Bijaksana Mengonsumsi Lemak

0
790
Lemak di perut. Foto. ist

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Kegemaran masyarakat Indonesia mengonsumsi makanan yang digoreng (deep frying/menggoreng dengan banyak minyak) dan bersantan masih cukup tinggi. Padahal makanan yang digoreng memiliki kadar lemak yang lebih tinggi, termasuk juga kandungan lemak jenuhnya.

Data Rikesdas 2013 menyebutkan persentase perilaku konsumsi makanan berlemak pada penduduk Indonesia usia lebih dari 10 tahun adalah 40,7 %. Kondisi ini sayangnya masih jauh melebihi dari yang dianjurkan dalam Pedoman Gizi Seimbang .

“Perlu ada perubahan di sisi konsumsi yang tentunya harus didukung dengan inisiatif dari pemerintah dan juga swasta,” ujar Head of Corporate Communications PT Unilever Indonesia Tbk, Maria Dewantini Dwianto pada acara Jakarta Food Editor Club bertema “Bersahabat dengan Lemak: Pahami Jenis dan Manfaat Lemak bagi Tubuh serta Konsumsi Lemak yang Tepat” di Jakarta, belum lama ini.

Lemak kerap kali dihindari, apalagi dikonsumsi berlebihan karena diasosiasikan dengan kenaikan berat badan. Namun, disisi lain lemak diperlukan karena lemak merupakan sumber energi yang paling tinggi dalam kehidupan sehari-hari.

Dibandingkan dengan karbohidrat dan protein yang hanya mampu menghasilkan 4 kalori/gram, lemak mampu menyediakan 9 kalori/gram.

Rekomendasi konsumsi lemak berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang adalah tidak lebih dari 25% dari kebutuhan enerdi atau setara dengan kurang lebih 60 gram untuk asupan 2.000 kkal per hari.

“Lemak tidak perlu selalu dihindari, tidak perlu takut mengonsumsi lemak, yang penting bagaimana kita bersikap bijak terhadap asupan makanan yang masuk dalam tubuh kita,” ungkap pakar nutrisi, Emilia Achmadi pada kesempatan yang sama.

Menurutnya makanan yang mengandung lemak tinggi bisa saja ditukar, seperti masakan yang menggunakan santan bisa menggantinya santan dengan susu low fat.

“Masak jangan digoreng, hindari pemakaian minyak bisa dengan menggunakan teflon yang tidak menempel, atau masak dengan cara di oven. Masak ayam bisa dengan cara di grill saja,” paparnya.

Emilia mengatakan, “Terdapat banyak jenis lemak, tentu ada yang baik dan juga kurang baik untuk tubuh. Omega 3 dan Omega 6 yang kerap diketahui masyarakat adalah contoh lemak tak jenuh ganda (pufa) yang berperan penting dalam tumbuh kembang anak”.

“Disisi lain kita juga mengenal lemak trans yang masuk dalam golongan lemak jenuh. Jika dikonsumsi berlebihan dapat meningkatkan kadar kolestrol dan menimbulkan risiko penyakit jantung koroner,” jelas Emilia. (evi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.