Berkain, Gaya Hidup Modis dan Identitas NKRI

0
603

MANGUPURA,test.test.bisniswisata.co.id: BALI terkenal dengan kemampuannya mengasimilasi antara budaya lokal dengan pengaruh luar Bali. Masyarakat Bali mampu mempertahankan budaya berbusana kain selama berabad-abad. Masyarakat Bali, termasuk muda-mudinya bangga hati dengan busana berkain yang digunakan. Karena itu sangatlah tepat Komunitas Cinta Berkain tumbuh dan berkembang di Bali

Bali sebagai aset pariwisata dan etelase internasional Indonesia, memiliki peranan sangat penting melestarikan dan mengenalkan kepada dunia luar hal warisan berkain Indonesia. Demikian dijelaskan Ketua Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCB) Bali, Mayke Boestami Anderson menjawab BisnisWisata.co.id terkait upaya menjawab kekhawatiran terpinggirkannya budaya berkain dan kebaya bagi kaum wanita di Indonesia.

Hal makin rendahnya apresiasi masyarakat Indonesia terhadap warisan budaya berkain kebaya, diakui inisiator KCB Indonesia Sita H Agustanzil.  Menurut Sita mayoritas masyarakat menilai berkain panjang sebagai busana sehari- hari adalah tidak wajar dan tidak praktis.

Di era ‘’modern” ini – seiring perkembangan jaman, eksistensi kain tradisional dengan kebayanya semakin tergeser oleh mode berbusana yang stylish, papar Mayke.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, sekelompok wanita mendirikan komunitas penjaga eksistensi kain tradisional Indonesia yang pada dasarnya mampu diseimbangkan dengan mode berbusana masa kini.  Dengan memakai kain, para wanita memberikan image positif di mata dunia, menunjukkan identitas bangsa, sekaligus menularkan budaya berkain, disamping menjaga eksistensi budaya ekonomi mandiri sandang.

“Juga menumbuhkan stigma bahwa berkain di era modern adalah trend baru,’’ lanjut Ketua KCB Bali ditengah kesibukan mempersiapkan peresmian KCB Bali pada 6 Agustus mendatang di Padma Bali Hotel.

Added Value Artisan Wastra

Dengan berdirinya KCB, diharapkan mampu menyemangati para perempuan Indonesia, untuk terbiasa dan bangga memakai kain tradisional Nusantara sebagai busana pilihan sehari-hari, baik resmi mau pun informal. Dengan tercapainya cita-cita tersebut perempuan Indonesia tidak hanya melestarikan budaya tetapi juga meningkatkan taraf hidup para pengrajin  kain Nusantara.

Hal meningkatkan nilai tambah kain tradisional (wastra) di Bali, tidak kurang upaya yang dilakukan perempuan- perempuan pendamping kepala daerah di Bali. Sebut saja Bintang Puspa Yoga, Selly Dharmawijaya Mantra  dengan ragam endek nya sebagai wastra Bali yang anggun.                                                                                                                                                                             kain

Artisan wastra Bali pun tidak hanya bekutat dengan endek, tetapi juga ada songket, ikat Gringsing, rang rang, bahkan mulai kembali pada penggunaan pewarna alam, berbahan baku benang kapas meski harus bersusah payah mengumpulkan raw material tersebut.

Tak hanya artisan wastra Bali yang mendapat nilai tambah tren olah kain panjang. Bertumbuh juga desainer- desainer belia kreatif dengan rancang bangun kain panjang menjadi busana indah, nyaman dipakai. Padanan yang tidak lagi terpaku kaku pada ‘’pakem’’ berkain Nusantara.

‘’Dengan konsep berkain Nusantara yang modis, kita berharap semua stake holder berkain mendapat nilai tambah’’ ujar Mayke menutup pembicaraan hal berkain tetap modis. * Dwi

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.