Chris Lie Ingin Menghidupkan Komik Nasional Lewat re:ON

0
3330
Chris Lie

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Peluang bisnis yang cukup potensial dengan pasar yang terjangkau menjadi senjata andalan bagi penerbit komik re:ON (baca: reon) untuk membuat komikus lokal berjaya dinegeri sendiri.

Mengutamakan ide kreatif dan juga sentuhan lokal, re:ON hadir sejak tahun 2013 lalu dan telah menghadirkan 10 volume komik yang terbit setiap enam minggu sekali dimana media penyebarannya saat ini telah mencapai 17 ribu eksemplar per volume dan juga telah tersebar di toko buku Gramedia seluruh Indonesia serta minimarket Indomaret khusus region Jabodetabek, Bandung & Jogja.

re:ON yang berasal dari RE “kembali” dan ON “hidup” yang artinya menghidupkan kembali komik nasional ini memiliki keunggulan diantaranya cerita yang lebih variatif dengan genre komedi, petualangan, fantasi hingga drama, kualitas kertas yang ciamik dan rancangan serta metode penerbitan komik yang belum umum di tanah air membuat re:ON berbeda dengan komik kebanyakan.

Media cetak dan online melihat dari dekat proses pembuatan komik re:ON. (Foto. evi)
Media cetak dan online melihat dari dekat proses pembuatan komik re:ON. (Foto. evi)

Bukan hanya komik, re:ON juga menampilkan rubrik asik disetiap volumenya seperti tips belajar membuat komik, review submisi komik dari fans hingga galeri gambar yang dikirim dari penggemar.

“Visi kami menjadi pusat penerbitan komik Indonesia berbasis industri yang menghasilkan komik-komik berkualitas internasional serta memberi nilai tambah bagi para stakeholder utamanya yaitu pembaca, komikus, distributor dan sponsor.” ujar Chris Lie (40 tahun) selaku salah satu pendiri re:ON dan juga komikus dalam komik ini pada acara media visit di studio re:On, Grogol, Jakarta Barat, Jumat (12/12/14)

Komik buatan anak muda Indonesia menurutnya mulai digemari para pecinta komik lokal. “Cita-cita saya ingin menjadi inkubator bagi komikus dalam negeri yang berkarya profesional dan berkualitas internasional,” ungkapnya.

Media promosi social media seperti twitter dan facebook dikatakannya tak luput dari serangkaian strategi brand yang memiliki ikon lucu yang menggemaskan ini.

“re:ON comics hadir untuk menjadikan komik Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri dan kami selalu ingin menghadirkan konten yang bermutu bagi para pembaca,” ungkapnya.

Ia mengatakan, “Dari sini, kami ingin memberikan sesuatu yang berbeda lewat kompilasi komik dan dibuat oleh beberapa komikus dengan berbagai genre. Tujuannya cuma satu agar masyarakat kita dapat mengapresiasi karya anak bangsa dan juga menghargainya dengan cara berbeda”.

chris2Di studio re:ON, Chris mengajak media untuk melihat proses kreatif pembuatan komik oleh para komikus di majalah kompilasi komik pertama yang dikelolanya bersama Andik Prayogo dan Yudha Negara Nyoman.

“Pada 1970, komik di Indonesia terkenal adalah Gundala, lalu pada 1980 ada Tintin. Pada 1990 an komik nasional tak terdengar gaungnya,” cerita Chris.

Karya komikus Indonesia, seperti RA Kosasih, Teguh Santosa, dan Hans Jaladara, hilang di pasaran berganti dengan komik-komik impor seperti Doraemon, Naruto dan Candy Candy. Generasi muda lebih mengenal karakter komik impor dari Jepang.

Kenapa komik Indonesia tidak bisa maju? Menurut Chris karena penerbit komik di Indonesia belum digarap profesional dan tidak berjalan lama. “Butuh waktu dan komitmen untuk memperkenalkan yang baru,” kata Chris Lie.

Kesuksesan Chris Lie yang memiliki nama panjang Christiawan Lie di dunia ilustrator dan desain grafis berawal dari hobi menggambarnya sejak kecil.

Menjadi lulusan terbaik teknik arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) dari 25 jurusan yang ada, membuat Chris malah melirik bidang ilustrator komik,” Sempat jadi arsitek, tapi saya pilih jadi komikus,” ujarnya.

Chris Lie di ruang kerjanya
Chris Lie di ruang kerjanya

“Saya belajar dari mencontoh komik yang saya baca. Sejak kecil ita-cita saya ingin bisa belajar komik secara formal dan itu tercapai ketika saya berhasil mendapatkan beasiswa Fullbright di tahun 2003 untuk meneruskan S2 di bidang Sequential Art di Savannah College of Arts and Design,” ungkap Chris yang sempat bekerja di bidang arsitek di perusahaan pematung Nyoman Nuarta di Bandung ini.

Selama kuliah, Chris magang di perusahaan penerbit ternama, Devil’s Due Publishing. Pria kelahiran Solo, 5 September 1974 ini mulai dilirik, sejak saat itu. Ketika ada proyek action figur GI Joe dari Hasbro, perusahaan mainan raksasa pemegang lisensi pusat GI Joe, karya Chris rupanya yang terpilih.

Chris terlibat dalam pembuatan GI Joe Sigma 6 mulai dari pembuatan desain action figure, ilustrasi untuk cover DVD, kemasan serta media promosi lain yang berkaitan dengan komik tersebut di akhir 2004. (evi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.