Berbekal Visa Kunjungan, Wisatawan Taiwan Lakukan Pemerasan

0
881
WNA berkedok turis ditangkap

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Penerapan pemberlakuan bebas visa kunjungan, ternyata dimanfaatkan warga negara asing (WNA) untuk melakukan aksi kejahatan penipuan dan pemerasan di Indonesia. Sejak Januari sampai awal November 2014 sudah 347 WNA dari negara Taiwan dan Tiongkok ditangkap, diamankan dan dideprotasi karena melakukan kejahatan

Penangkapan terbaru yaitu sebanyak 65 orang WN Tiongkok dan Taiwan ditangkap di tiga lokasi berbeda di Jakarta dan Tanjung Pinang, Selasa (18/11/2014). Selain menangkap 65 WNA, polisi juga menyita barang bukti berupa puluhan pasport, router, modem, puluhan unit telpon, printer, laptop, surat jalan, dan lainnya.

Mereka ditangkap dari beberapa wilayah seperti Jakarta, Semarang, Batam, Solo, Pontianak, Balikpapan, Surabaya dan Tanjung Pinang. Modus kejahatan yang dilakukan menipu dan memeras melalui jaringan telekomunikasi di Indonesia dan korbannya berada di Taiwan serta Tiongkok.

Mereka menipu dengan mengaku sebagai polisi serta Jaksa dari Taiwan dan Tiongkok. Terkadang mereka juga mengaku sebagai pegawai bank, yang meminta korban memindahkan uangnya ke rekening yang telah disiapkan tersangka dengan alasan bank ada gangguan. Tak tanggung-tanggung demi mensukseskan penipuan, mereka menyewa rumah mewah dengan ongkos sewa diatas Rp 50 juta.

“Bukan hanya itu, seluruh makanan mereka pun disuplai dari luar serta sampah-sampah rumah tangga ada yang mengambil.
Jadi semua keperluan mereka, makan dan sandang disuplai dari luar. Kurirnya ini, orang Indonesia yang masih kami cari,” papar Kasubdit IT Cyber Crime, kombes Pol Rahmad Wibowo, Minggu (23/11/2014).

Aksi komplotan penipu dan pemeras yang dilakukan turis Taiwan dan China yang berusia muda antara 19-25 tahun ini, biasanya setiap bulan selalu berpindah-pindah menyewa rumah mewah. Tujuannya untuk menghilangkan jejak. Dan dokumen untuk menyewa rumah dengan menggunakan dokumen palsu.

Hasil dari uang kejahatan para korban ditampung di rekening di Tiongkok dan Taiwan. Sementara di Indonesia, hanya bertugas sebagai operator untuk penipuan dan pemerasan. “Mereka juga sewa internet 10 mega per second dengan biaya internet Rp 10-15 juta,” terang Rahmad sambil menambahkan Operasi mereka terorganisasi di beberapa negara seperti di Filipina, Kamboja, Thailand, dan Indonesia.

Ditanya alasan mereka pilih Indonesia sebagai tempat kerjanya? “Indonesia dianggap sangat muda untuk dikunjungi juga menyewa rumah, berbeda dengan negara lain seperti Singapura dan Malaysia yang pengawasannya ketat. Aparat terkait yang mengawasi orang asing masih lemah,” jawabnya.

Selain itu, kemudahan memberikan visa kunjungan yang diberikan KBRI-KBRI tidak dikontrol secara teliti. Apakah benar-benar untuk kunjungan wisata atau hanya dipakai kedok melakukan aksi kejahatan atau menjadi tenaga kerja ilegal. Inilah yang kurang mendapat perhatian serius pemerintah.

Kabag Penum Polri, Kombes Pol. Agus Rianto mengimbau warga dan petugas keamanan untuk peka dan peduli terhadap keadaan lingkungan sekitar, terlebih di perumahan yang mewah. Pasalnya saat ini, jaringan penipuan dan pemerasan yang dilakukan oleh Warga Negara Asing (WNA) tengah menyasar Indonesia sebagai kantor mereka.

“Kami imbau masyarakat lebih peka lingkungan. Dan peraturan warga yang mewajibkan melaporkan diri jika tinggal lebih dari 1 X 24 jam agar diberlakukan kembali,” sarannya.

Selain itu petugas keamanan diminta lebih jeli mengawasi komplek perumahan yang mereka jaga. Termasuk juga para pemilik rumah mewah diimbau menginformasikan identitas pengontrak rumah mereka kepada pihak RT/ RW setempat.

“Berdasarkan kasus yang diungkap Bareskrim Polri, para WNA pelaku penipuan via telepon sering menggunakan rumah mewah sebagai tempat mereka melancarkan aksinya,” tegas Agus.

Aktivitas para pelaku kejahatan ini pun kurang bisa diketahui oleh warga karena rumah mewah itu biasanya dilengkapi oleh pagar yang tinggi dan kamera CCTV. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.