Dato Hussamuddin Yaacub pilih jadi “pecandu’dan ‘pengedar’ Al Qur’an

0
876

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Tampil bersahaja dengan baju putih dan wajah yang ramah dihiasi senyum, Dato Hussamuddin menjadi salah satu tokoh alumni ESQ yang popular diantara seribuan  alumni yang menghadiri rangkaian acara milad ke 15 ESQ  pada16-17 Mei 2015 di Gedung Menara 165, Jakarta Selatan.

Milad yang sekaligus menjadi hari deklarasi Moh Limo (M5), falsafah hidup yang diajarkan oleh Sunan Ampel, Wali Songo, beberapa abad lalu untuk tidak melakukan lima  hal tercela. Moh atau anti itu adalah  Moh Madat atau tidak mau menghisap candu, ganja, narkoba, Moh Ngombe atau tidak mau minum-minuman keras/ mabuk-mabukan,  Moh Maling atau tidak mau korupsi serta mencuri,  Moh Main atau tidak berjudi dan Moh Madon atau tidak mau terlibat prostitusi, pergaulan bebas/berzina‎

“Buat apa jadi pecandu narkoba, kita seharusnya menjadi pecandu dan pengedar Al-quran. Baca tiap hari dan pahami isinya karena di situlah rukh kehidupan. Apa saja aktivitas kita sehari-hari panduannya ada di Al-qur’an karena itu kembali ke hal dasar yaitu bacalah Al-Qur’an yang menjadi satu-satunya cara kita terhubung langsung dengan Allah SWT,” kata Dato Hussamuddin Yaacub meyakinkan.

Pria kelahiran Kota Bharu, Kelantan, Malaysia tahun 1957 ini adalah seorang pengusaha media asal Malaysia. Dia merupakan pendiri sekaligus pemilik Karangkraf Group yang merupakan penerbit majalah dan surat kabar terbesar di Malaysia. Darah saudagar memang diwarisi ayahnya, Haji Yaacub Idris, saudagar Mingangkabau asal Rao, Pasaman, Sumatra Barat yang merantau ke Kelantan, Malaysia dan memiliki toko buku di kota Bharu.

Menurut Hussamuddin sebelum mempelajari berbagai ilmu maka membaca, memahami dan menjiwai isi Alqur’an justru yang utama karena menjawab segala masalah yang dihadapi sehari-hari seperti terlibat dengan narkoba, mabuk-mabukan, korupsi, judi dan prostitusi. Penyakit sosial ini mendunia dan dihadapi oleh berbagai bangsa tidak terkecuali di Indonesia maupun Malaysia.

“Anak muda jaman sekarang merasa belajar agama cukup dari guru dan internet akhirnya malah salah jalan dan ikut kelompok militan atas nama jihad,” ucap bapak enam anak ini dengan prihatin.

Untuk itulah dia kini lebih suka menjadi pecandu dan pengedar Al-qur’an maksudnya dia membuat gerakan-gerakan masyarakat untuk belajar membaca Al-qur’an dan menyediakan ‘rumah mengaji’. Mula-mula di Kelantan targetnya hanya mendirikan 20 rumah ngaji tapi akhirnya kini sudah mencapai 700 rumah tempat masyarakat belajar membaca, memahami dan menjiwai Al-qur’an.

Tujuan pendirian rumah ngaji adalah memberikan kelas gratis agar masyarakat pandai membaca dan memahami isi Al-qur’an dari tingkat awal hingga mahir mulai usia 6-70 tahun. Tempat ini juga menjadi tempat pertemuan (meeting point)  antara murid dan guru. Para guru mengaji dilatih dengan kaedah dan teknik mengajar Al-Quran melalui latihan Train the Trainers  dari masa ke masa

Memahami isi Al-qur’an adalah hal mendasar untuk kehidupan seseorang. Kalau aktivitas dilakukan sesuai dengan panduan Al-qur’an maka seorang muslim bisa hidup selamat di dunia dan akhirat, tegasnya.

“Kalau kita tiap hari membaca Al-qur’an maka akan menjadi individu emas karena tidak akan terwujud  Indonesia Emas, Malaysia Emas atau Nusantara Emas jika tidak terbentuk individu emas dan keluarga emas dulu,” kata Hussamuddin yang sejak kecil memiliki hobi membaca buku.

Dia menilai Indonesia lebih beruntung karena memiliki banyak ustad, kyai yang memang mampu menjiwai Al’qur’an. Ustad Bachtiar Nasir, misalnya, mejadi ustad yang terkenal dan favorit di Kelantan karena mampu membimbing masyarakat untuk tadabur Qur’an dan menjiwai isinya.

“Setelah pandai membaca dan menjiwai Alqur’an maka posisinya sudah menjadi pecandu dan pengedar Al qur’an. Jadi kalau tiap hari kita lakukan maka kita menjadi pecandu dan selalu ingin menularkan kebiasaan membaca Al qur’an pada orang lain,” hadiahnya masuk surga,”ucapnya ringan

Hussamuddin sendiri  mengaku baru setelah selesai training ESQ, kesadaran untuk kembali ke hal dasar ( basic) yaitu membaca Al-qur’an secara rutin dan kontinyu dilakukannya setiap hari. Maklum setahun sebelum menyelesaikan pendidikannya di Universitas Kebangsaan, Malaysia tahun 1978 dengan  ijazah Sarjana Muda Ekonomi, dia sudah sibuk berbisnis dan menerbitkan buku.

Buku pertama yang diterbitkannya adalah Kajian Sejarah Melayu, lalu satu tahun kemudian ia bersama abangnya  Fickri Yaacob dan sepupunya Muhammad Nasir Hamzah  mendirikan  perusahaan Karangkraf Sdn Bhd. Kantor pertamanya berlokasi di kawasan Petaling jaya, Kuala Lumpur.

Sejak saat itu usahanya terus berkembang dan ia mendirikan beberapa anak perusahaan tidak kurang dari 32 usaha penerbitan dimilikinya termasuk surat kabar  Sinar  Harian, harian berbahasa  Melayu yang terkenal di Malaysia. Hussamuddin memperoleh penghargaan Dato’ oleh Duli Yang Maha Mulia Sultan Pahang pada November 2007 atas sumbangannya dalam bidang penerbitan

Sebagai CEO Karangkraft, Dato Hussamuddin  menegaskan sisa umur sebaiknya dipergunakan untuk memberikan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain dan ilmu itu adalah di dalam Al-qur’an. Kalau saja semua umat muslim memiliki kesadaran untuk membaca dan mengamalkannya setiap hari maka negara-negara Islam di dunia seharusnya adalah pencetak sumber daya manusia yang berkualitas atau World Class Human Resources.

“Jadi jangan terbalik, belajar beragam ilmu baru baca Qur’an setelah tua dan renta. Kita harus punya cita-cita untuk masuk surga dan kehidupan di dunia yang berjaya. Jadi belajar Al-qur’an sejak kecil hingga ke liang kubur dan terapkan tujuh dasar budi utama karena dimanapun di dunia ini yang dibutuhkan adalah sikap jujur, bertanggungjawab, visioner, disiplin, bisa bekerjasama, adil dan peduli,”

Hidup berjaya di dunia bukanlah sesuatu yang sifatnya pemberian tetapi harus diperjuangkan mulai dari hal kecil hingga akhirnya menjadi besar. Menjadi pengusaha juga bukanlah hal yang instant tetapi di mulai dari bawah.

“Awal jadi pengusaha bisa dimulai dengan jadi pedagang saja dulu, beli barang yang dibutuhkan dengan resiko yang rendah, setelah itu dengan kreativitas, inovasi dan visi kedepan akan lahir karya-karya sendiri,”

Konsistensi dibutuhkan  dalam menekuni bidang yang akan  menghasilkan kesuksesan kecil yang nanti akhirnya dapat menghasilkan keuntungan  gemilang. Jika menekuni suatu usaha dengan tekun dan sepenuh jiwa maka  hal itu sudah menjadi jaminan untuk mendapatkan keuntungan dan kepuasan dalam pekerjaan kita.

“Kiat lainnya adalah jaga arus uang karena pemilik bisnis hanya boleh membelanjakan 10% dari keuntungan usaha sehingga bisa menjaga aliran uang  tunai dan usaha tidak cepat gulung tikar karena kehabisan modal,” kata pria yang tidak suka meminjam modal ke bank.

Dato Hussamuddin mengingatkan untuk menjadi jutawan muslim maka harus ikhlas dalam berusaha, banyak sedekah dan suka tolong-menolong karena itulah yang diajarkan Al-quran. Hati yang ikhlas dalam berniaga akan membuat pengusaha muslim  itu lebih tenang dan diberkati Tuhan.

“Dalam bisnis maka setiap masalah, ada peluang besar jadi jangan lihat masalah sebagai satu penghalang namun harus dilihat dari sisi yang berbeda sehingga membuka peluang besar yang akan membawa keuntungan yang berlipat ganda,” katanya mengakhiri wawancara. (hildasabri@yahoo.com)
 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.