Clearance Approval Indonesia Territory Tak Mampu Dongkrak Kunjungan Kapal Pesiar

0
1183
Kapal pesiar merapat di pelabuhan Indonesia (Foto: http://habadaily.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Kebijakan penghapusan aturan izin memasuki wilayah Indonesia atau Clearance Approval Indonesia Territory (CAIT) sejauh ini dipandang belum berdampak signifikan dalam mendongkrak kunjungan kapal wisata asing di Tanah Air.

“Memang, sejak CAIT dihapus lewat Peraturan Presiden Nomor 105 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pelayaran Kapal Wisata Asing, belum terlihat perkembangan berarti terhadap kunjungan kapal wisata asing atau yacht, juga kapal pesiar,” papar Ketua Welcome Yacht Community (WYC) Hellen Sarita de Lima di Jakarta.

Aturan ini, sambung Hellen, semestinya membuka peluang bagi masuknya yacht asing di Indonesia. Pasalnya, pencabutan aturan CAIT memudahkan kapal wisata asing masuk ke wilayah Indonesia lewat 18 pelabuhan yang ditentukan.

Sejak beleid itu diterapkan pada September 2015, kapal wisata asing cukup mengantongi surat persetujuan berlayar (SPB). “Sampai sekarang masih biasa-biasa saja. Implementasi di lapangan masih bermasalah,” ujarnya seperti dilansir laman Bisnis.com, Rabu (22/6/2016).

Hellen mengungkapkan sistem di lapangan sering kali tidak online, sehingga menghambat wisatawan asing yang ingin berkunjung ke Indonesia. “Saya sering diminta bantuan oleh wisatawan asing yang datang dengan yacht karena kesulitan mengurus proses masuk ke wilayah Indonesia,” paparnya.

Fasilitas bea cukai dan imigrasi serta karantina di pelabuhan keluar dan masuk juga dinilai belum siap, termasuk dalam pengadaan pelayanan dan pemeriksaan satu atap. “Dari 18 port, belum semua diberikan kewenangan untuk beri visa on arrival,” ungkap Hellen.

Saat ini, pelaku bisnis yacht mengaku pasrah mengikuti aturan pemerintah walaupun belum ada perbaikan. Pihaknya akan menunggu hingga akhir tahun untuk melihat dampak dari regulasi tersebut, sebelum memutuskan langkah berikutnya.

Sementara, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Bahari Indonesia Indroyono Soesilo mengakui sistem online terkadang masih bermasalah. Namun, dia memastikan tidak ada pengajuan visa on arrival dan dokumen Custom, Immigration, Quarantine, Port (CIQP) oleh wisatawan asing yang ditolak.

Jumlah yacht yang datang ke Indonesia pun diklaim terus mengalami pertumbuhan. “Sudah ada peningkatan dari tahun lalu, terutama di wilayah Barat. Promosi dari mulut ke mulut lebih berhasil,” ungkap Indroyono.

Proses pengurusan dokumen saat ini diklaim memakan waktu paling lama dua jam. Efek penghapusan CAIT disebut sudah terasa dalam Sabang Marine Festival awal tahun ini. Festival itu berhasil mendatangkan 20 yacht dengan waktu promosi kurang dari dua bulan.

Sayangnya, Indroyono mengaku belum memiliki data lengkap mengenai total jumlah yacht yang masuk setelah deregulasi diberlakukan. Pemerintah pun tetap optimistis target 5.000 yacht pada 2019 dapat tercapai dengan adanya deregulasi ini. Nilai devisa diharapkan dapat menembus US$600 juta. (*/BIO)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.