Home INDEX Cara Sekolah Tetum Bunaya Menerapkan Cinta Berwisata Di Tanah Air

Cara Sekolah Tetum Bunaya Menerapkan Cinta Berwisata Di Tanah Air

0
1676
Laporan mengisi liburan karya siswa Sekolah Tetum Bunaya, Jagakarsa, Jakarta. Menanamkan cinta tanah air dan gemar berwisata dilakukan sejak usia dini saat di Kelompok Bermain hingga SD. ( foto: Hilda Sabri Sulistyo)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Peranan orangtua maupun guru disekolah dalam memupuk rasa cinta tanah air dan menanamkan kegemaran berwisata sangat besar. Oleh karena itu Sekolah Tetum Bunaya meminta kerjasama yang baik antara orangtua dan anak dalam membagikan cerita kegiatan wisata mengisi liburan.

“Sekolah kami terdiri dari Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar dimana siswa dibiasakan berbagi pengalaman wisata dengan membuat buklet berisi foto-foto kegiatan liburan keluarga dan keterangan singkat dari aktivitasnya di dalam foto itu,” kata Endah Widyawati, pendiri sekolah di bilangan Jalan Timbul IV B, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Menurut Endah sekolah dengan dengan 200 an murid dan 50 tenaga pengajar serta staf ini memotivasi orangtua maupun siswa  untuk menuangkan pengalamannya bahkan tidak perlu harus menunggu liburan sehingga tidak heran kalau di depan pintu ruangan kelas Kelompok Bermain misalnya ada lembaran kertas lebar berisi aktivitas anak-anak murid di rumah yang ditulis oleh orangtuanya.

“Anak-anak usia 2-3 tahun di kelas Kelompok Bermain belum bisa menulis tetapi dengan partisipasi aktif orangtua yang memotret dan menulis keterangan aktivitas anaknya di rumah atau saat berwisata maka teman-temannya dapat mengikuti aktivitasnya di fasilitasi guru ataupun mamanya yang selalu mendampingi di sekolah,”

Hasilnya memang mengesankan karena Danish Putra Alfariza, misalnya, yang berusia 3 tahun dengan bangga dapat memperlihatkan buklet Libur Lebaran 2015 lalu pada para guru yang dipanggilnya Kakak-kakak. Begitu juga dengan Givanya misalnya, dia pergi ke Medan dan mengunjungi Istana Maimun. Lain waktu dia berkumpul dengan sepupunya di Yogyakarta.

Aktivitas Givanya dalam perjalanan hingga menyimpan tiket pesawat, karcis masuk obyek wisata dan hal-hal yang ditemui termasuk pengalaman wisata kuliner mampu diceritakan dengan baik. Selain Givanya ternyata ada siswa lain yang yang berlibur ke Bandung , Jogjakarta, Medan , Bali dan kota-kota lainnya.

“Kalau siswa SD mereka sudah paham untuk membuat buklet dan menceritakan pengalamannya dengan tulisannya sendiri. Bahkan sampul buklet sudah mampu dihias secantik mungkin dengan menempelkan beras, kacang-kacangan dan kertas warna-warni yang indah penuh kreativitas.

Endah menjelaskan lingkungan sekolah  sehari-hari juga telah membuat anak-anak berada dilingkungan yang nyaman dan banyak taman sehingga kemampuan mengekspresikan pengalaman dan pendapat memang sudah terlatih sejak usia dini.

Pihaknya memang menerapkan pendekatan pembelajaran Montessori yang menciptakan pembelajaran menarik sehingga nantinya anak berkembang dengan kemauan dan minat anak sendiri. Oleh karena itu rekrutmen siswa sangat bergantung pada sejauhmana orangtuanya mau berperan aktif dalam pendidikan formal putra dan putrinya ini.

Setiap anak yang masuk ke Sekolah Tetum Bunaya melalui prosedur asesmen agar kami mengetahui tingkat perkembangan seorang anak dan kami dapat melakukan stimulasi sesuai dengan tahapan yang dimasukinya.

“Jadi orangtua harus terlibat dan komunikasi dengan orang tua dilakukan dengan intens,” ungkap Endah yang bangga karena partisipasi orangtua murid bahkan dalam hal mengembangkan website sekolah dan rasa memiliki yang kuat.

Sekolah Tetum merupakan sekolah hijau tidak hanya secara fisik tetapi juga filosofinya. Halaman berumput memungkinkan anak mengembangkan kemampuan bereksplorasi sesuai dengan tahap anak-anak yang dilalui.

Sesuai namanya  Tetum singkatan dari  Terus  Tumbuh  maka para  orangtua diberikan pengarahan secara terus menerus untuk tidak memaksakan kehendak kepada anak. Mereka terus tumbuh dengan bakat dan minatnya masing-masing. Semua anak melakukan aktivitasnya secara mandiri sesuai dengan tahap perkembangannya dengan tetap didampingi guru. Pola pendekatan Montesori dimulai dengan latihan aktivits sehari-hari, dari segi bahasa, budaya, geografi, sensori, matematik, dimana anak melakukan pembelajaran dengan menggunakan benda-benda konkrit

“Visinya kami menciptakan pemimpin masa depan yang cerdas dan arif dan misinya mengembangkan kemampuan anak untuk mencapai keberhasilan pribadi agar ia menjadi insan yang bertanggung jawab. Kami mengacu pada kurikulum berstandar nasional dengan proses pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan, dengan mempertimbangkan perbedaan,” jelas Endah.

Kerjasama orangtua-siswa dibutuhkan dalam membuat buklet laporan perjalanan wisata. ( foto: Hilda Sabri Sulistyo)
Kerjasama orangtua-siswa dibutuhkan dalam membuat buklet laporan perjalanan wisata.

Cara kakak atau  guru-guru menanamkan cinta wisata pada anak-anak dengan menanamkan rasa syukur dan intinya adalah rasa kebersamaan di dalam keluarga. Kalau teman-temannya bisa berwisata ke Bali, Jogja, Semarang, Banjarmasin dan kota lainnya maka mereka yang hanya bisa berlibur di rumah jangan berkecil hati karena pergi ke mall dengan orangtua juga sudah aktivitas wisata.

Ada cerita salah satu anak tingkat SD di Tetum yang membuat teman-temannya ingin berkunjung ke rumahnya karena bercerita di waktu liburan ia membuka kursus Art n Craft, kreasi di rumahnya setiap hari Rabu dan Jumat.

“Cerita Kakak-kakak bahwa dia juga membagikan kartu nama buatannya dengan percaya diri dan menunjukkan ekspresi pengelola kursus profesional membuat kami bangga. Apalagi mendengar hal itu, teman-teman lainnya tertarik untuk ikut sebagai peserta kursus seni,” jelasnya.

Banyak kegiatan wisata yang diisi dengan kursus-kursus bahkan di Yogyakarta banyak wisatawan mancanegara justru kursus membantik, di Bali ada kursus membuat jamu dan memasak menu tradisional. Dengan menanamkan hal-hal semacam itu pada anak-anak maka banyak peluang yang bisa diperoleh sejak usia dini. Endah berharap dengan berkembangnya kegiatan wisata sebagai bagian dari gaya hidup maka pemilihan jenis wisata edukasi bisa lebih intens. (hildasabri@yahoo.com)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here