Bulan Patriotisme ”Ngoncang, Kacang Ori” sampai di Bawah Air

0
1218

SINGARAJA,bisniswisata.co.id,- AGUSTUS adalah bulan patriotisme bagi bangsa Indonesia. Sejak awal bulan,kreator bisnis bendera Merah Putih mulai menggelar lapaknya di pinggir jalan- jalan strategis. Ragamnya pun setiap tahun makin kaya. Baik dari bentuk, mau pun bahan bakunya. Hal harga jual? Jelas meningkat tiap tahun penyelenggaraan peringatan Kemerdekaan RI.
Acara memeriahkan peringatan 17 Agustus sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia pun beragam, dari yang supra modern – nyaris kehilangan ke Indonesia – annya, dan masih ada juga masyarakat yang patuh dengan kearifan nenek moyangnya dengan menggelar aktivitas tradisi. Dari lomba balap karung, kelereng dan sendok sampai panjat pinang yang mengajarkan kebersamaan dan keguyuban saling membantu untuk mencapai tujuan yaitu ‘’ragam hadiah’’.
Tahun ini, bolehlah kita menikmati aktivitas masyarakat di desa Munduk, Singaraja, Bali Utara. Di desa wisata ekologis Munduk diselenggarakan pesta rakyat yang kental bernuansa agraris dimeriahkan atraksi ngoncang.
Menurut Bendesa Munduk, Jro Putu Ardana, ngoncang adalah tradisi bersyukur pada Ibu Bumi. Tradisi ngoncang dilaksanakan secara berkelompok dengan memukulkan alu/elu (alat menumbuk padi berupa batang kayu berbentuk bulat memanjang ) kedalam lesung/ketungan berbahan kayu yang dimainkan secara berirama. ‘’Dalam irama yang dimainkan mengandung arti sakral,’’ jelasnya.
Tradisi ngoncang dilakukan para kaum wanita saja, karena pada zaman dahulu hanya kaum ibu yang berkewajiban menumbuk padi menjadi beras, sehingga tradisi ngoncang berawal dari fungsi ketungan pada zaman dahulu.

Tembang menumbuk padi menjadi beras.
Tembang menumbuk padi menjadi beras.

Peringatan 70 tahun Indonesia merdeka, makin semarak dengan digelarnya lomba ‘’Kacang Ori’’, serupa permainan tradisional ular naga atau desa lain di Bali dikenal dengan permainan magoak- goakan. Pemain dengan dress code adat madya, menjadikan atraksi ini makin seru. Atraksi ini tidak hanya mampu mengumpulkan warga desa, tetapi juga menarik minat wisatawan yang sedang berlibu di Desa Munduk untuk ikut ambil bagian.

Di Bawah Air
Jika masyarakat di desa pegunungan, memperingati kemerdekaan dengan atraksi tradisional, kriya pegiat agraris. Berbeda dengan masyarakat di pesisir Bali Utara lainnya. Di desa wisata ekologis Pemuteran misalnya, usai menggelar upacara bendera sejumlah pegiat lingkungan membuka bank sampah plastik. Setiap warga yang menabung sampah plastik mendapat hadiah istimewa terkait 70 Tahun Indonesia Merdeka.

Tabungan sampah plastik
Tabungan sampah plastik

Acara 17 Agustus 2015, tidak dilakukan di bawah air, pasalnya arus dan kondisi laut kurang bersahabat, jelas Komang Astika dari Biorock Centre Pemuteran. Dijelaskannya, tahun- tahun sebelumnya menyelenggarakan upacara bendera di bawah air dan dilanjutkan dengan membersihkan sampah plastik. Tahun ini, aktivitas dipusatkan di darat dan cukup banyak sampah plastik terkumpul dari nasabah bank sampah yang dikelolanya.

Menembus batas
Menembus batas

Jika di Pemuteran, pegiat wisata bahari ‘’mendaratkan’’ aktivitasnya, tidak dengan kelompok divers dibawah koordinasi dive operator BDIP. Sebanyak 9 orang diver difable anggota Love Mother Nature Difable Dive Club, untuk kesekian kalinya menggelar upacara bendera bawah air. Kondisi perairan Tulamben yang kurang bersahabat, tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap menyelenggarakan upacara bendera di bawah amuk arus laut yang kencang. ‘’Tubuh boleh ‘’terbatas’’, namun dengan keterbatasan itu harus mampu menembus batas’’, tegas pengibar bendera Anjeli.
*( dwi: [email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.