Dibekukan 61 Penerbangan di Indonesia

0
920
Menhub Ignatius Jonan

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Kementerian Perhubungan membekukan 61 penerbangan yang dilayani lima maskapai yakni Garuda Indonesia, Lion Air, Wings Air, Susi Air, dan Transnusa. Pembekuan itu dilakukan karena maskapai tersebut melanggar izin penerbangan yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan.

“Atas dasar temuan tersebut Dirjen Perhubungan Udara menjatuhkan sanksi ke maskapai atas pelanggaran. Sanksi berupa pembekuan izin rute dan meminta maskapai penerbangan untuk mengajukan rute dengan persyaratan lengkap,” tegas Menteri Perhubungan Ignasius Jonan di Jakarta, Jumat (9/1)

Dilanjutkan, Lion Air tercatat paling banyak yakni sebanyak 35 pelanggaran izin terbang, disusul Wings Air 18, lalu Garuda 4, Susi Air 3, dan Transnusa 1 izin terbang. “Ya silahkan mengajukan ijin baru, kalau mau. Kalau nggak mau ya nggap apa-apa,” paparnya enteng.

Ditambahkan, jika kelima perusahaan penerbangan ajukan sore akan dilayani. “Tapi jangan lewat jam 10 malam,” tambahnya sambil menambahkan jika permohonan izin rute membawa persayaratan lengkap, dijamin tidak akan dipersulit oleh pemerintah. “Kalau lengkap, satu hari pun izin keluar,” ujarnya.

Kementerian Perhubungan juga menjatuhkan sanksi kepada beberapa pejabat eselon II dan III yang terlihat dalam permainan izin penerbangan tersebut.

Jonan mengatakan sebagai tindak lanjut hasil audit tersebut, Kemenhub akan melakukan pembenahan manajemen angkutan udara. Pertama, menginstruksikan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan untuk meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan perundang-undangan dan peraturan yang terkait.

Kedua, mengupayakan peningkatan kompensasi bagi Principal Operations Inspectur (POI) dan Principal Maintenance Inspector (PMI) yang ditempatkan di maskapai penerbangan. Ketiga, melakukan penguatan peran dan fungsi (empowement) institusi Otoritas Bandara.

“Kita juga akan evaluasi terhadap peran dan fungsi Indonesia Slot Coordinator (IDSC). Serta transparansi jadwal rute penerbangan dengan mengembangkan sistem online,” katanya.

Investigasi Kementrian Perhubungan ini dilakukan menyusul kecelakaan yang menimpa pesawat AirAsia QZ8501 pada 28 Desember 2014 dan kemudian diketahui pesawat naas itu tidak memiliki izin terbang rute Surabaya-Singapura pada hari dimaksud. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here