Cintai Puspa dan Satwa Agar Tak Punah dari Habitat Alam Indonesia

0
991
Badak yang dibawa pulang dari Amerika Serikat ke Indonesia

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2015 yang diperingati setiap tahun, merupakan momen untuk membangun kesadaran dan kecintaan masyarakat pada puspa dan satwa agar tak punah dari habitat alam Indonesia.

 
Tema HCPSN kali ini mengangkat tema ‘Ayo Selamatkan Puspa dan Satwa Sebagai Penyangga Kehidupan, Mulai dari Lingkungan Kita.’ “Tema ini untuk mengingatkan kita untuk menyelamatkan puspa dan satwa agar tak punah dari habitat aslinya di alam Indonesia. Karena puspa dan satwa yang berada di sekitar lingkungan kita menjadi sumber ketahanan pangan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan,” kata Siti Nurbaya Bakar, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

 
Menurut dia, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Namun, kekayaan puspa dan satwa ini menghadapi berbagai ancaman dan tantangan yang merugikan Indonesia.

 
“Banyak spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi telah diburu dan diperdagangkan secara illegal. Kejahatan ini menjadi transnational organized crime dengan peringkat teringgi setelah narkoba dan pencucian uang,” ungkap Menteri LHK.

 
Guna menjaga keamanan pemanfaatan keanekaragaman hayati itu, kata Siti Nurbaya, Indonesia telah melakukan upaya pencegahan dan penegakan hukum terhadap pelaku tindak kejahatan perdagangan puspa dan satwa langka. “Karena trend kejahatan perdagangan puspa dan satwa liar ini dari tahun ke tahun terus meningkat,” ucapnya.

 
Indonesia sendiri, lanjut dia, telah meratifikasi Protokol Nagoya yang diwujudkan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2013 tentang Pengesahan Protokol Nagoya. Selain itu Indonesia juga melakukan penandatangan Letter of Agreement (LOA) on Combating Wildlife Crime dengan Amerika Serikat pada 17 Februari 2014 berdasarkan ratifikasi London Declaration on Illegal Wildlife Trade. “Upaya tersebut dilakukan untuk mendukung upaya penegakan hukum kejahatan puspa dan satwa langka,” tegasnya.

 
Menteri LHK Siti Nurbaya mengatakan pemerintah akan melakukan upaya perlindungan dan pelestarian sumber daya alam hayati. Upaya konservasi ini dilakukan untuk mendukung pemanfaatan keanekaragaman hayati dan ekosistem secara berkelanjutan. “Kita perlu mengerti masa-masa awal upaya konservasi yang cenderung berujung pada konflik kepentingan yang berkepanjangan dengan masyarakat tradisional di sekitar,” ucapnya.

 
Karena itu, lanjut dia, perubahan paradigma pengelolaan totally protected menjadi paradigma yang lebih scientific based. Pengembangan optimalisasi ecosistem services utilization di masa-masa mendatang memicu pengelolaan yang lebih bermanfaat, efektif, inklusif yang diterima masyarakat di sekitar kawasan. “Sehingga tercipta keseimbangan kepentingan ekonomi, ekologi dan sosial, seperti digambarkan dalam tiga pilar pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Trilogy),” jelasnya.

 
Dalam memperingati HCPSN 2015 kali ini, Suweg (amorphopalus paeoniifolius) dan Beo Nias (gracula religiosa robusta) dipilih sebagai ikon satwa nasional. “Penetapan ikon Puspa dan Satwa ini untuk mengajak masyarakat agar menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati sebagai aset,” tegas Siti Nurbaya.

 
Sebagai wujud upaya menjaga kepunahan satwa dari habitat aslinya di alam Indonesia, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya melakukan pemulangan badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) jantan “Harapan” dari Cincinnati Zoo USA ke Indonesia, dan repatriasi 14 ekor Orang Utan dari Thailand.

 
“Sekarang kita sudah ada RS Gajah dan Pusat konservasi Gajah Di Way Kambas, Lampung, yang baru saja diresmikan. Momen ini akan terus dikampanyekan agar masyarakat dapat ikut serta menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia,” ujarnya. (Arief Rahman Media)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.