Bandung, Surabaya & Jakarta Pusat, Terpilih Jadi Kota Metropolitan Langit Biru

0
836
Gedung Sate yang menjadi icon kota Bandung (foto Disbudpar Kota) Bandung

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan pencemaran udara di perkotaan yang 70 persen berasal dari kendaraan bermotor, bukan saja mengakibatkan kemacetan, tetapi juga berdampak pada perubahan iklim yang menimbulkan kerugian kesehatan dan menurunkan produktifitas ekonomi negara.

“Ini akan menjadi permasalahan yang serius, jika tidak dikendalikan. Apalagi pada 2020 nanti diperkirakan terjadi urbanisasi, orang-orang desa akan pindah bekerja di kota-kota besar. Sehingga pertambahan penduduk ini akan menyebabkan adanya peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang beresiko pada pencemaran udara makin meningkat,” ujarnya dalam acara Public Expose Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan dan Hasil Sementara Indeks Kualitas Udara 2015 di Hotel Sangri La, Jakarta, kemarin.

Dalam mengantisipasi kondisi itu, Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), telah melakukan Evaluasi Udara Perkotaan (EKUP) melalui program Langit Biru. “Dalam program Langit Biru ini kami memilih kota metropolitan dan kota-kota besar di Indonesia yang dinilai memiliki lingkungan yang baik dan udaranya bersih,” jelasnya.

Hasil evaluasi kualitas udara perkotaan di 45 kota dari 33 provinsi di Indonesia yang dilakukan Juli sampai November 2015 lalu, tegas Menteri LHK, menunjukkan ada tiga kota Langit Biru terbaik kategori kota metropolitan, yaitu kota Bandung, Surabaya, dan Jakarta Pusat). Kemudian tiga kota Langit Biru terbaik kategori kota besar, yaitu Yogyakarta, Tangerang Selatan dan Denpasar. Dan tiga kota Langit Biru kategori kota sedang/kecil, yaitu Ambon, Bengkulu dan Banda Aceh.

“Tentu saja program Langit Biru ini menginisiasi upaya-upaya inovatif yang bertujuan untuk penurunan konsumsi bahan bakar minyak dan mengurangi emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan dari efek transportasi di perkotaan,” kata Menteri LHK Siti Nurbaya.

Karena itu, lanjut dia, kegiatan EKUP yang dilaksanakan dari 2007- 2008, 2011-2012, 2013-2014 dan 2015 ini menggunakan indikator serta sistem penilaian yang sudah ditetapkan. Seperti berupa pengisian formuir data kota, serta kegiatan fisik yang meliputi uji emisi ‘spotcheck’ kendaraan bermotor selama tiga hari terhadap 500 kendaraan pribadi per hari.

Kegiatan lainnya, kata Siti Nurbaya, dilakukan pemantauan kualitas udara jalan raya (roadside monitoring) dan pemghitungan kinerja lalu lintas (kecepatan lalu lintas dan kerapatan kendaraan di jalan raya) di tiap kota. “Selain itu dilakukan pemantauan kualitas bahan bakar di SPBU. Karena kualitas bahan bakar ini sangat berpengaruh terhadap emisi yang dihasilkan. Semakin baik kualitas bahan bakar, maka semakin sedikit pula emisi berbahaya yang dikeluarkan dari proses pembakarannya,” paparnya.

Dari pengukuran Indeks Kualitas Udara (IKU) hasil sementara dari pengolahan data, jelas dia, adalah sebesar 83.53 untuk nasional. Hasil perhitungan IKU sementara ini telah menggunakan data hasil pemantauan tahap 1, yaitu pemantauan udara ambien dengan metode passive sampler di 138 kota/kabupaten dari 27 provinsi.

“Untuk Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, kami menetapkan kinerja lingkungan hidup diukur dengan menggunakan Indikator Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) sampai akhir 2019 targetnya sebesar 66.5-68.5,” ungkap Siti Nurbaya. “IKLH tersebut terdiri dari Indeks Kualitas Air (IKA), Indeks Kualitas Udara (IKU) dan Indeks Tutupan Lahan (ITL),” lanjutnya.

Menteri LHK Siti Nurbaya menyampaikan penghargaan kepada para walikota/bupati yang dinilai berhasil mengendalikan lingkungan atas pencemaran udara di wilayahnya. Sehingga kota-kota yang memiliki lingkungan baik dan udara yang bersih, pantas disebut sebagai Kota Berlangit Biru. (Arief Rahman Media)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.