Candi Sojiwan Menginspirasi Lahirnya Motif Batik Unik & Menarik

0
647
Wisatawan mengamati batik Sojiwan di pelataran candi (Foto: kemdikbud.go.id)

KLATEN, bisniswisata.co.id: Candi Sojiwan memang tidak seterkenal Prambanan dan Borobudur, namun candi di Klaten Jawa Tengah ini, punya cerita sejarah yang tak kalah menarik. Disisi lain, keberadaan candi ini mampu mensejahterakan warga sekitar,lantaran menginspirasi lahirnya motif batik yang unik dan menarik.

Candi ini dibangun Raja Balitung di zaman Dinasti Mataram Kuno pada abad ke-8, Candi Sojiwan merupakan monumen yang dibangun sebagai simbol penghormatan raja kepada neneknya, yakni Nini Haji Rakryan yang beragama Buddha.

Relief Candi Sojiwan didominasi oleh gambar cerita binatang. Di antara banyak cerita binatang, salah satu yang menarik adalah relief yang menggambarkan seekor kera yang mampu mengelabuhi buaya sehingga si kera bisa menyeberang sungai.

Beragam relief inilah yang kemudian menginspirasi warga Dusun Sojiwan Kebon Dalem Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah dalam menciptakan motif batik yang baru.

Saat peluncuran Batik Sojiwan yang dihadiri UNESCO Jakarta di pelataran Candi Sojiwan, Kamis (19/1/2017), Legowo Ketua II Kelompok Batik Sojiwan mengatakan, tak hanya gambar belaka, di dalam motif batik ini juga terkandung banyak makna filosofi.

Cerita binatang yang ada pada relief Candi Sojiwan menceritakan kebijaksaan yang mengandung nilai-nilai. Hingga kini sudah ada 16 motif batik yang diberinama sesuai dengan relief-relief yang ada pada bangunan candi.

“Itu hasil dari 21 orang pengrajin sekarang masih 13. Waktu itu ada tamu dari Jakarta kebetulan ada event disini batik kami diborong semua,” kata Legowo.

Saat ini Batik Sojiwan sudah dibuat dalam dua cara, yaitu tulis dan cap. Khusus tulis setiap 2,5 meter dihargai Rp 500 ribu, sementara batik cap dibanderol dengan harga lebih murah, yaitu Rp 250-300 ribu.

Sementara Hendra Pram, warga Dusun Kebon Dalam Kidul Prambanan menciptakan kain dengan motif binatang seperti yang tertera dalam relief. “Ada motif monyet, burung gagak, ular, kepiting, angsa, dan kambing,” ungkapnya.

Dalam sebulan, ia dan 13 temannya mampu membuat 13 potong kain batik. Kain batiknya dijual mulai Rp250.000-Rp660.000 kepada para wisawatan yang berwisata ke Candi Sojiwan maupun di desa wisata di dekat candi tersebut. Pembeli tidak hanya dari kalangan wisatawan tetapi juga kolektor kain batik.

“Otomatis kegiatan ini akan meningkatkan perekonomian karena pendapatan kami jadi bertambah. Semoga masyarakat lain juga akan bergabung,” kata Hendra.

Pembuatan batik motif relief candi sudah dimulai oleh Unesco, organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memiliki perhatian pada pelestarian budaya. Sejak satu tahun lalu, Unesco telah mendampingi warga di sekitar candi Borobudur, Prambanan, Candi Ijo juga Candi Sojiwan untuk memproduksi kain batik dengan motif yang mengeksplorasi lingkungan sekitar. (*/BBS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.