Bandara Djalaluddin Gorontalo Krisis Listrik

0
922

GORONTALO, test.test.bisniswisata.co.id: Menyedihkan memang. Bandar Udara Djalaluddin Gorontalo mengalami krisis listrik. Pasokan listrik tak mencukupi untuk operasional Bandara sebagai pintu masuk wisatawan maupun bisnisman dalam beraktivitas di Gonrontalo. Untuk mengatasi listrik, pihak Bandara tengah merintis penggunaan pembangkit listrik tenaga magnet. Sayangnya, pembangkit ini mulai bisa dipakai pada 2018.

Kepala Bandara Djalaluddin Asri Santosa mengatakan tujuan dikembangkan teknologi tersebut karena terbatasnya pasokan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) di wilayah tersebut. “Konsep Bandara Gorontalo Djalaluddin ini kami kembangkan sebagai Bandara ‘eco energy’ dan ini yang pertama di Indonesia memanfaatkan magnet untuk pembangkit listriknya,” katanya seperti dilansir dari Antara, Rabu (20/4).

Asri menyebutkan dengan adanya pembangkit listrik tenaga magnet tersebut bisa menghemat sekitar Rp 19 miliar selama 15 tahun. Dia menjelaskan dalam satu tahun biaya yang dialokasikan untuk listrik di terminal lama, yakni sekitar Rp 1,5 miliar.

Sementara itu, Asri menyebutkan dengan investasi sekitar Rp 3,5 miliar untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga magnet bisa digunakan untuk pemakaian hingga 15 tahun. “Pembangkit ini ‘self-generate’ atau membangkitkan sendiri, harus di-charge setiap 15 jam sekali,” kata pria lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Asri mengatakan teknologi tersebut juga pernah dia kembangkan sebelumnya di Bandara Mopah Merauke ketika menjadi Kepala Bandara di sana.

Dari PLN sendiri, lanjut dia, listrik yang disediakan sebesar 1.200 kVA (kilovolt ampere), sementara dari pembangkit listrik tenaga magnet mampu menghasilkan 500 kVA. “Listrik dari tenaga magnet ini hanya digunakan di luar untuk keselamatan dan keamanan bandara, seperti untuk televisi atau pendingin ruangan,” katanya.

Penghematan tersebut, dia mengatakan, bisa dialokasikan untuk menambah penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Bandara Djalaluddin Gorontalo yang ditargetkan bisa mencapai Rp 7,6 miliar dari realisasi tahun 2015 Rp 6,54 miliar.

Selain listrik, Asri mengatakan pihaknya juga akan memasang sistem pompa air atau “water pumping sistem” untuk memasok 11.000 liter kebutuhan air bersih. Saat ini, dia menyebutkan air yang didatangkan dari PDAM hanya dua tangki.

Bandara Djalaluddin disebut masih kekurangan air bersih untuk penumpang dan sistem tersebut memanfaatkan air sungai, terutama ketika musim hujan yang luapannya bisa sampai ke landasan pacu. (*/a)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.