Batik Besurek Gagal Tembus Warisan Budaya Indonesia

0
1201

BENGKULU, test.test.bisniswisata.co.id: Kain Batik Besurek khas Bengkulu gagal masuk warisan budaya Indonesia sebab Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu tidak mengirimkan utusan pada saat sidang warisan budaya tak benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) di Jakarta belum lama ini.

“Tahun ini, kami kembali gagal memasukkan kain batik Besurek sebagai warisan budaya Indonesia tidak benda, tetapi kami tidak berputus asa, karena masih ada waktu untuk menjadikan batik Besurek Bengkulu menjadi warisan budaya Indonesia,” papar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Bengkulu, Edi Nedvian, yang dihubungi di Bengkulu, Jumat (24/10/2014).

Dalam sidang penetapan warisan budaya Indonesia non benda yang dilaksanakan Kemdikbud di Jakarta pertengahan Oktober ini, Bengkulu mengusulkan tiga jenis kain batik masuk warisan budaya Indonesia, yakni batik Besurek, kain Lantung, dan kain Umeak Jang dari Kabupaten Rejang Lebong.

Namun, ketiganya gagal disahkan oleh Kemdikbud sebagai warisan budaya Indonesia tidak benda karena dalam pembahasan tersebut, tidak dihadiri oleh wakil Pemprov Bengkulu, sehingga usulan tidak dibahas sama sekali.

Sebelumnya, pada tahun 2013 lalu, Disparbud Bengkulu juga mengusulkan kesenian tradisional Tabot masuk dalam warisan budaya Indonesia, tetapi usulan serupa juga gagal.

“Jadi, sampai sekarang belum satupun kesenian dan kain tradisional hasil ciptaan masyarakat Bengkulu masuk sebagai warisan budaya Indonesia. Padahal, di daerah ini cukup banyak jenis kesenian dan kain tradisional yang berhasil diciptakan masyarakat Bengkulu,” ujarnya.

Edi mengatakan, meski gagal meloloskan kain batik Besurek masuk dalam daftar warisan budaya Indonesia tidak benda, pihaknya akan kembali mengusulkan ke Kemdikbud pada tahun 2015 mendatang.

“Tahun depan kami akan kembali mengusulkan kain batik Besurek masuk dalam warisan budaya Indonesia. Kami targetkan kain batik Bengkulu harus masuk warisan budaya dan mulai mengusulkan sampai sidang akan kami kawal sampai disahkan,” ujarnya seperti dilansir laman SP.com.

Salah seorang budayawan Bengkulu, Agus Setyanto menyayangkan pihak Disparbud dan Pemprov Bengkulu yang gagal mengusulkan kain batik Besurek masuk dalam warisan budaya tidak benda Indonesia pada tahun 2014.

Sebab, usulan ini sudah sejak lama dirintis ketika ia masih menjabat Kepala Disbudpar Provinsi Bengkulu, tetapi pada saat detik-detik pengesahan warisan budaya Indonesia oleh Kemdikbud, wakil Pemprov Bengkulu tidak hadir dalam acara tersebut.

Semestinya, kata dosen Universitas Bengkulu (Unib) ini, pada saat acara penetapan warisan budaya Indonesia di Kemdikbud, wakil dari Pemda dan Disparbud Bengkulu harus ada sehingga usulan daerah ini dibahas dan ditetapkan.

Namun, faktanya Pemprov dan Disparbud Bengkulu tidak mengirimkan utusan untuk menghadiri sidang penetapan warisan budaya tidak benda di Kemdikbud, sehingga usulan batik Besurek menjadi warisan budaya gagal ditetapkan, katanya.

Untuk itu, dia berharap bukan saja batik Besurek diusulkan menjadi warisan budaya Indonesia, tetapi juga kesenian tradisonal Tabot. Sebab, kesenian Tabot Bengkulu sudah dikenal masyarakat luas di Tanah Air.

“Jadi, sangat pantas kalau kesenian Tabot kembali diusulkan Pemprov Bengkulu ke Kemdikbud agar masuk dan tercatat sebagai warisan budaya Indonesia,” ujarnya.

Batik besurek adalah salah satu kain batik hasil kerajinan tradisional daerah Bengkulu yang telah diwariskan secara turun temurun. Meski kain besurek diyakini sebagai hasil budaya masyarakat Melayu Bengkulu, tapi pada motifnya terlihat pengaruh unsur-unsur kebudayaan Islam, yaitu motifnya yang bernuansa kaligrafi Arab.

Dalam perkembangannya, motif-motif batik dimodifikasi dengan menambahkan raflesia, bunga kibut, Pohon Hayat – Burung Kuau – Kaligrafi Arab, Kaligrafi Arab – Kembang Cengkeh – Kembang Cempaka, Kembang Melati, Kaligrafi Arab – Relung Paku – Burung Punai. ****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.