui IT, email broadcast dan lainnya. Pegawai harus menyesuaikan diri dengan era IT ini juga,” jelasnya. (hildasabri@yahoo.com)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.