Berambisi Mendunia, Solo Terinspirasi Desa Wisata Penglipuran

0
1033
Desa Wisata Penglipuran di Ubud Bangli Bali (Foto: http://www.klikhotel.com)

SOLO, Bisniswisata.co.id: Kota Solo terinspirasi untuk mengembangkan desa/kampung wisata seperti Bali. Beberapa potensi yang layak dikembangkan adalah Kampung Batik Laweyan atau Kauman seperti halnya Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali yang kini mendunia.

Kampung Batik Laweyan misalnya, sentra industri batik yang unik, spesifik dan bersejarah ini juga menjadi favorit kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. Kampung yang terletak di bagian selatan ini sarat dengan sejarah kehidupan masyarakat Solo tempoe doeloe.

Di Kabupaten Bangli, Bali, ada Desa Penglipuran yang mendunia dan menjadi favorit kunjungan wisatawan. Ditengah modernisasi, masyarakat desa ini masih menjunjung tinggi budaya dan kearifan lokal dalam tatanan kehidupan penduduknya. Desa yang dihuni sekitar 240 Kepala Keluarga (KK) itu, hingga saat ini masih patuh terhadap aturan dewan adat setempat.

Kepatuhan di antaranya ditunjukan dalam bentuk bangunan rumah yang harus menggunakan atap dari sirap bambu. Bagi masyarakat Bali, bambu tidak boleh dilepaskan dari kehidupan mereka. Rumah-rumah warga dibangun dalam dua jajaran barat dan timur yang dipisahkan oleh sebuah jalan desa. Di jalan tersebut, kendaraan bermotor dilarang melintas.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bangli, Bali, Ida Bagus Gde Giri Putra mengatakan, sejak zaman dahulu pihaknya menggunakan konsep tri mandala, atau tiga zona untuk pembangunan desa. Mandala utama adalah bangunan pura untuk bersembahyang, mandala madya adalah kawasan rumah-rumah penduduk, dan mandala nista tempat bagi manusia yang sudah meninggal.

“Sejak zaman dahulu masyarakat di sini menggunakan konsep tri mandala dan tetap dipertahankan hingga sekarang,” ujar Ida Bagus Gde Giri Putra saat menerima kunjungan wartawan dan Humas Protokol Pemerintah Kota Solo, Selasa (16/5).

Sekda menjelaskan, dalam tatanan kehidupan masyarakat Desa Penglipuran, mereka sangat menghargai pernikahan. Jika ada warga yang memiliki lebih dari satu istri, maka harus tinggal diluar kawasan tiga zona tersebut.

Setelah dijadikan desa wisata, ada konsekuensi yang harus diberikan pemerintah kepada warga, terutama untuk perawatan rumah. Retribusi desa sebagian akan dikembalikan untuk kepentingan warga.

“Hasil retribusi desa wisata ini, 60 persen untuk pemerintah dan 40 persen dikembalikan ke pengelola desa adat untuk subsidi bagi warga yang membutuhkan serta biaya upacara keagamaan,” urainya.

Pengelola Desa Penglipuran, I Nengah Moneng menambahkan, masyarakat desa wisata konsisten memegang tradisi adat. Sehingga desa ini sudah tertata seperti ini sejak zaman dahulu. Namun baru tahun 1998, pemerintah menetapkan Desa Penglipuran sebagai desa wisata. “Meskipun ditengah modernisasi, kami tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Kami selalu memegang tradisi sejak dulu,” ucapnya.

Rumah penduduk Desa Penglipuran masih mempertahankan tradisi. Meskipun tak sedikit yang berlantai keramik tapi tetap menggunakan atap sirap bambu. Kawasan desa ini juga tetap dijaga kelestarian dan kebersihannya.

Bahkan tahun 2016, Desa Penglipuran ditetapkan sebagai salah satu dari tiga desa terbersih didunia. “Kami memang diberikan otonomi oleh pemerintah untuk mengelola desa wisata Penglipuran. Kami bebas melakukan kegiatan keagamaan,” katanya seperti dilansir laman Merdeka.com, Sabtu (20/05/2017).

Desa Penglipuran saat ini telah menjadi salah satu destinasi wisata di Provinsi Bali dan bahkan menjadi ikon wisata di Kabupaten Bangli. Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Desa Penglipuran mencapai sekitar Rp2,25 miliar tahun 2016 dan tahun ini ditargetkan sekitar sebesar Rp3,5 miliar.

Untuk kunjungan wisata, tahun 2016, mencapai 123.133 orang. Meskipun ditargetkan mampu memberikan kontribusi untuk pendapatan daerah, pengelola tetap mengutamakan konservasi dibandingkan bisnis.

Kepala Bagian Humas Protokol Pemerintah Kota Solo, Heri Purwoko mengatakan Kota Solo memiliki potensi untuk mengembangkan kampung wisata seperti di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli. Yakni Kampung Batik Kauman di sekitar Keraton Kasunanan Surakarta dan Kampung Batik Laweyan.

“Kampung Batik Laweyan dan Kauman mempunyai keunikan dan sejarah kehidupan masa lalu masyarakat Solo. Saya kira keduanya bisa dikembangkan seperti di Desa Penglipuran ini,” tutupnya. (*/mdk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.