Dawai Cinta Mutiara Hitam, Upaya Miya Indra Promosikan Potensi Wisata Provinsi Riau

0
1140
Miya Indra ( baju biru) tetap cantik dan lincah di lokasi shooting film di Mandau, Duri, Riau

DURI, Riau, test.test.bisniswisata.co.id : Sudah sejak awal Mei lalu, Miya Indra, produser Film Dawai Cinta Mutiara Hitam berkutat di lokasi syuting di Mandau, Duri, Provinsi Riau. Gerak lincah wanita cantik ini mengendalikan kursi rodanya dari kejauhan sudah mengundang rasa ingin tahu apa yang dikerjakannya di tengah crew dan para pemain.

Miya Indra, produser film itu tidak pernah ragu untuk membuat sebuah film keluarga yang akan mengingatkan banyak pihak bahwa Duri sebagai kota penghasil minyak yang disebutnya sebagai mutiara hitam tidak bisa menjadi andalan selamanya.

“Harus ada yang mengingatkan bahwa sumber daya alam itu akan habis dan bagaimana daerah ini mempersiapkan diri untuk tetap menjadi penghasil devisa negara, sebaiknya mulailah serius kembangkan  potensi wisata daerahnya. Kalau pengeboran minyak terus berlangsung dan pariwisata Riau juga maju maka bukan tidak mungkin film ini akan membangkitkan potensi wisata daerah,” tuturnya.

Dia bukan mau mendompleng kesuksesan dari Film Laskar Pelangi  yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata dan  telah membangunkan potensi wisata Provinsi Bangka Belitung terutama di Pulau Belitung yang menjadi lokasi pembuatan film itu. Miya lebih meyakini keindahan alam Indonesia di berbagai daerah yang demikian indah bisa menjadi lokasi shooting film genre apapun sehingga apabila semakin banyak film berlatar belakang potensi wisata maka bisa mengharumkan nama bangsa ini.

“Kita tidak bicara kelokalan tapi harus mendunia, bukan hanya Babel yang bagus coba tengok Natuna, Wakatobi semua bisa menjadi lokasi film yang mengundang orang untuk datang berwisata,” ungkapnya menggebu-gebu.

Pemilik sebuah production house, Duri Kota Sakti ( DKS)  Production ini yakin keberpihakan pemerintah dan upaya Kementrian Pariwisata untuk mempromosikan Indonesia sebagai lokasi shooting film dunia harus didukung oleh kalangan industri film sendiri. Itu sebabnya selain di Mandau, lokasi shootingnya juga akan mengeksplore Pulau Rupat dan kawasan KEK Tanjung Lesung, Banten.

Contoh keberhasilan pemilihan lokasi shooting sudah banyak seperti film Eat, Pray and Love, film drama yang dibintangi Julia Roberts sebagai Elizabeth Gilbert yang lokasi shootingnya  pada 2009 berlangsung di New York, Pataudi, India serta di Bali, Indonesia dan filmya beredar pada 2010 lalu.

Setelah perkawinannya gagal karena tak kunjung hamil, Gilbert memutuskan bercerai dari suaminya. Dia merasa frustasi,  minggat ke luar negri dan menemukan kenikmatan kuliner di Italia, beribadah di India hingga akhirnya menemukan cinta sejati di Bali.

Moral Cerita Film

“Harus ada keyakinan untuk membuat film-film yang memilki moral cerita tinggi dan Dawai Cinta Mutiara Hitam memperlihatkan bakti seorang anak pada orangtua terutama ayahnya. Kita mengingatkan kembali pentingnya kebersamaan  dan saling berkomunikasi,” ungkap Miya.

Dia mengaku sangat prihatin dengan realitas sekarang ini dimana kebersamaan dalam satu keluarga saja sulit diciptakan. Di era dunia digital sekarang meskipun keluarga berkumpul di meja makan namun asyik dengan gadget ditangan masing-masing.

Film layar lebar yang dibintangi Cok Simbara, Guntur Triyoga, Claudia Inda Lamanna Erlin Sarinten, Nicky Tirta serta murid-murid sekolah setempat termasuk Kepala Dinas  Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Bengkalis H Eduar M.Psa ini bercerita tentang kehidupan nyata seorang putra daerah Mandau yang merantau dan berhasil di Jakarta.

Mempunyai segala – galanya bukan berarti mempunyai apa yang di inginkan. Harta, Kedudukan , ternyata bukan yang menjadi jaminan bagi seseorang untuk mendapatkan apa yang di namakan ” bahagia “. Itulah yang dirasakan Alifiansyah atau Aldo seorang pengusaha sukses yang berasal dari tanah Mandau.

Aldo kembali ke tanah Mandau untuk membuktikan bahwa dia bisa menjadi orang kaya dan bisa membuktikan kepada semua orang yang menganggapnya tidak mungkin sukses termasuk kepada seorang wanita yang bernama Meva.

Aldo juga selalu terngiang-ngiang oleh permintaan ayahnya untuk merantau dan menaikkan derajat diri maupun keluarganya. “Jika derajat kau itu naik, kampung ini dan derajat bangsa ini juga naik. Jadilah Orang kaya di tanah Melayu ini ” pesan ayahnya untuk menjadi kaya di tanah sendiri, ungkap Miya menceritakan sekelumit tentang filmnya.

 

Miya Indra, Producer Film
  Miya Indra, Producer film Dawai Cinta Mutiara Hitam

Menurut Miya, dalam film ini selain kental dengan budaya Melayu dan gambaran kebersamaan dari masyarakatnya sendiri, anak-anak juga akan diperkenalkan kembali dengan permainan tradisonal serta bentuk-bentuk permainan yang membutuhkan kerjasama tim.

“Sebagai film keluarga, saya ingin orangtua dan anak-anaknya menonton bersama dan si ayah atau ibu bisa menjelaskan bahwa dulu mereka masih suka bermain petak umpet, main layangan, main kelereng, main congklak, main pasar-pasaran yang semuanya dilakukan bersama tapi juga bermoral tinggi karena mengedepankan kejujuran,” tambahnya.

Miya juga berharap dengan menjadikan DKS Production spesialis membuat film-film layar lebar yang mengangkat potensi wisata daerah maka kiprahnya ini akan menggugah para investor untuk menanamkan modalnya lewat film di dalam negri sendiri.

“Sekarang kan di jaman MEA banyak investor justru lebih suka menanamkan investasinya di luar negri. Kalau saya selama di Indonesia tidak kehabisan potensi maka seberat apapun tantangan terutama dalam hal pembiayaan serta imej diri karena keterbatasan yang saya miliki maka investasi di dalam negri adalah yang terbaik,”.

Bangkit Dari Keterpurukan

Dua puluh lima tahun yang lalu, Miya Indra adalah seorang gadis penuh ambisi dan bercita-cita jadi seorang seketaris cantik, wangi, berpakaian rapi sehingga banyak bertemu pria tampan dan mapan. Dia juga berharap salah satu dari mereka kelak akan menjadi pasangan hidupnya.

Itulah sebabnya setamat SMA dari Palembang dia memilih kuliah di Akademi Seketaris Manajemen Indonesia ( ASMI). Miya Indra aktif di kegiatan kemahasiswaan terutama unit mahasiswa pecinta alam Mapala Aditya.

Pada semester ketiga di hari Sabtu bersama teman-teman berangkat ke Gunung Salak, Bogor,  menyusul kegiatan pelantikan calon mahasiswa /mahasiswi baru. Minggu sore usai kegiatan diapun kembali pulang ke Jakarta bersama rekan-rekannya. Namun malangnya kendaraan yang ditumpangi remnya blong dan masuk jurang saat Miya tertidur lelap.

Tahu-tahu dia sudah di ruang Intensive Care Unit ( ICU) rumah sakit. Tubuh penuh kabel tanpa bisa menggerakkan badan.Tulang punggungnya hancur, lengan kiri copot, paru-paru robek terkena serpihan tulang belakangnya sendiri dan banyak syaraf yang harus direhabilitasi..

Ayah dan ibunya adalah sosok lelaki tangguh dan wanita tegar menghadapi musibah yang dihadapi anak ke delapan dari 9 bersaudara ini. Meski Mia merasa langit runtuh dan dunia kiamat tetapi kedua orangtuanya selalu menekankan hidupnya masih panjang dan harus mandiri.

Itulah sebabnya akhirnya dia minta diantar kembali ke Jakarta dan tinggal di Wisma Difabel khusus pengguna kursi roda di kawasan Jakarta Selatan. Miya bukan hanya menjadi mandiri tetapi juga mendapat pekerjaan. Sebuah majalah ibukota kemudian mengangkat kisah hidupnya dan majalah itu dibaca oleh almarhum suaminya.

“Almarhum suami juga penyandang difabel dimana sejak pertemuan pertama kami sudah merasa cocok namun butuh tiga tahun untuk meyakinkan keluarga hingga akhirnya kami menikah. Alhamdulilah saya juga mendapat mertua yang sangat baik dan peduli. Sayang setelah 12 tahun menikah tanpa anak pada 2013 suami saya meninggal karena tumor tulang belakang,” jelasnya.

Tak mau berpangku tangan, hidup harus terus dilanjutkan dan Miya aktif mengurus bisnis kuliner, bisnis salon hingga akhirnya usaha melebar menjadi production house dan bergabung dengan beragam komunitas pengusaha seperti Billioner Mindset yang baru saja meluncurkan buku 100 Succesful Billionaires.

“Kekurangan jangan menjadi batasan tetapi justru harus menjadi kelebihan. Saya terus bersyukur atas apapun yang saya terima dalam hidup baik susah maupun senang. Kalau saya tiba-tiba menjadi produser saya akan banyak belajar dan terus meningkatkan skill meskipun mungkin orang meragukan tapi saya harus yakin dengan kemampuan diri,” tutur wanita yang selalu mengendarai sendiri mobil maticnya..

Kemanapun dia pergi, bahkan untuk turun naik lantai mall juga dilakukannya sendiri karena Miya berharap kondisi fisiknya justru bisa memotivasi mereka yang sehat dan memiliki bentuk tubuh yang normal dan utuh untuk selalu bersyukur atas hidupnya. Itulah sebabnya meskipun banyak mata memandangnya ketika ditempat publik dia justru bangga bisa menjadi role model bagi yang sehat.

“Tidak perlu keluar kata-kata motivasi, tapi dengan menjadi produser film ini saya ingin menunjukkan terutama pada teman-teman difabel bahwa Allah SWT tahu yang terbaik untuk kita karena itu jangan merasa cacat dan terbatas. Kejar apapun impian dan buktikan bukan hanya mimpi,” ucapnya membesarkan hati siapapun yang mampu memaknai kata-katanya. Selamat Miya, bismillah sukses filmnya ( Hilda Ansariah Sabri)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.