ASPPI optimis bebas visa bisa dongkrak jumlah kunjungan wisman

0
722

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Upaya menggenjot perolehan devisa negara dari sektor pariwisata, pemerintah mengeluarkan kebijakan dengan memberikan bebas visa kepada 92 negara. Kebijakan ini diharapkan bisa mendongkrak jumlah kunjungan wisman ke Indonesia, sehingga dalam lima tahun mendatang, pendapatan industri pariwisata meningkat dari Rp 140 triliun menjadi Rp 280 triliun.

“Sebelumnya ada sekitar 30 negara, di luar 15 negara ASEAN, yang memperoleh fasilitas bebas visa. Kemudian ada penambahan bebas visa kepada 47 negara mulai Oktober 2015 nanti, sehingga total ada 92 negara yang bisa masuk ke Indonesia tanpa perlu dokumen visa,” kata Bahriyansyah, Ketua Umum Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI).

ASPPI optmis, lanjut dia, pemberian bebas visa kepada 92 negara itu akan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisman. Karena dari hasil evaluasi pemberian bebas visa tahap pertama pada Juli-Agustus lalu, menunjukkan ada kenaikan 15 persen dibanding sebelumnya yang hanya rata-rata 4 persen.

Dia menilai kebijakan bebas visa ini merupakan momentum yang baik bagi pelaku usaha wisata anggota ASPPI untuk menjaring wisman sebanyak mungkin. Apalagi banyak obyek wisata daerah seperti Raja Ampat, Wakatobi, Bunaken, Tanjung Puting, dan obyek daerah lainnya yang belum maksimal dipromosikan. “Selama ini hanya destinasi Bali saja yang dikenal wisman. Obyek wisata daerah lain belum banyak dipromosikan,” ujarnya.

Bahriyansyah,Ketua Umum Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI).
Bahriyansyah,Ketua Umum Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI).

Guna mendongkrak perolehan devisa negara dari sektor pariwisata, Bahriyansyah dengan anggota ASPPI yang beranggotakan 6.000 lebih, siap mempromosikan obyek wisata di berbagai daerah. Mulai dari kegiatan penyelenggaraan travel mart untuk mempertemukan buyers dan sellers, menjual paket wisata melalui media sosial, chatting group, hingga menjual jasa hotel dan tiket maskapai penerbangan.

“Semua kegiatan yang dipelopori ASPPI itu menjadi penunjang sebuah industri pariwisata. Sehingga peran ASPPI di berbagai daerah yang dijuluki tourism soldier, bisa menjadi mitra yang efektif. Apalagi pelaku wisata ini juga sebagai stakeholder,” tegasnya.

Tetapi pemberian bebas visa ini, menurut Bahriyansyah, harus didukung dengan peningkatan infrastruktur. “Tidak cukup hanya standar pelayanan di hotel saja harus nyaman, saat jumlah kunjungan wisman meningkat. Tetapi yang lebih penting menghapus semua hambatan perjalanan wisman saat tiba di bandara, sampai menuju lokasi wisata. Karena selama ini yang dikeluhkan wisman, masih adanya pelayanan buruk di bandara.”

Dia menjelaskan ASPPI berharap pemerintah dapat menghapus semua hambatan itu guna memperlancar pelaksanaan pemberian bebas visa tersebut. “Kebijakan pemberian bebas visa tak ada artinya jika tidak didukung peningkatan kualitas pelayanan birokrasi,” cetus Bahriyansyah. “Selain itu, kurangnya promosi destinasi wisata daerah lain, perlu mendapat perhatian serius. Selama ini wisman hanya mengenal Bali, padahal masih banyak destinasi wisata daerah lain yang tak kalah potensialnya,” lanjut dia.(Arief Rahman Media)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.