Daya Dukung Kawasan Borobudur Jadi Perhatian Tim Percepatan Pembangunan Destinasi Prioritas

0
988
Pemandangan Candi Borobudur di pagi hari karya foto Ray Setiawan, Gernasta Yogyakarta

pesona indonesiaJAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: TIM Percepatan Pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas, Kementrian Pariwisata untuk Candi Borobudur tengah mengkaji daya dukung obyek wisata warisan dunia itu, sejauhmana mampu menerima beban kunjungan wisatawan baik dari dalam dan luar negri yang setiap hari datang ke candi Buddha itu, kata Larasati Sedyaningsih, hari ini.

Anggota tim yang ditugaskan merumuskan langkah besar yang dibutuhkan untuk kawasan Candi Borobudur ini mengatakan sebelum Perpres Badan Otorita Borobudur (BOB) keluar akhir Maret, berbagai kajian dan kordinasi terus dilakukan a.l kajian agar wisatawan dibatasi untuk bisa mencapai puncak Borobudur.

Seperti diketahui Borobudur, sebuah monumen dengan batu andesit sebagai struktur utamanya sudah aus 1,8 cm setiap dikunjungi 50 juta pengunjung. Monumen ini terdiri atas enam teras dan sedikitnya 2.672 panel relief dan stupa utama yang sekaligus menjadi mahkota. Dibangun pada tahun 800 an Masehi karena itu perlu diantisipasi kerusakan untuk pelestarian candi Buddha terbesar di dunia tersebut.

Sebagai destinasi prioritas maka target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2019 ke Borobudur telah ditetapkan Presiden mencapai 2 juta orang turis asing dan 5 juta wisatawan nusantara (wisnus) sehingga totalnya jadi 7 juta wisatawan, ungkap Larasati.

Wanita cantik ini menambahkan bahwa begitu Perpres pembentukan Badan Otorita Danau Toba sebagai benchmark sudah ditandatangani Presiden Jokowi maka Perpres dengan penyesuaian lingkungan kawasan juga berlaku untuk Badan Otorita Borobudur. Kemampuan dan daya dukung candi menerima kunjungan wisatawan menjadi fokus perhatian pula termasuk alas kaki yang harus digunakan pengunjung.

“Oleh karena itu dalam rapat-rapat dengan instansi terkait seperti Kemendikbud yang selama ini mengelola ring satu sudah dipikirkan pula apakah tarif masuk kawasan dan naik candi dimahalkan saja sekalian. Tarif Rp 1 juta/per orang misalnya sehingga yang naik ke atas candi benar-benar orang pilihan dan peneliti, “.

Hal ini mengingat Borobudur milik warisan dunia jadi kalau tidak menperhatikan daya dukung maka jika terjadi kerusakan maka Indonesia bisa dikecam dunia internasional, tambah Larasati sambil menambahkan bahwa tugas tim percepatan 10 destinasi unggulan ini memang mewujudkan 3A yaitu Attractiveness, Amenities (fasilitas) dan Accessibility atau akses.

Saat ini pihaknya rajin melakukan kordinasi lintas sektoral, melakukan pendataan, pendalaman, dan merumuskan langkah besar apa saja untuk percepatan pembangunan kawasan tersebut mengingat target kunjungan wisman ke Indonedia pada 2019 adalah 20 juta orang sedangkan tahun 2015 baru 10 jutaan wisman.

Untuk kawasan Borobudur keterlibatan pemerintah daerah Kabupaten Kulon Progo, Purworejo dan Magelang yang intensif sangat dibutuhkan karena kalau bicara akses misalnya, bandara Yogjakarta sudah tidak bisa diperluas untuk menampung lebih banyak pesawat internasional sehingga pintu gerbang lain disiapkan di Kulon Progo.

Presiden Jokowi dalam kunjungan ke Candi Borobudur beberapa waktu lalu mengatakan kalau dalam tiga bulan masalah penggantian tanah untuk pembangunan bandara baru tidak selesai juga maka instruksinya adalah calon bandara di Kulon Progo batal dan dipindahkan ke daerah lain yang lebih kondusif.

“Soalnya menurut Angkasa Pura I yang akan mengelola, kalau pembebasan tanah rampung dalam kuartal pertama tahun ini  bandara baru itupun bisa beroperasi awal 2019. Sementara target kunjungan ke Borobudur total 7 juta wisman pada tiga tahun ke depan sudah membutuhkan bandara baru dari sekarang, “ kata Larasati.

Solusi dalam hal akses ini sudah dibahas dengan Kementrian Pekerjaan Umum dan Kementrian Perhubungan misalnya dengan menjadikan bandara Solo dan Semarang sebagai pintu gerbang wisatawan yang akan mengunjungi Borobudur. Untuk mencapai Borobudur dari Bandara Adisoemarmo, Solo, misalnya, bisa ditempuh 1, 5 jam melalui Selo namun jalannya masih rusak.

“Pelabuhan Semarang akan menjadi pintu masuk wisatawan mancanegara yang datang dengan kapal pesiar (cruise) menuju Candi Borobudur. Jadi nanti pihak swasta dan Barekraf yang mampu menciptakan paket-paket wisata dan beragam atraksi untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan di kawasan Candi Borobudur,” ungkapnya.

Jika masalah 3 A yaitu Attractiveness ( atraksi) , Amenities (fasilitas) dan Accessibility atau akses sudah teratasi maka penyelenggaraan event-event internasional dibutuhkan untuk menjaring wisman apalagi Borobudur namanya sudah mendunia.

“Event-event internasional seperti sport tourism Borobudur International Hash House Harrier pernah diselenggarakan tahun 2012 dengan menjaring 5000 wisman sukses dilaksanakan. Ada juga Borobudur 10 K serta Borobudur Jazz Festival. Event-event dengan icon Borobudur akan kita selenggarakan dan tentunya tidak mengganggu daya dukung dan upaya pelestariannya,” tandas Larasati Sedyaningsih.

Alumnus ITB ini bersama Tim Percepatan 10 Destinasi Prioritas diketuai oleh Hiramsyah Sambudhy Thaib, alumni arsitek ITB tahun 1981   bekerja maraton sesuai yang diharapkan Presiden Jokowi. Anggota tim lainnya khusus Danau Toba Sumatera Utara dipercayakan pada Rino Wicaksono, Tanjung Kelayang Belitung pada Fandi Wijaya, Tanjung Lesung Banten ditangani Ida Irawati.

Sementara untuk Kep. Seribu dan Kota Tua Jakarta dipercayakan pada Budi Faisal, Borobudur. Untuk Bromo-Tengger-Semeru Jawa Timur ditangani oleh AS Harsawardhana, kawasan KEK Mandalika Lombok Selatan NTB pada Taufan Rahmadi, Labuan Bajo NTT pada Shana Fatina, Wakatobi, Sultra ke Ari Prasetyo dan Morotai Maltara pada Ari Surhendro. (hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.