Bandara Buntu Kuni bisa Dongkrak Kunjungan Turis ke Tana Toraja

0
1305

TANA TORAJA, test.test.bisniswisata.co.id: Tana Toraja memang kaya dengan berbagai obyek wisata, sayangnya tingkat kunjungan wisatawan ke Tana Toraja masih sangat rendah. Untuk mendongkrak grafik kunjungan wisatawan, kini pemerintah Sulawesi Selatan (Sulsel) membangun Bandar Udara (Bandara) Perintis Buntu Kuni di Kecamatan Mangkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulsel.

“Destinasi Toraja semakin berkembang pesat, jika bandara Buntu Kuni sudah rampung. Selama ini animo wisatawan mancanegara berkunjung ke Toraja sangat besar, hanya sulitnya akses lewat udara, mereka terpaksa berpaling ke daerah tujuan wisata lain,” ungkap Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo

Diharapkan, pekerjaan pembangunan Bandara Perintis Buntu Kuni ini, dapat dipercepat karena bandara ini sangat terkait dengan perencanaan pengembangan industri pariwisata di Sulsel, khususnya Tana Toraja. “Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sulsel masih sangat rendah, padahal Toraja dengan andalan wisata budaya menjadi impian wisatawan,” lontarnya.

Syahrul pernah merintis pengembangan pariwisata yang berakses dari Bali ke Toraja, bahkan menandatangani naskah kesepakatan dan perjanjian kerja sama kebudayaan dan pariwisata dengan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, di Denpasar.

Saat itu, Made mengatakan, Bali siap menjadi lokomotif yang akan menarik gerbong kepariwisataan Sulsel dan daerah lainnya.
Wisatawan umumnya mengeluh untuk berkunjung ke Toraja sebab dari Bali mereka harus ke Bandara Sultan Hasanuddin, lalu menempuh perjalanan darat yang melelahkan sejauh lebih 320 kilometer.

“Kuncinya adalah bandara, harus segera diselesaikan, paling tidak, tersedia bandara yang dapat didarati pesawat boeing sehingga wisatawan dari Bali bisa lanjut ke Toraja,” katanya.

Bandara Buntu Kuni dirintis sejak 2010. Pemerintah pusat mendanai bandara tersebut sedangkan pembebasan lahannya oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Tana Toraja. Panitia sembilan dibentuk Pemda. Mereka bertanggung jawab melakukan pembebasan lahan dan land clearing sejak 2011 dengan sumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tana Toraja.

“Proses pembebasan lahan itu menyisakan masalah hukum karena beberapa pejabat yang tergabung dalam tim sembilan tersandung kasus korupsi hingga sempat menghambat proses pembebasan lahan,” paparnya seperti dilansir laman beritasatu, Senin (30/3/2015).

Kepala Bandara Toraja Alex mengatakan, lokasi Buntu Kuni ini tidak seperti bandara lain. Topografinya agak rumit karena harus membelah gunung, menimbun dan meratakan untuk mendapatkan luasan lahan seperti yang direncanakan yaitu 141 hektare. ****

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.