Home INDEX Budaya Suku Unik Terancam Punah Akibat Pariwisata

Budaya Suku Unik Terancam Punah Akibat Pariwisata

0
2788
Rumah Pohon suku Karowai Papua

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Budaya suku asli bahkan cenderung primitif di penjuru jagat raya, kini banyak tergeser oleh modernisasi. Malah budaya suku tradisional itu terancam punah akibat merebaknya nilai budaya asing yang masuk, dan justru menggerus budaya asli suatu daerah.

Selain itu, pariwisata dianggap menjadi pemicu hilangnya kebudayaan suku asli. Mengingat banyaknya wisatawan yang datang ke daerah suku asli mampu mengubah pola pikir, gaya hidup, nilai budaya, adat istiadat dan kebiasaa mereka.

Dilansir dari Listverse, Kamis (22/1/2015), berikut beberapa budaya menarik dan unik dari berbagai suku di berbagai belahan dunia, yang diperkirakan akan hilang malah berada di ambang kepunahan. Mereka adalah:


01.Tsaatan, Mongolia Utara

Sangat bergantung pada rusa yang membuat suku ini menjadi unik. Di sana, rusa bisa dijadikan transportasi maupun sumber makanan. Suku ini memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan turis. Tanpa peran pemerintah, budaya Tsaatan dimungkinkan segera punah. Anak-anak di sana juga sudah banyak beralih menggunakan teknologi modern seperti komputer dan meninggalkan tanah Tsaatan.

02. Ladakhs, India

Karakter orang Ladakh dikenal penuh kesabaran, tolerasi dan kejujuran. Ladakh, yang terletak di bagian timur Jammu dan Kashmir India ini bisa dikatakan merupakan salah satu daerah tempat tinggal tertinggi di muka bumi. Ladakh bagai gurun tandus di musim panas dan gunung beku di musim dingin. Ladakh hampir terisolasi sepenuhnya sampai ada pembangunan jalan pada 1962. Dampak modernisasi juga semakin nyata sejak pemerintah menggenjot pariwisata Ladakh sejak 1975.


03. Huaorani, Ekuador

Suku yang juga dikenal sebagai Waos asli Amerindian dari Amazon Ekuador ini memiliki sejarah legendaris soal kemampuan mematikan lawan. Bagi suku Huaorani, balas dendam adalah gaya hidup. Sejak sebuah perusahaan energi ingin menambang minyak mentah di kawasan itu, suku ini marah. Terlebih saat pemerintah setempat seolah tutup mata dengan hal itu. Adapun Huaorani menyatakan, mereka akan bertempur sampai mati menggunakan blowguns, parang, ataupun tombak jika perusahaan pengebor minyak itu terus mengganggu lingkungan mereka.

04. San, Afrika

Suku ini tampak sangat religus. Mereka memiliki bahasa khas dan tarian jerapah. Kemungkinan punahnya San dikarenakan telah dipindahkan secara paksa ke tempat lain. Penggusuran itu diduga karena motif pariwisata, penambangan berlian dan lainnya. Dikabarkan pula polisi telah menghancurkan banyak rumah mereka. Banyak orang telah menderita penyakit AIDS dan hidup dalam pola yang tidak menentu karena menganggur. San memperjuangkan haknya lewat pengadilan namun pemerintah tampaknya tidak menggubris.


05. Awa, Brazil

Sebelum wilayah suku Awa diserbu, kehidupan mereka harmonis di tengah hutan hujan Amazon Brazil selama berabad-abad. Mereka berbagi mangga dan tempat tidur gantung. Para wanita terkadang memberi ASI pada hewan seperti monyet bahkan babi kecil. Pada 1967, ada misi operasi pertambangan besar yang didukung Bank Dunia dan negara-negara industri seperti Amerika Serikat dan Jepang. Wilayah Awa lalu diserbu hingga menghancurkan petak besar hutan hujan yang menjadi sumber makanan mereka.


06. Cocopah, Amerika

Bertahun-tahun Cocopah berjuang melestarikan budaya dari manipulasi pemerintah. Suku ini bertani dan memancing selama lebih dari 500 tahun di delta Sungai Colorado, Arizona AS dan negara bagian California serta Sonora Meksiko. Beberapa tahun terakhir jumlah orang di sini mencapai sekitar 22.000 tapi saat ini sudah berkurang menjadi sekitar 1.300.

07. Mursi, Ethiopia

Kaum mursi dikenal dengan piring besar yang dimasukkan ke dalam mulut gadis usia 15 atau 16 tahun di sana. Istilah piring mulut merupakan simbol kedewasaan dalam lingkungan sosial mereka. Para gadis harus meregangkan bibir semakin lebar untuk menampung piring besar. Gadis-gadis yang paling gigih akhirnya akan memakai piring minimal 12 cm. Dalam beberapa dekade terakhir, pemerintah Ethiopia telah memulai pembangunan berskala besar di tanah Mursi salah satunya untuk dijadikan taman nasional komersial. Ribuan suku telah digusur.

08. Samburu, Kenya

Selama ratusan tahun, Samburu menjelajahi Kenya utara mencari air dan rumput sebagai satu-satunya sumber makanan mereka. Samburu kini terancam oleh kekeringan terutama pemerintahan yang pernah membakar rumah-rumah serta memerkosa gadis-gadis Samburu. Gadis itu dilarang hamil ataupun bila melahirkan, anak itu harus dibunuh atau diberikan. Sebuah lembaga telah berusaha menyelamatkan kondisi ini dengan membawa bayi itu ke panti asuhan. Pelecehan ini bermula dari kedatangan badan satwa liar Amerika yang membeli tanah Samburu untuk dijadikan taman nasional. Ribuan keluarga Samburu dipaksa pindah dan dibiarkan hidup seperti penghuni liar di tepi tanah yang disengketakan.


09. Loba, Nepal

Orang-orang Mustang atau Loba ini hidup tanpa teknologi modern dan kesempatan pendidikan. Loba memiliki sejarah perlawanan terhadap pemerintah Cina. Mustang ditutup untuk orang asing sampai 1992 dan hanya dapat diakses dengan berjalan kaki atau menunggang kuda bahkan hingga saat ini. Beberapa Mustang telah menyambut modernisasi, namun pemimpin mereka khawatir budaya Buddha Tibet itu akan punah selamanya.


10. Korowai, Papua

Sebuah suku primitif di Papua Indonesia yang memiliki tradisi rumah pohon. Satu keluarga penduduk bisa tinggal hingga delapan orang dalam rumah kayu beratapkan daun yang dibangun 6 sampai 12 meter (20-40 kaki) pada satu pohon. Korowai tinggal di pohon untuk menghindari serangan yang dipercaya berasal dari mayat dan penyihir laki-laki tanah. Korowai punya tradisi unik memeringati hari kelahiran, kematian, pernikahan atau pembunuhan. Terdapat sekitar 3 ribu anggota suku yang tersisa sampai saat ini. Suku yang hanya berpakaian penutup kelamin pengonsumsi sagu, rusa, dan babi hutan ini sudah banyak merantau hingga budaya mereka dimungkinkan segera hilang. (marcapada@yahoo.com)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here