Bedhoyo Ketawang, Tarian Sakral Era Panembahan Senopati

0
2257

SOLO, test.test.bisniswisata.co.id: Keraton Surakarta Hadiningrat menggelar Tingalan Jumenengan Dalem Paku Buwono XIII pada Kamis. Untuk ketiga kalinya, acara seni budaya ini berjalan tanpa dihadiri raja. Namun ada sesuatu yang menarik, bagian dari prosesi Jumenengan, yakni Tari Bedhoyo Ketawang.

Tari ini merupakan tarian sakral, kebesaran yang ditampilkan dalam situasi-situasi khusus dan resmi, seperti ketikan penobatan serta Tingalandalem Jumenengan (hari peringatan ulangtahun tahta raja).

“Kalau dari segi nilai, tari itu menggambarkan tentang kearifan hidup, manusia lahir, menjalani kehidupan kemudian nanti kembali kepada Tuhan. Kalau dari dimensi budaya dia tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Keraton Mataram karena leluhur bersepakat selama masih menjadi keraton ya tari itu harus dipagelarkan setahun sekali, ada atau tidak ada raja,” kata KPH Edhi Wirabumi di Sasana Sewaka.

Tarian khas ini, ditarikan Sembilan orang penari. Hanya gadis yang masih suci dan dalam keadaan tidak haid yang bisa menarikan tarian ini tersebut. Saat Tingalan Jumenengan Dalem Paku Buwono XIII, tari ini dipentaskan di Sasana Sewaka dihadapan kerabat Keraton Surakarta.

Bedhoyo Ketawang sangat erat nilai historisnya dengan jaman kerajaan Mataram Islam, Bahkan menurut KPH Edhi Wirabumi, tarian ini sudah ada semenjak Panembahan Senopati, sebelum era Sultan Agung. Tarian ini mengandung nilai pelajaran hidup yang tinggi dari syair tembang pengiringnya dan menjadi pertunjukan yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya.

Nama Bedhaya Ketawang dari kata bedhaya yang berarti penari wanita di istana. Sedangkan ketawang berarti langit, identik dengan sesuatu yang tinggi, keluhuran, dan kemuliaan. Tari Bedhaya Ketawang menjadi tarian sakral yang suci karena menyangkut Ketuhanan, dimana segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Ada beberapa legenda yang mengungkapkan pembentukan tarian ini. Suatu ketika, Sultan Agung Hanyakrakusuma yang memerintah Kesultanan Mataram dari tahun 1613-1645, sedang melakukan laku ritual semedi. Konon, dalam keheningan sang raja mendengar suara tetembangan (senandung) dari arah tawang atau langit.

Sultan Agung merasa terkesima dengan senandung tersebut. Begitu selesai bertapa, Sultan Agung memanggil empat orang pengiringnya yaitu Panembahan Purbaya, Kyai Panjang Mas, Pangeran Karang Gayam II, dan Tumenggung Alap-Alap. Sultan Agung mengutarakan kesaksian batinnya pada mereka. Lantaran terilhami pengalaman gaib yang ia alami, Sultan Agung sendiri menciptakan sebuah tarian yang kemudian diberi nama Bedhaya Ketawang.

Menurut versi yang lain, dikisahkan pula dalam pertapaanya, Panembahan Senapati bertemu dan bercinta dengan Ratu Kencanasari atau yang dikenal juga dengan sebutan Kangjeng Ratu Kidul yang kemudian menjadi cikal bakal tarian ini.

Setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Pakubuwana III bersama Hamengkubuwana I melakukan pembagian harta warisan Kesultanan Mataram, yang sebagian menjadi milik Kasunanan Surakarta dan sebagian lainnya menjadi milik Kesultanan Yogyakarta.

Akhirnya Tari Bedhaya Ketawang menjadi milik istana Surakarta, dan dalam perkembangannya sampai sekarang ini Tari Bedhaya Ketawang masih tetap dipertunjukkan saat penobatan dan upacara peringatan kenaikan tahta Sunan Surakarta.(redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.