Delapan Investor Lokal Tertarik Kelola Bandara Mutiara

0
3191

PALU, test.test.bisniswisata.co.id: DELAPAN investor lokal sudah menyatakan minatnya mengelola Bandara Kelas I Mutiara Sis Al-Jufri di Palu. Ini merupakan salah satu dari 10 bandara yang ditawarkan pemerintah untuk dikelola swasta.

Kepala Kantor Unit Pelayanan Bandar Udara (UPBU) Kelas I Mutiara Sis Al-Jufri, Benyamin N Apituley mengatakan, saat ini, pihaknya masih menunggu kesungguhan minat para investor swasta yang ingin mengelola salah satu bandara pilot project terbaik yang dibangun pemerintah tersebut.

“Dari lokal memang sudah ada delapan perusahaan swasta yang berminat mengelola Bandara Mutiara, termasuk maskapai. Asing baru sekadar menanyakan informasi seputar bandara, ada dari Jepang dan Korea,” ucapnya.

Ia mengatakan, yang akan ditawarkan kepada investor adalah pengelolaan sisi darat bandara, yakni terminal. Sementara itu, sisi udara (air side) tetap dikelola UPBU karena menyangkut standar keselamatan penerbangan.

Berdasarkan Undang-Undang (UU) No 1/2009 tentang Penerbangan, pengelolaan sisi udara emerupakan kewenangan pemerintah, yakni Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

“Dengan dikelolanya terminal oleh swasta, kami bisa berkonsentrasi mengembangkan sisi udara. Tahun ini. kami memperpanjang runway 140 meter dengan investasi Rp 7 miliar. Dengan penambahan itu, akhir tahun nanti, runway Mutiara diharapkan sudah mencapai 2.500 meter, dari jumlah eksisting 2.250 meter,” tuturnya.

Dengan demikian, pesawat narrow body, seperti Boeing 737-900ER, bisa maksimal dioperasikan. Pasalnya, dengan panjang runway 2.250 meter, penggunaan B737-900ER belum bisa maksimal menjadi 79 ton. “Selama ini, berat yang dioperasikan baru 71 ton,” ujar Benyamin.

Bandara Mutiara dibangun sejak 2011 hingga 2013. Bandara ini dioperasikan sejak 2014. Pembangunan yang menghabiskan anggaran hingga Rp 180 miliar ini mampu menampung kapasitas 2 juta penumpang per tahun. Rencananya. Mutiara dikembangkan menjadi bandara internasional, namun saat ini, pemerintah provinsi (pemprov) baru menjajaki penerbangan ke Malaysia.

Penumpang Bandara Mutiara mencapai 1 juta orang. Rata-rata 1.500 orang per hari. Penumpang tahun ini diharapkan bisa lebih dari 1 juta orang.

Sebelumnya, Kemenhub memang menawarkan pengelolaan 10 Unit Pelayanan Bandar Udara (UPBU) kepada investor swasta. Sepuluh bandara tersebut, yakni Radin Inten II Bandar Lampung, Mutiara Palu, Sultan Babullah Ternate, Komodo Labuan Bajo, Sentani Jayapura, Juwata Tarakan, Tjilik Riwut Palangkaraya, Fatmawati Soekarno Bengkulu, Hananjoedin Tanjung Pandan, dan Matahora Wakatobi.

Dari 10 bandara, ada tiga bandara yang potensial dikelola swasta, yakni Bandara Mutiara di Palu, Bandara Radin Inten di Lampung, dan Bandara Komodo di Labuan Bajo. “Penawaran bandara UPBU ke swasta diharapkan meningkatkan pelayanan terhadap penumpang. Jadi, penumpang merasa nyaman,” ucapnya seperti diunduh laman SH.com, Sabtu (13/06/2015).

Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan menambahkan, pengelolaan bandara sangat dimungkinkan bagi swasta sepanjang dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Hal ini juga menegaskan berakhirnya era monopoli dalam pengelolaan prasarana dan sarana strategis transportasi. “Saya memandangnya, tidak masalah dikelola swasta atau BUMN asalkan berorientasi ke layanan prima bagi masyarakat,” ujar Jonan. ([email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.