Blade Runner 2049, Menerawang Kemuraman Masa Depan

0
372
blade-runner-2049

JAKARTA, Bisniswisata.co,id: Tahun 2049. Kondisi Kota Los Angeles, AS, amat jauh berbeda. Teknologi teramat canggih, sayangnya alam tergerus habis sampai tidak ada pohon tersisa. Kecerdasan artifisial yang digagas manusia kian mengemuka, bahkan berlebihan. Salah satunya adalah perusahaan teknologi bernama Wallace yang membuat dan memperkerjakan berbagai seri replicant alias manusia buatan.

Replicant bernama K bekerja untuk Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD). Misinya membongkar rahasia lama, dan berjumpa mantan anggota LAPD yang telah menghilang selama 30 tahun. Cuplikan itu merupakan rangkuman kisah dari film Blade Runner 2049. Sinema bergenre thriller fiksi ilmiah besutan sutradara Denis Villeneuve itu merupakan sekuel dari film Blade Runner yang tayang pada 1982.

Kesan utama yang digambarkan film berdurasi 162 menit ini adalah kemuraman. Iklim tidak bersahabat karena lingkungan rusak parah, penduduk kota yang kesepian seolah tanpa jiwa, penyesalan bahwa banyaknya temuan teknologi tidak membuat manusia lebih bahagia.

Kemajuan teknologi tampak begitu hidup, seperti pertunjukan hologram, mobil terbang, istri virtual, tata kota penuh kecanggihan. Merajalelanya distopia aliaskondisi masyarakat minus nilai moral di mana manusia kehilangan harkatnya mungkin dihadirkan sebagai konsekuensi dari semua itu. Blade Runner 2049 menawarkan perenungan soal wajah dunia di masa depan, dibarengi visual mengesankan dan alur cerita yang akan mengecoh penonton.

Resume dari Blade Runner 2049 seperti dilansir laman Republika.co.id, antara lain:

# Sekuel berkelas

Film Warner Bros Pictures arahan sutradara Denis Villeneuve ini patut dijuluki sebagai sekuel berkelas bagi film pendahulunya, Blade Runner yang rilis pada 1982. Laman ulasan Rotten Tomatoes memberinya skor 89 persen untuk visual ciamik dan narasi mengesankan.

# Film neo-noir

Tim produksi menyebut Blade Runner 2049 sebagai film neo-noir. Istilah itu merujuk pada bentuk modern atau kontemporer dari film noir alias sinema bernuansa gelap, namun dengan pembaruan tema, konten, gaya, dan elemen visual yang melengkapinya.

# Pesona para aktor

Setelah lebih dari tiga dekade, Harrison Ford kembali melanjutkan peran dengan mengesankan sebagai tokoh Rick Deckard. Lawan mainnya adalah aktor Ryan Gosling, memerankan manusia buatan alias replicant bernama K yang bertugas sebagai anggota Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD).

# Totalitas peran

Selain Ford dan Gosling, nama-nama lain menunjukkan totalitas lewat peran masing-masing. Ada Ana de Armas yang amat meyakinkan sebagai istri virtual dari K, Sylvia Hoeks sebagai replicant berdarah dingin bernama Luv, juga Jared Leto sebagai pendiri perusahaan teknologi Wallace.

# Paranoia kehidupan

Keseluruhan film bagaikan paranoia atau ketakutan berlebihan mengenai kehidupan di masa mendatang. Dunia yang sarat dominasi teknologi justru makin kacau, tidak bahagia, memupuk rasa keterasingan dan kepahitan warganya.

# Kemiripan konten

Kisah manusia buatan yang memberontak juga dijumpai pada film lain, salah satunya sinema luar angkasa Alien: Covenant. Kemiripan konten tersebut mungkin disebabkan sentuhan sutradara sekuel film pertama, Ridley Scott, yang juga merupakan kreator seluruh seri film Alien.

# Musik pengiring

Pada beberapa bagian, musik Blade Runner 2049 terkesan mirip dengan nuansa musik yang dihadirkan dalam Arrival, film sutradara Villeneuve sebelumnya. Kemiripan ini bisa dinilai sebagai kekurangan yang membosankan, atau justru menjadi ciri khas sang sutradara. (*/REP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.