Berwisata di Bali, Wisatawan AS Klaim Jadi Korban Pembiusan

0
662
Suasana Echo Beach Sports Bar di Cangu Bali

DENPASAR, test.test.bisniswisata.co.id: Mara Wolford, wisatawan asal Amerika Serikat mengklaim menjadi korban pembiusan saat berkunjung di sebuah bar Echo Beach Sports Bar di kawasan wisata Jl. Batu Mejan, Canggu, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Modus pembiusan dengan mencampur minuman yang dipesan pengunjung, dengan tujuan memperdaya sekaligus tindakan kriminal.

Kejadian memilukan yang dialami Wolford ini, memberi peringatan bahaya mengkonsumsi minuman di bar-bar umum, yang kerap digunakan pihak tak bertanggung jawab untuk memperdaya peminumnya, dengan mencampurkan jenis obat-obatan yang dikenal dengan istilah date rape drug atau obat bius yang digunakan tindakan kriminal seperti memperkosa korbannya, terutama saat kencan dengan orang yang baru dikenal.

Seperti dilansir WA Today, Senin (11/07/2016) bahkan kisahnya yang diunggah di laman Facebooknya, Wolford menulis pada 4 Juli 2016 malam, Mara Wolford
bersama dua temannya mendatangi sebuah bar kemudian memesan minuman beralkohol. “Ada rasa yang tidak beres atau berbeda saat meminum. Kemudian saya
meninggalkan minuman di bar, menuju ke toilet,” tulisnya.

“Semua tindakan ini, dari memesan minuman, saya memang tidak melihat apakah minuman saya dicampur obat bius, atau disaat saya meninggalkan minuman saya. Memang saya lakukan kesalahan fatal tetapi malam itu semula saya tidak terlalu khawatir.”

“Setelah kembali mengkonsumsi (minumam) yang kedua, Rohypnol mulai memberikan efeknya. Merujuk pada zat yang nama generiknya adalah Flunitrazepam dan
biasanya penggunaannya untuk menangangi kasus insomnia akut,”

Wolford mengaku pernah mengalami hal serupa tiga tahun lampau hingga dapat mengenali gejala yang tengah dialami saat di Bali. Sebelum tak sadarkan diri, dia masih sempat memperingatkan tiga perempuan lain untuk berhati-hati meminum dicampur obat bius serta meminta mereka pastikan tidak ada yang membuntutinya ketika keluar dari bar.

Merasa masih mampu pulang ke tempat tinggalnya yang hanya terletak 200 meter dari bar, tiba-tiba Wolford baru berjalan sekitar 20 meter, jalannya mulai terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh dengan wajah duluan mengenai lantai.

Saat itu yang diingat hanyalah sosok seorang pria kulit putih, naik sepeda motor dan berusaha membantu dengan membersihkan wajahnya yang terluka. Wolford masih berkesempatan minta diantar ke rumah temannya. Saat itu Wolford mengaku mulai merasakan lumpuh dari efek obat-obatan, bahkan nyaris tak bisa berbicara.

Di tengah-tengah reaksi yang diderita karena overdosis obat bius dicampul alkohol, untungnya temannya masih mendampingi. Meski begitu mereka enggan membawa Wolford ke rumah sakit terdekat. “Saya tahu mungkin terdengar aneh, kami tidak langsung ke rumah sakit, tetapi kami tidak yakin rumah sakit pun dapat bertindak tepat dalam hal keracunan zat benzodiazepin (bahan dasar obat-obatan ini), dan lambung serta saluran pencernaan saya telah melaluinya.”

Setelah pengalaman buruknya ini, Wolford menghimbau semua pihak untuk membagikan kisahnya dan diketahui setelah menjalani serangkaian tes darah, ternyata dia diberikan dosis ekstrim tiga kali lipat normalnya dari Rohypnol. “Ini adalah sebuah epidemi tersembunyi. Saya telah tinggal di Indonesia. Seharunya lebih tahu agar berhati-hati – untuk tidak percaya begitu saja – dan saya bisa dianggap beruntung. Kebanyakan korban lain mungkin para perempuan yang tengah liburan mengalami nasib buruk,”

Sejumlah perempuan lain telah mengirim pesan pribadi kepadanya, dan mereka menceritakan kejadian serupa yang pernah dialami. “Mereka menyebut nama-nama lokasi bar dan restoran di Kuta, Seminyak dan Canggu. Karena ituah saya mengungkapnya. Masalah ini tidak dapat diterima, jika perempuan tak dihargai atau dilindungi di sini, masalah ini pasti merusak reputasi turisme di Bali.”

“Banyak perempuan cantik asal Indonesia mengatakan hal ini tidak hanya terjadi pada turis. Mereka juga ada yang menjadi korban. Hal ini sangat menakutkan.” ungkap Wolford dalam akhir tulisannya.

Dalam laman Facebooknya, pihak Echo Beach Sports Bar yang diklaim menjadi tempat berlangsungnya dugaan peristiwa pembiusan memberikan klarifikasi panjang yang menyanggah keterlibatan personil bar dalam aksi pembiusan terjadap pengunjung bar.

Dalam sebuah posting di Facebook pada 8 Juli 2016, Echo Beach Sports Bar menulis “Bartender dengan tato kecil di wajah yang anda (Mara) tuduh memasukan obat-obatan ke dalam minuman baru bekerja untuk kami. Dia orang baik dan bertanggung jawab, serta merupakan mantan pegawai dari Potato Head Bar…Dia seorang warga Bali yang meyakini hukum karma, jadi tidak mungkin dia melakukan hal seperti yang dituduhkan.”

Di postingan yang sama, di laman itu malah mempertanyakan salah satu dari dua rekan Wolford yang berkunjung bersamanya. Rekannya adalah seorang pria Spanyol berusia separuh baya yang turut menemani Wolford. “Siapa saja dapat memasukkan obat-obatan itu ke dalam minuman sang korban, dan mungkin saja pencekokkan obat-obatan terjadi sebelum di bar,” paparnya.

Rhino Noy Amin, pemilik Echo Beach Sports Bar mengajak Wolford untuk bertatap muka dengan menjelaskan permasalah ini lebih lanjut. “Jika ada bukti keterlibatan pihak bar, tentunya pihak berwajib akan menahan sang bartender dan menutup tempat bar ini,” tegas Rhino.

Kini, laman Facebook Mara Wolford tidak lagi dapat diakses. Bahkan tempat tinggalnya yang tak jauh dari Echo Beach Sports Bar sudah kosong. (*/NDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.