Chinesse Muslim Association (CMA) Aktif Sosialisasikan Halal Tourism Di Taiwan

0
604

Sahaluding Ma, Sekjen Chinesse Muslim Association (CMA) Taiwan ( kiri),  bersama Priyadi Abadi dan seorang staf CMA ( foto: HAS).

TAIPEI, Taiwan, bisniswisata.co.id: Chinesse Muslim Association (CMA) mendukung penuh inisiatif pemerintah Taiwan untuk menjaring Muslim Traveller dari mancanegara dan siap memasyarakatkan pelayanan yang Muslim Friendly, kata Salahuding Ma, Seketaris Jendral organisasi itu.

“Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen bahkan sudah berkunjung ke Mesjid Agung Taipei ini dan mendengarkan semua aspirasi kami untuk menjadi tujuan wisata yang Muslim Friendly,” tambahnya sambil menunjuk foto di papan Mesjid Agung Taipei, Sabtu.

Asosiasi Muslim Tionghoa yang berkantor di mesjid itu memberikan sertifikasi halal karena CMA merupakan lembaga yang berwenang mengeluarkan sertifikasi halal untuk produk makanan halal, restoran, hingga hotel di Taiwan.

“ CMA mengeluarkan dua jenis sertifikasi yaitu HALAL dan MUSLIM FRIENDLY. Pada prinsipnya keduanya adalah sama tapi yang membedakan adalah siapa yang menjadi pemilik usaha tersebut. Bila pemilik restoran/hotel adalah orang muslim, maka sertifikasinya menggunakan logo HALAL biasa,” ujarnya

Namun bila pemiliknya non-muslim, ada tambahan tulisan Muslim Friendly. Untuk mengurus sertifikasi ini pemohon tidak membayar biaya sertifikasi namun diikat dengan perjanjian dengan sanksi hukum.Pemohon cukup mengajukan dengan melengkapi beberapa dokumen yang dibutuhkan

“Jika sistem CMA di langgar misalnya ada restoran terbukti menggunakan bahan tidak halal seperti minyak babi dan sebagainya maka dendanya setara dengan Rp 87 juta,” ungkap Salahuding yang lembaganya ini kalau di Indonesia seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Dia menjelaskan bahwa dalam dua tahun terakhir ini terdapat peningkatan jumlah restoran dan hotel bersertifikasi halal sebesar 10%-30%. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika seseorang ingin memiliki sertifikasi halal maka pemilik usaha tersebut diwajibkan mengikuti sistem yang ada.

Meskipun pemilik usaha tersebut, misal restoran, adalah seorang Muslim, bukan berarti mereka dapat langsung memasang logo HALAL ataupun menggunakan jasa pihak lain yang bukan dari CMA. Hal ini dikarenakan tidak semua muslim benar-benar paham apakah barang yang mereka sediakan itu 100% HALAL atau tidak sesuai kriteria yang telah digagas oleh CMA selama ini.

Selain itu, jika restoran tersebut asal saja menampilkan logo HALAL ditempatnya, hal tersebut akan merusak sistem yang telah dibangun CMA selama ini. Dan hal ini akan berkaitan secara administratif dengan list badan usaha yang akan CMA daftarkan di bidang Tourism Pemerintah Taiwan.

Salahuding Ma, Sekjen CMA yang mengeluarkan sertifikat halal dan berkantor pusat  di Mesjid Agung Taipei
Salahuding Ma, Sekjen CMA yang mengeluarkan sertifikat halal dan berkantor pusat di Mesjid Agung Taipei

Dalam beberapa tahun terakhir ini, pemerintah Taiwan cukup aktif mencanangkan Halal Food Tourism. Halal Food Tourism inilah yang akan membantu Muslim Traveller maupun non muslim untuk mengetahui mana yang termasuk makanan halal dan mana yang tidak.

CMA juga telah mengeluarkan sertifikat dapur ( kitchen) halal dan berperan juga dalam melatih tour guide yang berasal dari penduduk lokal dan umumnya non muslim, sosialisasi Islam bagi seluruh staf hotel di sebuah Hotel bintang lima dan kegiatan lainnya.

CMA sebagai lembaga resmi di bawah pemerintah Taiwan ini mengurusi segala ketentuan terkait Islam di Taiwan dan menjadi pintu utama Islam di Taiwan untuk urusan ke dalam dan luar negeri. CMA juga membawahi semua masjid – masjid yang berdiri di Taiwan. Setiap tahunnya, ada pertemuan para Imam masjid membahas mengenai Islam di Taiwan.

“Staf yang bekerja di CMA tidak banyak, namun mereka bekerja dengan sangat efisien”, ungkapnya. Di ruangan CMA yang berisi lima meja ada dua staf anak muda.

Kondisi Muslim di taiwan Muslim lokal yang berdomisili di Taiwan berjumlah sekitar 50.000 orang. Jika dilihat, jumlah muslim lokal lebih banyak di dominasi oleh kalangan generasi tua. Hal ini dikarenakan pemberian muatan ke-Islam-an lebih mudah diterima mereka daripada kaum muda.

Selain itu, kaum muda disini masih mengalami kesulitan untuk hidup di tengah komunitas mereka yang bukan Islam sehingga mereka belum semua yang siap menghadapi berbagai pandangan dari sekitar yang kadang negatif. Hamid , misalnya, salah satu staf di Mesjid Agung Taiwan yang dikelola oleh Yayasan begitu menjadi mualaf langsung di bully oleh keluarga sendiri.

“Perlu kesabaran dan menunjukkan bahwa Islam adalah ajaran yang baik dan penuh kesantunan sehingga akhirnya dapat ridho ibu dan anggota keluarga lainnya,” kata Hamid yang menjadi mualaf setelah kuliah di jurusan bahasa Arab dan mempelajari sejarah Islam.

Menurut Sahaluding Ma, faktor lain karena  Taiwan kaya akan berbagai perayaan di tiap musimnya yang tak jarang jauh dari muatan Islam. Hal seperti inilah yang membuat generasi muslim muda di Taiwan berorientasi pada materi dan duniawi.

Melihat bahwa tujuan hidup para pemuda di Taiwan makin berkutat pada urusan duniawi saja, membuat CMA prihatin. Apalagi mereka hanya melihat bagaimana cara mereka segera lulus, kerja, bahkan melanjutkan ke luar negeri.

Oleh karena itulah akhirnya CMA menginisiasi adanya summer camp , sejenis pesantren kilat di Indonesia yang diadakan di beberapa Masjid. Summer camp ini dilakukan di muslim panas bagi muslim muda Taiwan.

Setiap masjid di kelola oleh yayasan dan mesjid berserta segala urusannya masing-masing dijalankan oleh dewan direksi tersendiri, sedangkan penyelenggaraan beasiswa dan ceramah diatur oleh yayasan berafiliasi kepada asosiasi ini.

Selain memberikan pelayanan bagi umat Islam dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Taiwan pada umumnya, asosiasi ini melalui Komisi Urusan Luar Negerinya yang secara aktif telah terlibat dalam pertukaran kebudayaan dengan Muslim dari 46 negara di dunia,.

Banyak  di antaraya berasal dari negara yang belum memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Pemerintah Republik Tiongkok (Taiwan). Salahuding Ma berharap dengan keseriusan pemerintah Taiwan ke depannya bisa menjadi negara Muslim Friendly ke tiga di dunia maka populasi Islam di Taiwan juga akan meningkat.

“Kemudahan visa dan kebijakan lainnya akan menunjang. Pemerintah Taiwan menyadari ada sekitar 1,6 milyar MuslimTraveller yang setiap hari bergerak dari satu negara ke negara lainnya,” tabdasnya.(Hilda Ansariah Sabri).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.