Banyuwangi, Nominator Penghargaan Badan Pariwisata PBB

0
772
Kawah Ijen jadi daya tarik wisata di Banyuwangi

BANYUWANGI, test.test.bisniswisata.co.id: BANYUWANGI masuk nomine penghargaan kategori Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola dari Badan Persatuan Bangsa-Bangsa untuk Pariwisata (UNWTO). Kabupaten berjuluk “The Sunrise of Java”, masuk nomine bersama Medellin (Kolombia), Kenya, dan Puerto Rico.

“Kami diberi kesempatan mempresentasikan bagaimana Banyuwangi mengembangkan konsep pariwisata berkelanjutan. Para pemenang dan runner up masing-masing kategori diumumkan pada 20 Januari 2016 bersamaan pelaksanaan Madrid International Tourism Trade Fair,” papar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (29/12/2015)

Dengan mengangkat tema besar strategi pengengembangan pariwisata berkelanjutan, Banyuwangi diberikan kesempatan memaparkan kebijakannya pada 18 Januari 2016 dalam event 12th UNWTO Awards Forum di Madrid, Spanyol.

Salah satu organisasi PBB yang mengurusi pariwisata ini digelar sebagai bentuk apresiasi terhadap berbagai inovasi yang dilakukan di sektor pariwisata dengan melihat efeknya terhadap pemerintahan serta masyarakat, katanya.

Di Madrid nanti, lanjut Bramuda, akan dipaparkan sejumlah strategi pemkab dan kunci sukses membangun pariwisata. Mulai dari bagaimana daerah mengidentifikasi potensi wisata yang dimilikinya, menjaga kearifan lokalnya, hingga bagaimana seluruh pemangku kepentingan bergandengan tangan mengembangkan dan mempromosikan pariwisata Banyuwangi.

Empat tahun terakhir, pariwisata di Kabupaten Banyuwangi menggeliat. Dengan menawarkan alam dan budaya yang apa adanya, Banyuwangi membidik segmen wisatawan penggemar alam, budaya, dan petualangan dengan konsep ekoturisme.

Ekoturisme adalah konsep wisata yang menyajikan kondisi di suatu daerah secara apa adanya dengan memperhatikan daya dukung dan keberlanjutan lingkungan. Konsep ekoturisme yang diterapkan bersumbu pada dua pijakan, yaitu budaya dan alam.

Beragam perbaikan dilakukan, mulai dari infrastruktur, destinasi, sarana penunjang seperti perhotelan, hingga kemasan pemasaran. Dengan paduan antara wisata alam, wisata budaya, dan wisata event (event tourism), daerah itu berhasil bermetamorfosis dari daerah yang kerap diidentikkan dengan klenik/mistik menjadi destinasi wisata favorit.

Pariwisata, katanya, terbukti ikut membantu menggerakkan ekonomi warga. Pendapatan per kapita Banyuwangi melonjak 62 persen dari Rp20,8 juta (2010) menjadi Rp33,6 juta (2014), dan pada 2015 diprediksi bisa menembus Rp38 juta.

“Di Banyuwangi juga telah digelar kursus bahasa asing gratis berbasis desa yang diikuti lebih dari 2.600 warga pada 2015. Kemampuan bahasa asing itu diharapkan bisa mengikuti laju perkembangan wisata yang semakin kencang,” kata Bramuda.

Untuk menyempurnakan potensi alam dan budaya itu, Pemkab Banyuwangi mengemas wisata event bertajuk Banyuwangi Festival. Tiap tahun, lebih dari 30 kegiatan wisata disajikan, mulai dari selancar, balap sepeda, maraton, batik, kuliner, hingga festival jazz.

“Kami juga melakukan segmentasi dan targeting wisatawan. Misalnya, festival batik untuk segmen wisatawan perempuan. Lalu ada selancar untuk penggemar olahraga air,” katanya seperti dikutip Antara.

Selain Banyuwangi, dalam ajang ini, ada dua wakil Indonesia yang turut menjadi finalis di 2 kategori lain. Garuda Indonesia berhasil mendapatkan nominasi “Innovation in Enterprises” dengan program Bali Beach Clean Up, dan Yayasan Karang Lestari melalui program Coral Reef Reborn yang akan bertanding dalam katregori Innovation in Non-Governmental Organizations.

Para finalis ini disaring dari 109 program lainnya yang digagas oleh negara-negara anggota UNWTO. UNWTO saat ini beranggotakan 157 negara, enam anggota asosiasi, dan 480 anggota afiliasi dari sektor swasta, lembaga pendidikan, dan otoritas pariwisata. (*/a)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.