Desainer Busana Muslim Indonesia Berlaga di Turki & Dubai

0
1005

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Pesatnya perkembangan modest fashion atau busana muslim di dunia, angin segar bagi industri modest fashion tanah air. Kreativitas dan kreasi desainer busana muslim Indonesia, mulai dilirik konsumen luar negeri.

Beragam panggung internasional untuk desainer Indonesia makin terbuka. Setelah beberapa desainer modest wear Indonesia ikut serta di NYFW juga panggung lainnya, kini giliran Turki yang kehadiran desainer busana muslim Indonesia.

Di Turki, desainer Indonesia memperlihatkan koleksinya di gelaran bertajuk Indonesia Experience – Istanbul pada 28 September 2017. Ini merupakan rangkaian acara The Gate Project yang diinisiasi bersama KJRI Istanbul dan Think Fashion, salah satu konsultan fesyen berbasis di Istanbul dan London. Juga ajang ini bagian lanjutan seminar fashion di Muffest pada April 2017.

Franka Soeria, co-founder Think Fashion mengungkapkan bahwa ajang ini merupakan gelaran fesyen yang berfokus pada desain busana modest Indonesia. “(Kami) ingin nembusin desainer Indonesia ke Turki. (Karena) Turki memang gerbang ke mana-mana,” ujar Franka dalam keterangannya, Rabu (20/09/2017).

Setidaknya ada enam desainer busana muslim yang akan diboyong ke Turki untuk memperlihatkan koleksinya. Mereka adalah adalah Anggia Handmade by Anggia Mawarni, Irna La Perne, Applecoast Noore, Jawhara Syari, Sazy Zahra, dan #Markamarie.

Masing-masing desainer tersebut memiliki desain dan karakter busananya sendiri. Irna Mutiara dari Irna La Perne menggabungkan 2 -3 item busana dan memadukannya menjadi sebuah gaun pengantin dengan warna dasar hitam. “Ini desain busana pengantin yang ekonomis, jika salah satu bagian diambil, bisa untuk pergi ke pesta juga,” jelas Irna Mutiara di sela-sela trunk show.

Di sisi lain, Applecoast Noore membawa sport wear, dengan andalannya yakni ciput berbahan lycra spandex. Founder Applecoast, Adidharma Sudradjat berkata, busana dapat dikenakan sebagai baju olah raga dan busana kasual sehari-hari. “Kalau yang satunya, lebih ke state look, mengedepankan bahan denim dengan kesan bold, stylish dan edgy,” lanjutnya.

Berbeda dengan Applecoast Noore, Sazy Zahra terinspirasi oleh fauna endemik Papua, yakni burung puyuh salju. Burung yang hidup di Taman Nasional Lorentz ini terancam habitatnya di alam liar, sehingga Sazy ingin agar ada perhatian lebih baik dari masyarakat maupun dari pemerintah.

“Tema saya ‘Quails is the new swan’, kebanyakan fashion designer itu mengambil inspirasi dari cendrawasih, angsa, kasuari, padahal ada fauna endemik lain,” katanya pada CNNIndonesia.com.

Gelaran akan terbagi dalam tiga sesi yakni Evening Wear yang akan menampilkan Irna La Perne dan Anggia Handmade, Syar’i oleh Noore dan Jawhara Syari dan Urban oleh Sazy Zahra dan #Markamarie. Franka menuturkan, pihaknya akan menghadirkan para calon pembeli, pelaku industri modest fashion serta media di sana.

“Biar mereka melihat Indonesia itu nggak cuma etnik. Saat ini pun Turki juga sedang belajar branding, dan Indonesia baiknya belajar jualan dari Turki,” katanya.

Selain ke Istanbul, Turki, desainer busana muslim Indonesia juga akan diboyong ke Dubai Modest Fashion Week. Ajang yang akan digelar di Burj Khalifa Park, Dubai ini akan berlangsung pada 8-9 Desember 2017 mendatang.

Selain menggandeng Anggia Handmade, Franka juga mengajak empat desainer lain seperti Sumayya & SSS, Devi Janeeta, Padusi dan Sad Indah. “Saya hanya memfasilitasi, saya hanya bawa ke arena dan itu arena terbuka,” katanya.

Ia berkata, dalam gelaran fesyen tersebut akan hadir nama populer di dunia modest fashion seperti Halima Aden, model muda berdarah Somalia-Amerika. Aden adalah model hijab pertama yang berjalan di atas catwalk untuk label Max Mara dan Alberta Feretti. Selain itu, ia juga sempat menjadi sampul untuk majalah Allure dan Vogue Arabia.

Dalam trunk show, para desainer menunjukkan bocoran desain yang akan mereka usung dalam ajang internasional ini. Anggia bermain dengan material sutera dengan detail swarowski untuk menyasar pasar Timur Tengah.

Sumayya & SSS alias kolaborasi Sumayya Syari dan Suciati Suaib Saenong bereksperimen dengan unsur victorian dan retro. Ciri khas mereka adalah penggunaan material kulit yang unik. Desainer Devi membawa 5 look dengan siluet gaun, two piece, jump suit dan rok panjang. Warna-warna yang diambil pun warna gelap seperti hitam, hijau army, abu.

Berbeda dengan Sad Indah, meski belum bisa menampilkan bocoran model busana, tapi dirinya tetap ingin membawa unsur etnik dalam busananya. Unsur etnik ini akan ditampilkan dengan lebih modern. Padusi mengambil evening style dengan gaun warna hitam plus hair piece modern. (*/CNN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.