ASITA Gerah Praktik BPW Asing Ilegal Kian Marak

0
655

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia atau Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita) gerah, geregetan bahkan mengeluh lantaran banyaknya praktik biro perjalanan wisata (BPW) asing ilegal masuk Indonesia, terutama beroperasi di Bali. BPW ilegal itu menjual paket dengan harga yang sangat murah, sehingga merusak pasar Indonesia.

Selain itu, keberadaan BPW ilegal menyebabkan length of stay atau lama tinggal wisatawan di Indonesia semakin berkurang. “tahun 2015 lama tinggal wisatawan bisa mencapai 3,9 hari kini turun menjadi 3,1 hari. Ini jelas merugikan pendatan dan pariwisata Indonesia,” papar Ketua DPP Asita Asnawi Bahar dalam jumpa pers “46th Anniversary & Asita Awards” di kantor Kementerian Pariwisata Jakarta, Senin (9/1/2017) malam.

Dijelaskan Biro perjalanan wisata asing ilegal (mayoritas wisatawan dari Tiongkok) ini mencari konsumen di negara asalnya melalui jejaring atau media online. Kemudian membawa ke tempat wisata di Indonesia. Mereka memiliki jaringan sendiri, seperti ada hotel, toko souvenir, transportasi hingga restoran.

“Kebanyakan biro perjalanan asing ilegal ini, tidak mentaati peraturan wisata di Indonesia dengan memberikan paket wisata murah. Juga merugikan Biwo perjalanan wisata Indonesia, terutama daerah karena pasarnya sudah tergerus. Keluhan ini sudah saya sampaikan ke pejabat daerah hingga pusat, namun kondisinya masih seperti ini hingga saat ini,” ungkapnya.

Lebih parah lagi, sambung dia, banyak wisman yang dibawa oleh biro perjalanan asing ilegal tidak membawa kembali para wisatawannya. Sehingga, wisatawan itu akhirnya bekerja di Indonesia yang kini semakin marak pekerja asing ilegal. Nah ini dibutuhkan pengawasan yang lebih ketat oleh imigrasi,” sarannya.

Selain pengetatan, juga harus ada tindakan tegas dengan ganti rugi yang memberatkan. “Di Arab Saudi, jika wisatawan tidak kembali ke negara asalnya setelah berwisata maka akan didenda 250 dollar AS per kepala. Nah kita bisa melakukan itu, dengan menjatuhkan denda yang lebih berat sehingga membuat wisatawan jera,” lontarnya sambil menambahkan sekarang ini yang dibutuhkan penegakkan hukum terhadap biro perjalanan asing ilegal.

Menurutnya agar tidak kalah dengan agen wisata asing ilegal, ASITA selalu berinovasi memberikan produk paket baru dalam perjalanannya. Karena dalam kenyataannya, agen ilegal memberi paket murah namun menimbulkan masalah dalam sektor wisata. “Semakin sulit membedakan antara yang legal dan yang illegal. Namun keberadaan ASITA tentu dapat menjadi pembeda di antara keduanya,” kata Asnawi.

Dan untuk menghadapi biro perjalanan wisata asing ilegal, ASITA membentuk kelompok kerja untuk merespon kondisi itu dan meminta diberi kewenangan khusus agar bisa men-“sweeping” para pelaku biro perjalanan ilegal tersebut. “Kami ingin mendapatkan kewenangan untuk bisa men-‘sweeping’ mereka,” tegasnya. (endy)

Dalam acara peringatan Hari Ulang Tahun Asita kali ini, Asnawi menegaskan, ingin merekatkan Asita dengan masyarakat serta antara pengurus, maupun anggota Asita yang berjumlah lebih dari 7.000 perusahaan dan tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. “Saat ini zaman telah jauh berbeda, dunia teknologi informasi telah bergeliat seakan tiada henti,” katanya.

Sejumlah kegiatan menyambut HUT Asita ke-46 antara lain bakti sosial, seremoni, gathering serta tabur bunga ke makam tokoh/pejuang pariwisata di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta pada 7 Januari 2017. Berbagai kegiatan memperingati HUT ASITA ke-46 dipusatkan di Jakarta dan Pulau Samosir, Sumatera Utara, sedangkan kegiatan sosial serupa juga dilakukan oleh masing-masing Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asita yang tersebar di 34 provinsi. Juga memberikan penghargaan khusus bagi mantan pengurus ASITA

Ia berharap kehadiran Asita mampu memantapkan perannya sebagai mitra pemerintah dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Indonesia. Salah satu cara yang dilakukan yakni meningkatkan kapasitas anggota sehingga tetap dibutuhkan oleh masyarakat untuk menjawab kebutuhan dan tantangan dalam pengembangan kepariwisataan. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here