Ary Ginanjar Agustian: Belajar dari keteladanan Sultan Muhammad Al Fatih bagi kebangkitan Islam

0
2076

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Umat Islam di Indonesia bahkan di dunia dapat meneladani kepemimpinan Sultan Muhammad Al Fatih, sultan ke-7 Turki Utsmani dalam mewujudkan visi dan misinya untuk kebangkitan Islam, kata Ary Ginanjar Agustian, hari ini.

Motivator dan pendri ESQ Leadearship Training Center yang tengah berada di Turki ini mengatakan Sultan Muhammad Al Fatih pada 29 Mei 1435 H berhasil menaklukan Contantinopel, wilayah kekuasaan Romawi Timur. Kota yang hari ini dikenal dengan nama Istambul, Turki, dulunya berada di bawah kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Ortodoks. Tahun 857 H / 1453 M, kota dengan benteng legendaris tak tertembus ini akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad Al-Fatih.

“Syech Syamsuddin adalah Guru Al Fatih yang menanamkan keyakinan kepada Al Fatih sebuah basyarah, sebuah petunjuk dan janji Allah bahwa Al Fatih adalah orang yang dijelaskan dalam hadist Nabi sebagai penakluk Constantinopel,” ungkap Ary Ginanjar Agustian melalui whatsApp.

Constantinopel merupakan salah satu kota terbesar dan terkuat di dunia saat itu yang dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus yaitu Selat Bosphorus, Laut Marmarah dan Tanduk Mas (Golden Horn) yang dijaga dengan rantai yang sangat besar dan tidak memungkinkan untuk masuknya kapal musuh ke dalamnya.

Meski sempat diragukan kemampuannya oleh orang-orang kepercayaannya sendiri, strategi Al Fatih yang secara psikologis dan taktis memindahkan 72 kapal laut menaiki bukit Galata dan langsung masuk ke Selat Golden Horn dalam semalam membuat musuh menjadi kelelahan dan sibuk memperbaiki benteng.

Pada tanggal 29 Mei 1453 pasukan Al Fatih berhasil masuk dan berakhirlah kekuasaan Romawi Timur di Constantinopel. Esoknya 30 Mei 1453 sholat jumat pertama di gelar di Hagia Sophia, gereja yang dirubah menjadi mesjid dan nama Constantinopel di rubah menjadi Istanbul atau kota Islam. Pada usia 49 tahun Sultan Muhammad (Mehmet) Al Fatih wafat di tengah usahanya menaklukan Romawi Barat di Roma.

Menurut Ary Ginanjar, ada dua syarat yang harus dimiliki sebagai sang penakluk yaitu sebaik-baiknya pemimpin juga sebaik-baiknya pasukan. Sultan Muhammad Al Fatih mengerahkan sedikitnya 250.000 pasukan, 7000 diantaranya pasukan khusus Yeniseri untuk menaklukan kota Constantinople. Sang pemimpin sangat soleh dan taqwa, bermunajat selalu kepada Allah, sholat tahajud tidak pernah putus dan selalu ingin berbakti kepada Allah.

Sementara pasukannya juga tidak pernah meninggalkan shalat 5 waktu meski dalam arena peperangan serta selalu mendalami agama. Keteladanan Al Fatih itulah yang seharusnya menjadi pemicu bagi umat Islam di Indonesia maupun di dunia untuk kebangkitan Islam. “Apalagi Sudah lama Islam terpisah dengan Ihsan, sehingga banyak orang yang mengaku Islam tapi perilakunya tidak mencerminkan keindahan-“Islam”-nya”.

Islam sesungguhnya begitu indah, namun yang terlihat saat ini justru sebaliknya. Bukan hanya terpisah dengan Ihsan, Islam pun seakan terpisah juga dari Iman. Ramai sekarang orang mengatakan dirinya Islam, namun kenyataannya tak ada Iman di hatinya, atau kosong ! Sehingga Islam seolah hanya tinggal ritualnya saja,” tegasnya.

Seharusnya Ihsan (1), Rukun Iman (6) dan Rukun Islam (5) tidak boleh terpisahkan sepertinya tubuh-akal-hati. Sama halnya Ihsan, Iman dan Islam adalah satu kesatuan yang saling melengkapi untuk menjadikannya sebuah kekuatan yang hebat ! Saat ini umat Islam begitu ramai, namun nampak seperti buih di lautan…

“Saya yakin dan percaya ketika tiga unsur ini disatukan suatu saat kelak akan lahir kekuatan besar yang mampu membawa ummat ini kembali pada masa kejayaannya,” kata Ary yang tengah napak tilas jejak Rasul dan menghadiri rangkaian seminar dan diskusi yang diselenggarakan oleh Gema Ilmiah Ankara.

Kegiatan untuk memperingati milad ke 3 kelompok diskusi mahasiswa Indonesia di Turki berlangsung 10 Febuari 2015 di Turgut Ozal University, Ankara,  mulai jam 9.00 hingga 17.00 waktu setempat bertajuk Inspiranation, sebuah pesta inspirasi dengan nara sumber utama Ary Ginanjar Agustian.

Ary yang sudah berada di Turki pekan lalu mengatakan ESQ 165 yang dipimpinnya memiliki Visi Indonesia Emas 2020 dimana pada saat itu bangsa Indonesia sudah terlepas dari krisis moral dan seluruh komponen bangsa berhati emas dengan mengaplikasikan tujuh nilai dasar yaitu jujur, bertanggungjawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil dan peduli.

“7 Dasar Budi utama yang harus dimiliki kita sebagai manusia harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbangsa dan bernegara karena yang kita tuju adalah kejayaan secara moral dan spiritual bukan hanya kejayaan secara ekonomi,”

ESQ juga memiliki misi mewujudkan Indonesia Sejahtera 2030 dan Indonesia Adidaya 2045. Dengan mewujudkan Indonesia Emas terlebih dulu diharapkan masyarakat Indonesia memiliki karakter yang mulia, karakter yang tangguh dan membuat Indonesia menjadi sejahtera. (hildasabri@yahoo.com)

 

 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.