Bangkitkan Wisata Maumere Lewat Musik Jazz

0
777

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Pariwisata Maumere di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali bangkit. Pasca gempa dan tsunami dahsyat yang melanda Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur pada 12 Desember 1992 mengakibat 2.500 orang meninggal dunia, menyebabkan pariwisata Maumere terpuruk. Tak ada wisatawan mancanegara (wisman) datang lagi untuk diving, surving dan menikmati keindahan wisata bahari,

“Sejak saat itu, destinasi wisata di Maumere seakan terlupakan. Maumere tahun 1980-an adalah tempat diving bagi para pe-diving di seluruh dunia. Pada tahun itu turis mancanegara yang datang sangat banyak. Tapi Maumere tahun 1992 kena tsunami dan koralnya rusak, tak ada turis datang sehingga ekonomi rakyat pun redup,” ungkap Melchias Markus Mekeng, tokoh masyarakat Maumere saat jumpa pers Maumere Jazz Fiesta Flores 2016 di Jakarta, Rabu (5/10/2016).

Melchias juga Ketua Komisi XI DPR RI melanjutkan Maumere punya potensi keindahan alam yang belum banyak diketahui. Koralnya sangat bagus, dan cocok untuk wisata diving. Bahkan saat ini Maumere memiliki hutan mangrove Babah Akong yang luar biasa. “Kami ingin menunjukkan bahwa hutan mangrove ini layak dikadikan destinasi wisata dengan keindahan alam juga menjaga lingkungan hidup,” jelasnya.

Memang, sambung dia, pariwisata adalah salah satu cara untuk membangkitkan perekonomian masyarakat Maumera. Pariwisata bangkit maka masyarakat bangkit karena bisa membuat dan menjual kerajinan tangan, kuliner sehingga ekonomi lokal bangkit lagi. “Jika wisatawan asing banyak datang, saya yakin dunia usaha termasuk perhotelan dan homestay akan bermunculan,” tambahnya.

Melchias berharap, dengan adanya event festival jazz bisa mendatangkan masyarakat dari berbagai tempat juga wisataman asing dan mendorong pariwisata Maumere. “Konser ini kita buka luas dan gratis untuk ditonton masyarakat,” ujarnya.

Founder & Festival Director Agus Setiawan Basuni menambahkan Maumere Jazz Fiesta Flores, festival musik jazz internasional akan digelar pada 15 dan 16 Oktober 2016. Gelaran tersebut merupakan upaya untuk memperkenalkan kembali pariwisata Maumere. “Saya ingin membangkitkan Maumere sebagai destinasi pariwisata. Kenapa acara ini digelar? Karena ingin memperkenalkan kembali Maumere,” kata Agus.

Menariknya Maumere Jazz Festival ini, panggungnya berada di lahan hutan mangrove Babah Akong di Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Flores. Selain menampilkan jazz, juga ada aksi menanam 300 pohon bakau. Dan beberapa musisi nasional dan lokal akan dilibatkan. Mereka adalah Andre Hehanussa, Ivan Nestorman (Ivan and the Nestornation), Syaharani, Trie Utami, Ras Muhamad, Barry Likumahuwa, Djaduk Ferianto, Emil & Orkestra Satu Sikka, dan Big One.

“Festival jazz omo berbeda dari lainya karena ada bakau, pantai, laut, bulan purnama juga dan perbukitan Maumere yang sangat indah. Dulu, saya pikir Maumere itu ada di Papua. Ternyata saya salah. Karena itu dalam festival ini kami punya tujuan untuk mengenalkan Maumere ke masyarakat luas,” lontar Agus.

Agus mengaku menargetkan sekitar 1000 pengunjung untuk datang dalam Maumere Jazz. Hal itu dianggap cukup mengingat keterbatasan tempat. “Orang Maumere ternyata sangat suka dengan reggae. Jadi dalam salah satu daftar penampil kami sertakan Ras Muhammad. Ia akan menyiapkan repertoar kombinasi reggae dan jazz,” ujarnya. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here