Berbagi di 5th International Story-telling Festival

0
787

HUE, Vietnam, bisniswisata.co.id,- BERBEKAL suara cungklik , tifa, gedebler, ketipung, sesekali diimbangi nyaring seruling dan toktek, dua orang pendongeng asli Bali mampu memukau perhatian masyarakat Thailand dan Vietnam, yang menjadi sasaran acara 5th International Story-telling Festival (ISF) Thailand, Vietnam.

        Dua pendongen (story-teller) dari Bali, Made Taro dan Gede Tarmada, kembali mengisi ruang mendongeng di 5th International Story-telling Festival (ISF) Thailand dan Vietnam. Kedua Negara ASEAN ini, menggelar Festival Tahunan Dongeng untuk ke lima kalinya.

          Festival bertaraf internasional yang melibatkan para pendongeng lebih dari 20 negara dari Asia, Eropa dan Amerika. Bagi Made Taro dan Gede Tarmada, mendongeng di ranah Thailand untuk tahun ketiga sementara di Vietnam untuk pertama kalinya.

             “Kami menyiapkan ceritaThe Gift of Young Rice (Oleh-oleh Padi Muda, cerita rakyat Aceh), Beautiful Monkey (Kera Yang Cantik, Bali), The Love For Salt (Cinta Garam, Bali), The Origin of Rice (Asal Mula Padi, Jawa) untuk storytelling,’’ jelas Made Taro.

Pada workshop dan diskusi panel yang dihadiri oleh dosen dan mahasiswa, Made Taro dan Gede Tarmada menggunakan  model “Mendongeng Sambil Bermain” yang mengangkat cerita Melayu dikaitkan dengan permainan tradisional “Macan Mabaju Kambing”.

“Belajar kehidupan harmonis melalui dongeng, menjadi bahan panel diskusi kita,’’ jelas Gede Tarmada di Universitas Thaksin. menambahkan.

Made Taro yang berpengalaman storytelling di Australia, Afrika Selatan, Singapura, dan Malaysia, mengatakan perlu persiapan khusus menyiapkan bahan diskusi panel. Pasalnya, acara diskusi panel merupakan kesempatan emas  memperkenalkan kehidupan harmonis berpedoman pada kearifan lokal, jelas Made Taro sembari merapikan kemasan alat peraga dan alat bantu mendongeng berupa  cungklik , tifa, gedebler, ketipung, seruling, toktek . Alat bantu dan alat peraga mendongeng yang memerlukan perlakuan khusus dalam penerbangannya dari Bali ke negeri Gajah Putih Thailand dan Vietnam.  

Di Thailand, festival berlangsung dari tanggal 16 s.d. 28 Februari 2017, digelar  di lima tempat acara yakni Universitas Mahasarakham, Universitas Surin, (di wilayah Utara Thailand), Universitas Songkla, (wilayah Selatan Thailand), Gedung Kesenian Mahachakri, Bangkok dan sekolah Tinggi Budha di Ayuthaya. Selanjutnya perjalanan mendongeng dilanjutkan ke kota Hue, Vietnam dari tanggal 1 s.d 4 Maret 2017.

ISF merupakan rangkaian aktivitas storytelling, show case, congcurrent storytelling, workshop dan diskusi panel. Tema unggulannya,  ethnic diversities, khusus di Sekolah Tinggi Buddha mengambil tema penanaman nilai moral. Pihak Universitas Thaksin di Songkhla meminta peserta menampilkan dongeng bertema happily ever after yang ditunjukkan melalui keberagaman cerita masing-masing negara.

Penyelenggara festival di Vietnam di samping mengambil tema ethnic diversities juga menyiapkan tema khusus mengenai asal-usul padi. Para pendongeng diwajibkan tampil di depan guru-guru TK dan SD, beserta anak-muridnya, jelas Made Taro usai mendongeng dihadapan para guru dan siswa  Tran Quoc Toan Primary School, Hue, Vietnam. * Dwi, bisniswisata.co@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here