Borobudur & Greater Joglosemar Siap Terima Peserta IMF-WB 2018

0
376

Candi Borobudur, salah satu obyek wisata yang akan dikunjungi peserta sidang tahunan IMF -Workd Bank ( foto: Rudolf/pixabay.com)

MAGELANG, bisniswisata.co.id: Secara umum obyek wisata di Borobudur dan Greater Joglosemar siap menerima delegasi IMF-World Bank (WB), Oktober 2018, kata Larasati Sedyaningsih, Person in Charge (PIC) Borobudur pada Pokja 10 Destinasi Prioritas Kementerian Pariwisata.

“ Hasil survey tim gabungan pada 23-24 Mei lalu menunjukkan kesiapan wilayah ini dalam menerima tamu. Hanya perlu beberapa pembenahan infrastruktur di titik-titik tertentu pada jalur menuju destinasi wisata” ungkap Larasati hari ini.

Menurut dia secara umum infrastruktur menuju obyek-obyek wisata di Borobudur dan sekitarnya sudah baik. Beberapa titik yang perlu dibantu yaitu Jembatan Srowol menuju Candi Borobudur dan pipanisasi air dari Mungkid ke Desa Wanurejo dan Candirejo, tambahnya.

Namun untuk Desa Wisata Nglanggeran, Gunungkidul, ada banyak kebutuhan infrastruktur. Saat ini sedang didata oleh Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW).

Pemerintah mengganggarkan dana hingga Rp 1 triliun untuk menyukseskan pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bali pada 8-14 Oktober 2018 di Bali dengan 15 ribu peserta plus rombongan tamu bakal hadir.

Untuk menyambut puluhan ribu peserta, sejumlah obyek wisata akan ditawarkan untuk dikunjungi. Oleh kareba itulah dilakukan survei pada 23 -24 lalu dengan melibatkan tim dari berbagai unsur. Mulai dari Kemenko Maritim, Kemenpar, Perhubungan Udara, Angkasa Pura, BPIW, Balai Besar VII Semarang, Dinas PU Kabupaten​ Magelang, Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Magelang dan Dispar DIY.

Survei hari pertama (23/5) mengunjungi sejumlah obyek di Magelang dan sekitarnya. Mulai dari MesaStila l, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Borobudur, Desa Wisata Candirejo dan Wonorejo.

Hari kedua (24/5) surveI ke lokasi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mulai dari sentra kerajinan batik, kerajinan perak di Kotagede, Kompleks Keraton Candi Ratu Boko dan Candi Prambanan. Sedangkan Tim BPIW mengunjungi Desa Nglanggeran di Gunungkidul.

Embung di Desa wisata Nglanggeran, salah satu obyek wisata di DIY

“Hasilnya, untuk obyek-obyek wisata relatif siap dikunjungi wisman, baik bangunan maupun SDM-nya. Hanya untuk candi-candi perlu ada pembenahan toilet dan papan signage,” tegas Larasati.

Selain kesiapan obyek wisata, “pintu gerbang” wisatawan yaitu bandara juga mendapat perhatian. Di antaranya kapasitas lounge Bandara Adisucipto. Saat ini lounge bandara internasional ini hanya berkapasitas 175 orang. Tahun ini, pihak Angkasa Pura akan merenovasi lounge ini hingga kapasitas daya tampungnya naik menjadi 200.

Dalam konteks penerimaan tamu wisatawan, harus dikaji secara serius apakah bandara Adisucipto siap menerima tamu dalam jumlah besar dalam waktu yg berdekatan. Ataukah harus dibagi dengan Bandara Adisumarmo Solo dan Achmad Yani Semarang.

Menpar Arief Yahya terus mendorong agar tim percepatan Borobudur ini melompat lebih cepat. Apalagi Presiden Joko Widodo sudah setahun lebih menginjakkan kaki ke Candi Budha Terbesar di dunia itu. Persisnya 12 Januari 2016, atau 16 bulan yang lalu.

Kala itu Presiden Jokowi bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Menpar Arief Yahya dan beberapa menteri lain menyebut Borobudur adalah Mahakarya Budaya Dunia yang harus menghasilkan lebih banyak wisatawan mancanegara.

Oleh karena itu presiden meminta kepada seluruh kementerian yang terkait percepatan pengembangan destinasi prioritas Borobudur juga bekerja lebih cepat.(*/ HAS)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.